ARSITEK dan Urban Designer di KIND Architects Adjie Negara mengatakan setiap ruang yang dibangun tidak hanya menjadi tempat beraktivitas, tetapi juga menjadi fondasi bagi lingkungan hidup yang lebih sehat, aman, dan berkelanjutan bagi masyarakat. Salah satu yang perlu diwaspadai adalah timbal pada cat rumah. “Pesatnya pembangunan dan aktivitas renovasi turut menjadikan pemilihan material bangunan sebagai faktor yang semakin relevan dalam mendukung kesehatan jangka panjang, baik di rumah, kantor, sekolah, maupun fasilitas lain misalnya penitipan anak (daycare),” ujarnya dalam keterangan pers yang diterima Tempo pada pertengahan April 2026.
Penting untuk memilih dan menggunakan material yang bebas dari zat berbahaya seperti timbal, baik untuk dinding, lantai, pipa, maupun cat rumah. Ini krusial untuk menciptakan lingkungan yang dapat mendukung kesehatan dan keselamatan penggunanya, terutama anak-anak yang lebih rentan terhadap paparan zat berbahaya.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Adjie mengingatkan juga bahwa penting untuk melakukan perawatan dan inspeksi rutin pada bangunan maupun fasilitas publik. “Seiring waktu, akibat pengaruh dari faktor usia, cuaca, maupun intensitas penggunaan, kualitas material bangunan bisa mengalami penurunan. Misalnya, cat yang mengelupas atau rusak,” ujarnya.
Hal ini tidak bisa dianggap sepele, terlebih bila cat mengandung timbal. Lapisan cat yang mengandung timbal dapat terdegradasi seiring waktu dan menghasilkan debu yang berpotensi terhirup atau tertelan, terutama oleh kelompok rentan seperti ibu hamil atau anak-anak yang memiliki kebiasaan memasukkan tangan ke dalam mulut.
Pemantauan secara berkala memungkinkan kerusakan ditemukan secara dini, sehingga bisa segera dilakukan perbaikan, misalnya pengecatan ulang. “Tentu menggunakan material yang aman agar kualitas lingkungan tetap terjaga dan risiko paparan terhadap zat berbahaya dapat diminimalkan,” kata Adjie.
Arsitek dan pengembang kini semakin mengintegrasikan prinsip keberlanjutan, keamanan, dan kesejahteraan penghuni ke dalam strategi perancangan bangunan. “Pemilihan material bangunan yang sesuai standar dan aman mencerminkan tanggung jawab profesional sekaligus kepatuhan terhadap standar dan regulasi,” katanya.
Bahaya Timbal bagi Kesehatan
Laporan Surveilans Nasional menemukan bahwa 1 dari 7 anak di Indonesia memiliki kadar timbal dalam darah di atas 5 µg/dL, berdasarkan pemantauan di enam provinsi, yaitu Sumatra Selatan, Lampung, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Barat . Cat yang mengelupas merupakan salah satu faktor risiko paparan timbal di tingkat rumah tangga. “Cat sebenarnya tidak berbahaya. Namun, kadar timbal yang tinggi dapat meningkatkan risiko kesehatan jangka panjang,” ujar Ahli Kimia dan Guru Besar Departemen Kimia FMIPA Universitas Indonesia Yuni Krisyuningsih Krisnandi.
Timbal (lead) merupakan unsur logam yang secara alami terdapat di lingkungan maupun material yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. “Timbal dikenal sebagai salah satu logam berat yang penggunaannya cukup luas di berbagai sektor industri karena sifatnya yang stabil, mudah dibentuk, dan tahan terhadap korosi,” ujar Yuni.
Timbal bisa masuk ke tubuh secara tidak sengaja tertelan ataupun terhirup. Setelah itu, timbal akan diserap ke dalam aliran darah dan dapat terdistribusi ke berbagai organ, termasuk tulang, ginjal, dan sistem saraf. Paparan timbal, bahkan dalam kadar rendah, dapat merusak berbagai sistem organ tubuh .
“Pada anak, paparan timbal berdampak pada perkembangan otak, sehingga dapat menyebabkan penurunan kemampuan kognitif, prestasi belajar yang lebih rendah, berkurangnya rentang perhatian, serta gangguan perilaku,” kata Dokter Spesialis anak Reza Fahlevi.
Pada orang dewasa, paparan timbal dikaitkan dengan penyakit ginjal dan penyakit kardiovaskular, termasuk hipertensi dan penyakit jantung koroner . Sedangkan bagi ibu hamil, paparan timbal menjadi perhatian khusus karena dapat melintasi plasenta. “Hal ini bisa meningkatkan risiko keguguran, kelahiran prematur, hingga berat badan lahir rendah,” kata Reza.
Paparan timbal umumnya tidak terjadi secara tiba-tiba dalam jumlah besar, melainkan secara bertahap dalam kadar kecil tapi berulang dari berbagai sumber di lingkungan sekitar. Misalnya dari debu rumah, serpihan cat lama, tanah yang terkontaminasi, atau material tertentu di lingkungan hunian dan fasilitas publik. “Karena sifatnya yang akumulatif, paparan jangka panjang meskipun dalam kadar rendah tetap dapat berdampak terhadap kesehatan tubuh,” kata Reza.
Regulasi Cat Bebas Timbal
WHO telah merekomendasikan batas kandungan timbal dalam cat di bawah 90 ppm (parts per million). Acuan ini banyak diadopsi secara global sebagai standar. Indonesia sendiri telah memiliki regulasi untuk memastikan keamanan material bangunan. Standar Nasional Indonesia (SNI) 8011:2014 beserta revisinya, termasuk SNI 8011:2022, mengatur cat dekoratif berbasis pelarut dan membatasi kandungan zat berbahaya, termasuk timbal. Standar ini selaras dengan acuan keamanan internasional yang diakui secara luas, meskipun saat ini penerapannya masih bersifat sukarela.
Di tingkat akar rumput, kesadaran terhadap paparan timbal di Indonesia juga masih perlu ditingkatkan. Berdasarkan Studi Bank Dunia (2023), sebanyak 44,8 persen masyarakat tinggal di rumah yang menggunakan cat dengan kandungan timbal. Biasanya ditemukan pada cat dekoratif seperti cat besi dan kayu.
Secara global, makin banyak negara, baik di level pemerintah, industri, hingga pemangku kepentingan, mengadopsi standar keamanan bebas timbal (lead-free) sebagai bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang lebih sehat. “Standar ini diterapkan melalui regulasi yang membatasi atau melarang penggunaan timbal dalam cat, bahan bangunan, dan produk yang berpotensi digunakan di ruang hunian maupun fasilitas publik,” kata Yuni.
Penerapan standar lead-free juga diikuti dengan peningkatan kesadaran mengenai pentingnya penggunaan material yang aman, pengawasan kualitas produk, serta praktik pemeliharaan bangunan yang bertanggung jawab. Pelaku industri juga berperan dalam memberikan edukasi kepada konsumen mengenai sertifikasi, standar keamanan, dan nilai jangka panjang dari material bangunan yang lebih aman, sehingga kesadaran dapat diterjemahkan menjadi tindakan nyata. Selain itu, kolaborasi antara pemerintah dan pelaku industri menjadi penting untuk mendorong penerapan standar secara lebih luas, guna mendukung penggunaan material yang lebih aman bagi masyarakat.


















































