WAKIL Ketua MPR dari Fraksi PAN Eddy Soeparno mengatakan kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir atau TPA Jatiwaringin menunjukkan sistem pengelolaan sampah dengan penimbunan tidak bisa lagi diterapkan. Pengelolaan sampah nasional mesti dilaksanakan melalui mekanisme pengolahan sampah menjadi energi atau Waste-to-Energy (WTE).
"Kebakaran TPA Jatiwaringin menjadi alarm bahwa kapasitas pengelolaan sampah sudah berada di titik yang membutuhkan perubahan mendasar," ujar dia dalam keterangan tertulis, Ahad 5 Juli 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Eddy mengatakan Indonesia selama ini menghasilkan 56 juta ton sampah setiap tahun. Dari jumlah itu, sebagian besar berakhir di TPA.
Kondisi tersebut, kata dia, meningkatkan risiko kebakaran akibat akumulasi gas metana. Pun memperbesar pencemaran lingkungan dan menyia-nyiakan potensi ekonomi yang terkandung di dalam sampah.
Karena itu, dia meminta percepatan pembangunan fasilitas WTE di berbagai daerah. Bagi dia, langkah itu mampu mengurangi volume sampah yang masuk ke TPA dan menghasilkan energi listrik.
"Bentuk nyata ekonomi sirkular yang memberikan nilai tambah dari sesuatu yang selama ini dianggap sebagai limbah," kata dia.
Menurut dia, teknologi WTE sudah diterapkan di berbagai negara maju dengan standar lingkungan yang ketat. MPR, kata dia, akan mengawal seluruh proses pembangunan dan operasionalnya agar memenuhi ketentuan lingkungan hidup, menggunakan teknologi terbaik yang tersedia, serta dilakukan secara transparan.
Sebelumnya, kebakaran terjadi di TPA Jatiwaringin, Kabupaten Tangerang pada Selasa, 30 Juni 2026. Sampai Minggu, 5 Juli 2026, api belum kunjung padam.
Dalam keterangan resminya, Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menduga kebakaran dipicu kondisi cuaca panas yang menyebabkan munculnya titik api pada timbunan sampah dan kemudian menjalar. Namun, dugaan pasti akan diselidiki usai penanganan selesai. "Penyebab pasti akan diselidiki setelah kondisi darurat berhasil dikendalikan," dalam pernyataannya.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari mengatakan 15 hektar luas TPA Jatiwaringin mengalami kebakaran. Sebesar 40 persen dari luas itu sudah dipadamkan dan dilakukan pendinginan. Upaya pemadaman dilakukan melalui jalur darat maupun jalur udara. "Masih dilakukan untuk 60 persen daerah terbakar yang masih belum padam meski sudah bisa dikendalikan," kata dia dalam keterangan tertulis, Minggu, 5 Juli 2026.
Kata Abdul, sebanyak 231 orang mengungsi. Mereka mengungsi untuk menghindari dampak buruk dari asap kebakaran. Pemerintah memberi bantuan logistik berupa kasur untuk pengungsi. Ada juga tim layanan kesehatan yang berjaga 24 jam.

















































