Kecerdasan Emosional Bisa Dilatih! Begini Cara Membantu Anak Mengelola Perasaannya

1 day ago 3

Fimela.com, Jakarta Di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, kemampuan akademik bukan lagi satu-satunya faktor penentu kesuksesan seseorang. Riset menunjukkan bahwa kecerdasan emosional memiliki dampak besar terhadap hubungan sosial, kemampuan menyelesaikan masalah, hingga keberhasilan dalam karier di masa depan.

Sayangnya, banyak orang tua masih lebih fokus pada prestasi akademik anak dibandingkan dengan mengajarkan keterampilan mengelola emosi.

Kecerdasan emosional tidak datang begitu saja, melainkan harus dilatih sejak dini. Anak-anak yang tidak terbiasa mengenali dan mengatur emosinya cenderung lebih mudah stres, sulit beradaptasi dalam lingkungan sosial, dan bahkan berisiko mengalami gangguan mental saat dewasa. Sebaliknya, anak yang memiliki kecerdasan emosional tinggi mampu menghadapi tantangan dengan lebih tenang, memiliki empati terhadap orang lain, serta lebih percaya diri dalam mengekspresikan perasaannya.

Lalu, bagaimana cara membangun kecerdasan emosional pada anak? Dilansir dari parents.com, ada beberapa strategi yang bisa diterapkan untuk membantu anak mengenali, memahami, dan mengelola emosinya dengan baik.  

Orangtua sebagai Contoh Utama dalam Mengelola Emosi

Anak adalah peniru ulung. Cara terbaik untuk mengajarkan kecerdasan emosional adalah dengan menunjukkan bagaimana mengelola emosi dalam kehidupan sehari-hari. Jika ingin anak tumbuh menjadi pribadi yang tenang dalam menghadapi masalah, orang tua perlu menunjukkan bagaimana mengatasi stres dengan cara yang sehat.

Misalnya, saat merasa lelah setelah bekerja, hindari menunjukkan reaksi yang berlebihan seperti membentak atau mengabaikan anak. Sebaliknya, katakan dengan jujur, "Ibu sedang lelah setelah bekerja seharian. Ibu akan duduk sebentar dan minum teh supaya lebih tenang, lalu kita bisa bermain bersama." Dengan begitu, anak akan belajar bahwa emosi bisa diungkapkan dengan kata-kata dan dikelola tanpa harus melampiaskannya dengan perilaku negatif.

Selain itu, penting untuk menghindari kalimat yang meremehkan perasaan anak, seperti "Jangan menangis!" atau "Sudah, lupakan saja!" Kalimat-kalimat seperti ini bisa membuat anak merasa bahwa emosinya tidak valid. Sebaliknya, tunjukkan empati dan bantu anak menamai emosinya, misalnya dengan mengatakan, "Sepertinya kamu sedih karena mainanmu rusak, ya? Tidak apa-apa merasa sedih. Kita bisa cari cara untuk memperbaikinya atau mencari mainan lain yang bisa dimainkan bersama."

Mengajarkan Anak untuk Mengenali dan Mengelola Emosi

Banyak anak mengalami kesulitan dalam mengekspresikan perasaannya, terutama jika mereka tidak terbiasa mengenali emosi yang muncul dalam diri mereka. Oleh karena itu, penting untuk melatih anak agar bisa memahami perasaannya sendiri dan menemukan cara sehat untuk mengekspresikannya.

Salah satu cara sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan mengenalkan berbagai jenis emosi melalui buku cerita, film, atau ekspresi wajah. Ketika menonton film bersama, tanyakan kepada anak, "Menurutmu, bagaimana perasaan tokoh ini? Kenapa dia merasa begitu?" Dengan cara ini, anak akan belajar untuk mengenali emosi dalam berbagai situasi dan memahami bahwa emosi memiliki penyebab yang berbeda-beda.

Selain mengenali emosi, anak juga perlu diajarkan cara mengelolanya. Salah satu teknik yang bisa diterapkan adalah latihan pernapasan. Ketika anak mulai menunjukkan tanda-tanda marah atau frustrasi, ajarkan mereka untuk menarik napas dalam-dalam dan menghitung hingga lima sebelum merespons. Teknik ini membantu anak mengendalikan impuls dan berpikir sebelum bereaksi.

Orang tua juga bisa mengajarkan metode cooling down, seperti berjalan-jalan sebentar, mendengarkan musik yang menenangkan, atau melakukan aktivitas favorit untuk mengalihkan emosi negatif. Dengan latihan yang konsisten, anak akan terbiasa mencari cara positif untuk menghadapi emosinya tanpa meledak-ledak.

Mengembangkan Rasa Empati dan Kemampuan Sosial

Selain mengenali dan mengelola emosi sendiri, kecerdasan emosional juga mencakup kemampuan memahami perasaan orang lain, atau yang dikenal dengan istilah empati. Anak-anak yang memiliki empati cenderung lebih mudah menjalin hubungan sosial yang baik, lebih peduli terhadap orang lain, dan lebih siap menghadapi berbagai situasi sosial.

Cara terbaik untuk mengembangkan empati adalah dengan melibatkan anak dalam diskusi mengenai perasaan orang lain. Misalnya, ketika anak melihat temannya menangis, ajukan pertanyaan seperti, "Menurutmu, kenapa dia menangis? Apa yang bisa kita lakukan untuk membuatnya merasa lebih baik?" Dengan cara ini, anak belajar untuk memahami bahwa setiap orang memiliki perasaan yang berbeda dan penting untuk memperlakukannya dengan baik.

Selain itu, membiasakan anak untuk membantu orang lain juga bisa meningkatkan rasa empati mereka. Ajak anak untuk melakukan kegiatan sosial sederhana, seperti berbagi makanan dengan tetangga, membantu teman yang kesulitan, atau menulis surat untuk seseorang yang sedang sedih. Hal-hal kecil ini dapat membangun kesadaran anak bahwa tindakan mereka memiliki dampak terhadap perasaan orang lain.

Sebagai tambahan, penting untuk mengajarkan anak bagaimana menghadapi konflik dengan cara yang sehat. Saat anak berselisih dengan teman, hindari langsung mengambil keputusan atau menyuruh mereka "berhenti bertengkar."

Sebaliknya, ajak anak untuk berbicara dan mencari solusi bersama. Misalnya, tanyakan, "Bagaimana perasaanmu saat temanmu mengambil mainanmu tanpa izin? Bagaimana menurutmu cara terbaik untuk menyelesaikan masalah ini?" Dengan begitu, anak akan belajar menyelesaikan konflik dengan komunikasi yang baik dan tanpa kekerasan.

Penulis: Rianti Fitri Wulandari

#UnlockingTheLimitless

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Read Entire Article
Parenting |