Ini Sebab Sampah Kosmetik Susah Didaur Ulang

10 hours ago 10

Juru Kampanye Urban dan Kebijakan Tata Ruang Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Nasional, Wahyu Eka Styawan, mengatakan daur ulang limbah produk kosmetik tak semudah sampah jenis lain. Mirip dengan industri farmasi, kemasan kosmetik cenderung dirancang menghindari kontaminasi, sehingga tidak menimbulkan efek keracunan atau dampak turunan lainnya.

“Kompleksitasnya berkaitan dengan standar kualitas kemasan yang memiliki tingkatan tertentu, sementara teknologi daur ulang yang mampu menangani hal ini di masih terbatas dan berbiaya tinggi di Indonesia,” ucapnya kepada Tempo, Selasa, 14 April 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Peran produsen dalam desain produk juga sangat menentukan besaran timbulan sampah dari industri kosmetik. “Perubahan perilaku hanya akan mengurangi penggunaan, sementara pembelian akan terus, karena dasarnya adalah kebutuhan,” ujarnya. Konsumsi, menurut dia, juga dipengaruhi tren dan gaya hidup, termasuk penawaran produk, klaim kebutuhan, serta peran iklan dalam mendorong permintaan.

Mengutip laporan Premium Tempo: Mengapa Limbah Kosmetik Sulit Didaur Ulang, sebuah studi pada 2025 mengungkapkan bahwa dunia kosmetik menghasilkan sekitar 120 miliar unit kemasan setiap tahun. Dari jumlah itu, hanya 14 persen sampah plastik yang terkumpul untuk didaur ulang, mencakup 9 persen yang bisa diolah menjadi material baru. Sejak 2015, total limbah plastik global telah mencapai 6,9 miliar ton, sudah mencakup jumlah signifikan dari industri kosmetik.

Material kemasan yang kompleks merupakan salah satu penyebab utama rumitnya daur ulang sampah kosmetik. Mayoritas produk tata rias menggunakan plastik sintetis non-biodegradable alias tak dapat terurai secara alami dan bisa bertahan ratusan tahun, seperti Acrylonitrile Butadiene Styrene (ABS) yang berbasis petrokimia, serta kopolimer Styrene Acrylonitrile. Kedua material ini tidak umum diterima dalam sistem daur ulang karena struktur kimianya yang kompleks dan pelabelannya yang sering konsisten. Sebagian besar sampah ini bertumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA) atau dibakar di insinerator.

Daur ulang sampah kosmetik juga terganjal desain kemasannya. Banyak kemasan produk tata rias berdesain multilayer (berlapis) dengan campuran berbagai material seperti plastik, kaca, logam, dan silikon. Satu botol pompa, salah satu contoh yang disebut dalam studi From Production to Pollution, terdiri dari lima jenis material berbeda, termasuk pegas logam dan segel silikon. Walhasil, kemasan harus dibongkar secara manual sebelum didaur ulang—proses yang tak lazim diterapkan konsumen maupun fasilitas pengolahan limbah. Karena kondisi ini, lebih dari 95 persen kemasan kosmetik dibuang setelah digunakan.

Menurut Wahyu, kampanye sustainable packaging juga berdampak relatif kecil karena umumnya hanya mengubah bagian luar kemasan. Penggunaan material seperti kertas, kata dia, memiliki persoalan tersendiri, karena berpotensi meningkatkan permintaan yang berdampak pada deforestasi dan perubahan penggunaan lahan. “Tapi limbahnya tetap saja dibuat di TPA,” ucapnya.

WAKIL Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jakarta, Dudi Gardesi Asikin, mengatakan skema sustainable packaging diharapkan mendorong perubahan sistemik dalam pengelolaan sampah. “Efektivitasnya sangat bergantung pada konsistensi implementasi di tingkat produsen,” ucapnya kepada Tempo.

Bila tidak maksimal, Dudi meneruskan, dorongan sustainable packaging berpotensi hanya menjadi perubahan di tingkat material, bahkan berisiko memindahkan beban pengelolaan ke tahap hilir. “Perlu komitmen yang lebih kuat dari produsen untuk tidak hanya mengganti material, tetapi juga mengurangi, mendesain ulang, serta menarik kembali kemasan yang dihasilkan.”

Data DLH sejauh ini menunjukkan total sampah yang masuk ke tempat pemrosesan akhir di Jakarta mencapai sekitar 7.000-8.000 ton per hari. Angka itu masih agregat yang belum dirinci berdasarkan jenis sampah, termasuk sampah kosmetik.

Sebanyak 22 persen sampah Jakarta merupakan sampah plastik. Jenis plastik pun beragam, mulai dari Polyethylene Terephthalat (PET) yang dapat didaur ulang hingga kantong plastik yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar refuse-derived fuel (RDF).

Defara Dhanya berkontribusi dalam penulisan artikel ini
Read Entire Article
Parenting |