CANTIKA.COM, Jakarta - Enam belas perempuan muda dari berbagai daerah di Indonesia mendapat kesempatan untuk belajar langsung dari para pemimpin perempuan melalui program CEO for a Day Indonesia: Women Shaping Tomorrow. Program yang digagas oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Indonesia bersama AmCham Indonesia Women Network dan UN Global Compact Network Indonesia (IGCN) ini ditutup melalui sebuah forum kepemimpinan yang sekaligus memperingati International Youth Day
Forum tersebut menjadi ruang untuk merayakan perjalanan para peserta sekaligus memperkuat komitmen antara PBB, dunia usaha, dan jaringan bisnis dalam mendorong lebih banyak perempuan muda mengambil peran di dunia kepemimpinan.
Upaya ini dinilai penting mengingat keterwakilan perempuan dalam posisi strategis dan pengambilan keputusan di berbagai sektor masih menghadapi tantangan. Karena itu, perempuan muda perlu mendapatkan akses terhadap pengalaman, mentoring, jejaring, serta lingkungan yang dapat membantu mereka membangun kepercayaan diri dan kemampuan kepemimpinan.
Kepala Perwakilan PBB di Indonesia, Gita Sabharwal, mengatakan pemberdayaan generasi muda, khususnya perempuan, merupakan bagian penting dari upaya mendorong inklusivitas, kesetaraan, dan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
"Perjalanan seorang pemimpin selalu dimulai dari sebuah proses. Melalui kesempatan untuk belajar langsung dari para pemimpin perempuan, generasi muda diharapkan dapat memperoleh perspektif dan pengalaman yang membantu mereka menciptakan perubahan positif bagi masyarakat," ucap Gita.
Ruang Belajar Lintas Generasi bagi Perempuan Muda
Salah satu mentor yang terlibat dalam program ini adalah Elim Sritaba, Wakil Ketua Umum Bidang dan Tata Kelola Berkelanjutan, yang melihat mentoring sebagai kesempatan untuk saling belajar.
Bagi Elim, memiliki mentor maupun lingkungan yang mendukung menjadi salah satu faktor penting bagi perempuan ketika ingin mengejar cita-cita dan keluar dari zona nyaman. Menurutnya, perempuan, khususnya di Indonesia dan Asia Tenggara, terkadang masih menghadapi keraguan terhadap kemampuan diri sendiri ketika dihadapkan pada tantangan baru.
“Pada saat kita keluar dari comfort zone, kita sering bertanya, apakah saya mampu? Di saat itu kita perlu support system yang meyakinkan bahwa kamu pasti bisa,” ujar Elim.
Melalui program ini, Elim dapat berbagi pengalaman dengan mengenai berbagai situasi yang pernah ia hadapi dalam perjalanan karier, termasuk bagaimana melewati tantangan dan membangun keyakinan terhadap kemampuan diri.
Menurutnya, proses mentoring bukan hubungan satu arah. Ia justru menikmati kesempatan untuk melihat bagaimana anak muda berpikir dan memahami perspektif mereka terhadap dunia saat ini. “Saya juga belajar bagaimana anak-anak sekarang cara berpikir. Jadi bagi saya tidak perlu melihat usia,” katanya.
Juliana Cen, Managing Director HP Indonesia, Dwi Faiz Yulianti, Head of Programme UN Women Indonesia, dan Nurmaria Sarosa, Founder PT Selaras Logistik Indonesia, berfoto bersama para peserta yang mengikuti kegiatan shadowing bersama mereka dalam program CEO for a Day Indonesia: Women Shaping Tomorrow/Foto: Doc. UN
Ketertarikannya terhadap proses berbagi pengetahuan bahkan telah tumbuh sejak kecil. Elim mengaku senang mengajarkan dan membagikan hal-hal baru kepada orang lain. Kebiasaan tersebut juga ia terapkan kepada timnya.
“Bagi saya, dengan sharing kita malah semakin paham. Saya akan senang kalau orang lain juga mengetahui sesuatu yang baru,” ujarnya.
Salah satu pengalaman yang berkesan baginya adalah ketika bertemu dengan mentee yang merupakan bagian dari generasi pertama di keluarganya yang menempuh pendidikan tinggi. Pengalaman tersebut kemudian membuka pembicaraan mengenai keberanian generasi muda untuk menjadi “first generation” dalam melakukan sesuatu yang baru dan berani keluar dari batasan yang selama ini mereka kenal
Sebanyak 16 peserta terpilih melalui proses seleksi berdasarkan potensi kepemimpinan, motivasi, serta komitmen mereka terhadap berbagai isu sosial. Mereka kemudian dipasangkan dengan 15 CEO perempuan, eksekutif senior, dan pimpinan badan PBB.
Selama program berlangsung, para peserta berkesempatan mengikuti aktivitas kerja para mentor, menghadiri rapat, mengamati proses pengambilan keputusan, serta berdiskusi mengenai kepemimpinan, budaya organisasi, pengembangan karier, hingga tantangan yang dihadapi perempuan di dunia profesional.
Sejumlah organisasi turut terlibat dalam program ini, di antaranya AHANA, Bee Well Indonesia, AmCham Indonesia, HHP Law Firm, HP Indonesia, Dynapack Asia, Selaras Logistik Indonesia, Kiroyan Partners, APP Group, TBS Energi Utama, ILO Indonesia, UNESCO Indonesia, UNHCR Indonesia, UN Women Indonesia, serta Kantor Kepala Perwakilan PBB di Indonesia.
Managing Director AmCham Indonesia, Donna Priadi, menilai pengalaman langsung memiliki peran penting dalam membentuk seorang pemimpin. Menurutnya, kepemimpinan tidak cukup dipelajari melalui teori, tetapi juga membutuhkan keberanian untuk bertanya, rasa ingin tahu, serta kesempatan melihat bagaimana keputusan dan tanggung jawab dijalankan secara nyata.
Sementara itu, Presiden UN Global Compact Network Indonesia, Y. W. Junardy, menekankan bahwa sektor swasta memiliki peran besar dalam menciptakan generasi pemimpin perempuan berikutnya. Menurutnya, kesetaraan gender perlu diwujudkan melalui lingkungan kerja yang inklusif, jalur pengembangan kepemimpinan, mentoring, serta kesempatan yang setara bagi perempuan untuk berkembang.
Program CEO for a Day Indonesia sendiri diluncurkan pada Juni 2026 dan ditujukan bagi perempuan muda berusia 18–25 tahun yang aktif berkontribusi terhadap SDGs. Latar belakang kontribusi peserta beragam, mulai dari kegiatan sukarelawan, pendidikan, aksi iklim, kewirausahaan, advokasi, inovasi, hingga pengembangan komunitas.
ECKA PRAMITA
Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.


















































