Perlukah Orangtua Terbuka Soal Keuangan ke Anak? Simak Pro dan Kontranya

6 days ago 15

Fimela.com, Jakarta Sahabat Fimela, berbicara soal keuangan sering kali dianggap sebagai topik yang tabu dalam keluarga khususnya bagi mayoritas masyarakat Indonesia. Banyak orang tua yang merasa bahwa anak-anak tidak perlu tahu tentang kondisi keuangan keluarga karena dianggap terlalu rumit atau ‘belum waktunya’ untuk memahami hal tersebut. Namun, di sisi lain, ada pula yang berpendapat bahwa sejak dini, anak perlu diajarkan tentang keuangan dalam keluarga agar lebih bijak dalam mengelola uang di masa depan.

Ketika anak mulai bertanya, “Mama, Papa punya uang berapa sih?” atau “Kenapa kita tidak bisa beli mainan yang aku mau?” banyak orang tua yang bingung harus menjawab seperti apa. Ada yang memilih untuk menghindari pertanyaan itu, ada juga yang mencoba memberikan jawaban seadanya. Padahal, kejujuran dan keterbukaan tentang kondisi keuangan bisa menjadi bagian dari pendidikan finansial yang berharga bagi anak.

Lantas, apakah memang perlu orang tua terbuka soal kondisi keuangan kepada anak? Yuk, simak pro dan kontranya sebelum menentukan sikap yang paling sesuai!

Pro: Mengajarkan Anak tentang Nilai Uang Sejak Dini

Salah satu alasan utama mengapa orang tua sebaiknya terbuka soal keuangan dalam keluarga yaitu supaya anak bisa belajar tentang nilai uang sejak kecil. Dengan memahami bahwa uang tidak datang begitu saja dan harus diusahakan, anak akan lebih menghargai usaha orang tua dalam mencari nafkah.

Lalu ketika anak sudah paham bahwa uang perlu dikelola dengan baik, mereka akan lebih bijak dalam membelanjakan uang sakunya dan tidak mudah meminta sesuatu yang sebenarnya tidak begitu dibutuhkan. Ini juga bisa membantu anak belajar menabung dan merencanakan keuangan sendiri di masa depan.

Pro: Membantu Anak Memahami Batasan Finansial Keluarga

Setiap keluarga memiliki kondisi keuangan yang berbeda-beda. Ada keluarga yang mampu memenuhi semua keinginan anak, tapi ada juga yang harus lebih selektif dalam mengelola pengeluaran. Dengan memberikan pemahaman tentang batasan keuangan keluarga, anak jadi tidak akan merasa iri atau membandingkan diri dengan teman-temannya yang mungkin memiliki lebih banyak fasilitas.

Oh iya, keterbukaan ini juga bisa membangun sikap empati pada anak, lho! Mereka akan lebih mengerti jika orang tua menolak untuk membelikan sesuatu bukan karena pelit, melainkan karena keterbatasan finansial dan masih ada prioritas lain yang harus diutamakan.

Kontra: Bisa Membebani Anak Secara Emosional

Meski transparansi keuangan memiliki manfaat, ada juga risiko yang perlu diperhatikan orang tua. Jika informasi yang diberikan terlalu detail atau disampaikan dengan cara yang kurang tepat, anak justru bisa merasa terbebani secara emosional.

Misalnya, jika orang tua mengatakan bahwa mereka sedang mengalami kesulitan keuangan dengan nada khawatir, anak bisa merasa cemas atau bahkan merasa bersalah saat ingin meminta sesuatu. Hal ini bisa membuat mereka takut untuk mengungkapkan kebutuhan atau keinginannya karena khawatir membebani keluarga.

Kontra: Anak Belum Siap Memahami Kompleksitas Keuangan

Tidak semua anak memiliki tingkat pemahaman yang sama tentang keuangan. Jika orang tua terlalu terbuka tanpa mempertimbangkan usia dan kesiapan anak, informasi tersebut justru bisa disalahartikan.

Misalnya, jika anak diberi tahu bahwa keluarga memiliki utang dalam jumlah besar, mereka mungkin akan panik dan berpikir bahwa kondisi keuangan keluarga sangat buruk, padahal sebenarnya masih bisa dikelola dengan baik. Oleh karena itu, penting untuk menyesuaikan cara penyampaian dengan usia dan kapasitas pemahaman anak.

Jadi, Haruskah Orang Tua Terbuka soal Keuangan kepada Anak?

End of discussion... keputusan untuk terbuka atau tidak soal keuangan kepada anak kembali pada nilai-nilai yang dianut Sahabat Fimela dalam keluarga. Jika ingin mengenalkan konsep keuangan sejak dini, orang tua bisa memulainya dengan cara yang sederhana, seperti menjelaskan pentingnya menabung atau memberi pemahaman tentang prioritas keuangan tanpa perlu membahas nominal secara detail.

Kuncinya adalah keseimbangan. Berikan informasi yang cukup agar anak bisa belajar tentang keuangan, tetapi tetap dengan batasan yang sesuai dengan usianya. Dengan begitu, anak tidak hanya menjadi lebih bijak dalam mengelola uang, tetapi juga tetap merasa aman dan tidak terbebani dengan urusan finansial keluarga.

Kalau menurut Sahabat Fimela, apakah keterbukaan soal keuangan keluarga kepada anak itu penting?

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

  • Anindya Rizky A
  • Ayu Puji Lestari
Read Entire Article
Parenting |