SEKRETARIAT Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Perwakilan Papua menyampaikan laporan awal terkait peristiwa kericuhan yang terjadi di Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah beberapa waktu lalu.
Kepala Sekretariat Komnas HAM Papua Frits Ramandey mengatakan, berdasarkan laporan sementara yang diterima instansinya, terdapat 6 korban tewas akibat peristiwa tersebut.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
"Ada lima warga sipil dan satu personel kepolisian yang tewas," kata Frits saat dikonfirmasi Tempo melalui pesan singkat, Selasa, 7 April 2026.
Frits mengingatkan, jumlah tersebut masih merupakan laporan awal atau laporan yang dinamis. Proses validasi data dan investigasi masih akan dilakukan Komnas HAM Papua dalam beberapa hari ke depan.
Ia mengatakan, Rabu, 8 April 2025 Komnas HAM Papua telah mengagendakan untuk menemui langsung keluarga korban dan warga sipil guna mendalami adanya unsur pelanggaran HAM pada kericuhan di Dogiyai.
"Rabu kami ke Nabire dan melanjutkan ke Dogiyai," ujar Frits.
Pada penghujung Maret lalu, situasi di Moanemani, Kabupaten Dogiyai terasa mencekam. Penyebabnya, polisi menemukan mayat Brigadir Dua Juventus Edowai di parit Gereja Ebenezer, Moanemani. Anggota Kepolisian Resor Dogiyai itu diduga tewas akibat tebasan senjata tajam.
Menukil laporan Tempo bertajuk "Paskah Mencekam di Dogiyai" yang terbit pada 6 April 2026, menyebutkan kepolisian menyisir permukiman warga Dogiyai usai penemuan mayat anggotanya. Polisi bahkan menembak hingga tiga orang tewas, dan lainnya luka-luka.
Salah seorang warga yang tewas adalah perempuan berusia 70 tahun dan anak laki-laki berusia 11 tahun. Perempuan itu tertembak ketika tengah memasak di dapur.
Tokoh masyarakat adat Mee Pago sekaligus warga Dogiyai, Okto Pekei, mengatakan tindakan kepolisian membuat para warga panik. Sebagian warga berusaha melawan dengan cara menutup akses jalan lintas Papua guna membatasi ruang gerak kepolisian.
Markas Besar Polri maupun Kepolisian Daerah Papua Tengah belum mengungkap korban sipil dan motif penembakan tersebut.
Namun Mabes Polri mengirim 148 personel gabungan ke Papua Tengah, termasuk di dalamnya 100 personel Brimob, 10 personel tim Badan Intelijen dan Keamanan (BIK), serta 20 personel tim Bareskrim.
















































