Kenapa Gen Z Usia 20 Tahun Harus Mulai Aware Cek Kolesterol Rutin?

1 week ago 22

CANTIKA.COM, Jakarta - Banyak dari kita yang mikir soal urusan kolesterol tinggi itu cuma problemnya orang tua atau mereka yang sudah paruh baya. Padahal, anggapan ini keliru dan bisa fatal akibatnya.

Faktanya, kolesterol tinggi sering dijuluki sebagai silent killer karena berkembang diam-diam tanpa gejala sama sekali, sampai tiba-tiba memicu komplikasi serius seperti serangan jantung dan stroke. Data dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 bahkan mencatat angka yang cukup mengejutkan: sekitar 39,5 persen penduduk Indonesia ternyata punya kadar kolesterol di atas batas normal!

Nah, biar enggak kecolongan, para ahli medis menyarankan kita untuk mulai aware dan melakukan deteksi dini sejak memasuki usia kepala dua. Yuk, simak alasan lengkapnya di bawah ini!

Proses Penyumbatan Dimulai Sejak Remaja

Menurut dr. Nancy Virginia, Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari Mitra Keluarga Kemayoran, pemeriksaan kolesterol sebaiknya sudah masuk ke dalam checklist kesehatan kita mulai usia 20 tahun. Langkah ini penting untuk mengidentifikasi faktor risiko penyakit kardiovaskular sedini mungkin.

"Guidelines internasional menyarankan pemeriksaan kolesterol mulai usia 20 tahun. Karena proses terjadinya penyumbatan pembuluh darah itu sebenarnya sudah mulai terbentuk sejak usia 15 sampai 20 tahun," ungkap dr. Nancy dalam siaran pers yang diterima Tempo akhir Juni 2026.

Pemeriksaan berkala ini idealnya mencakup profil lipid lengkap, mulai dari kolesterol total, LDL (kolesterol jahat), HDL (kolesterol baik), hingga trigliserida.

Mengenal LDL, Si Kolesterol Jahat Pemicu Plak

Sebenarnya, tubuh kita tetap butuh kolesterol untuk fungsi penting, seperti membentuk sel, menghasilkan hormon, dan membantu produksi vitamin D. Namun, masalah besar akan muncul kalau kadar low-density lipoprotein (LDL) alias kolesterol jahat di dalam darah terlalu tinggi.

Saat kadar LDL melonjak, zat ini akan memicu penumpukan plak berbahaya pada dinding pembuluh darah. Celakanya, banyak pasien baru sadar kalau kadar LDL mereka tinggi justru setelah mengalami komplikasi parah. Semakin cepat kita mengontrol kadar LDL ini, semakin kecil pula risiko terkena gangguan jantung di masa depan.

Genetik hingga Gaya Hidup Jadi Pemicu Utama

Rekomendasi untuk cek kesehatan sejak usia 20 tahun ini juga didukung penuh oleh American Heart Association (AHA). Frekuensi pemeriksaannya sendiri bisa disesuaikan dengan usia, riwayat kesehatan, serta beberapa faktor risiko pendukung lainnya.

Beberapa faktor risiko yang wajib diwaspadai antara lain:

- Riwayat diabetes dan hipertensi (tekanan darah tinggi).

- Kondisi obesitas atau berat badan berlebih.

- Kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol.

- Faktor Genetik: Riwayat penyakit jantung atau kolesterol tinggi dalam keluarga.

Kepala Departemen Medis Mitra Keluarga Kemayoran, dr. Reinaldo, menambahkan bahwa medical check-up berkala idealnya tidak cuma mengecek profil lipid saja. Ada baiknya pemeriksaan juga mencakup kadar gula darah, tekanan darah, hingga evaluasi fungsi jantung demi pencegahan total sebelum komplikasi muncul.

Lifestyle Hacks untuk Jaga Jantung Tetap Sehat

Selain melakukan cek rutin, para dokter juga mengingatkan pentingnya konsistensi dalam menjaga pola hidup sehat sehari-hari. Beberapa langkah preventif yang sangat dianjurkan meliputi:

Atur Pola Makan: Batasi konsumsi makanan yang tinggi lemak jenuh.

Rutin Bergerak: Lakukan olahraga minimal 150 menit setiap pekan.

Jaga Berat Badan: Pastikan berat badan tetap berada di angka ideal.

Hindari Kebiasaan Buruk: Jauhi rokok dan batasi konsumsi minuman beralkohol.

Bagi pasien yang memiliki risiko tinggi atau kadar LDL-nya tetap sulit turun meski sudah mengubah gaya hidup, dokter biasanya akan mempertimbangkan terapi obat penurun kolesterol (seperti golongan statin) atau terapi kombinasi yang disesuaikan dengan kondisi tubuh.

Guna meningkatkan kesadaran anak muda tentang pentingnya isu ini, PT Kalbe Farma Tbk berkolaborasi dengan Mitra Keluarga Kemayoran menggelar program edukasi kesehatan bertajuk Love The Beat.

Melalui inisiatif ini, Group Marketing Head PT Kalbe Farma Tbk, Maria Stefani, menegaskan bahwa edukasi dan deteksi dini adalah kunci utama memutus rantai penyakit kardiovaskular. Karena kolesterol tinggi sering kali datang tanpa permisi, yuk mulai peduli dengan kesehatan jantung kita dari sekarang!

Pilihan Editor: Benarkah Nyeri Kaki Bisa jadi Gejala Kolesterol Tinggi?

MITRA TARIGAN

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

Read Entire Article
Parenting |