Komnas HAM Dorong Gencatan Senjata di Papua

1 week ago 20

KETUA Komisi Nasional Hak Asasi Manusia atau Komnas HAM, Anis Hidayah, mendesak pemerintah dan kelompok bersenjata di Papua menghentikan konflik bersenjata.

Komnas HAM mendorong gencatan senjata di tengah semakin memanasnya situasi di Papua sehingga kembali memakan korban sipil. 

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

"Komnas HAM mendorong agar negara mengambil langkah yang serius untuk menghentikan segala bentuk konflik bersenjata ya, gencatan senjata, di mana selama ini warga sipil menjadi korban paling rentan dalam setiap gencatan senjata yang terjadi di Papua," kata Anis Hidayah di Kantor Komnas HAM, Jakarta Pusat, 6 Juli 2026.

Anis menyesalkan penembakan terhadap pilot Amerika Serikat dan warga sipil di Intan Jaya, termasuk ibu hamil yang tewas tertembak. 

Ia pun mendesak pemerintah melakukan penegakan hukum secara adil, termasuk memberikan pemulihan kepada keluarga korban. Tanpa proses penegakan hukum, hak korban atas keadilan tidak bisa terpenuhi.

"Jadi kami mendorong aparat penegak hukum bisa bekerja secara profesional, objektif, dan parsial, serta memberikan akses yang seluas-luasnya bagi Komnas HAM untuk melakukan penyelidikan," ujarnya. 

Di samping itu, Anis meminta akuntabilitas negara dalam kasus penembakan di Papua. Karena itu, Komnas HAM meminta pemerintah membuka akses seluas-luasnya agar Komnas HAM melakukan penyelidikan terhadap peristiwa tersebut. 

"Kami mengajak semua pihak untuk tidak terprovokasi dan mendorong adanya dialog kemanusiaan antar semua pihak, baik itu pemerintah, gereja, masyarakat sipil, masyarakat adat, dan semua pihak sehingga kondusivitas pelaksanaan HAM di Papua itu bisa terus kita dorong," ujar Anis. 

Ekskalasi konflik di Papua memburuk setelah Tentara Nasional Pembebasan Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) menembak pilot asal Amerika Serikat Nicholas F. Goselin. Nicholas ditembak saat membawa pesawat milik PT AMA di kawasan Distrik Sobaham, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, Kamis, 2 Juli 2026. Pesawat yang dipiloti Nicholas dieksekusi karena diduga membawa logistik pasukan TNI di Papua. 

Juru bicara markas pusat TPNPB Sebby Sambom mengatakan, penembakan pilot berpaspor Amerika Serikat dan pembakaran dilakukan oleh milisi TPNPB Kodap XVI Yahukimo pimpinan Elkius Kobak.

"Kami tembak sebagai ultimatum agar tidak ada lagi maskapai Indonesia yang terbang di tanah Papua," kata Sambom dalam keterangan tertulis, Jumat, 3 Juli 2026.

Setelah insiden ini, Prajurit TNI dari Komando Operasi Habema (Koops Habema) menggelar operasi khusus untuk menguasai Lapangan Terbang Ipdeheik di Kampung Balinggama, Distrik Sobaham, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, yang menjadi lokasi penembakan pilot dan pembakaran pesawat perintis milik PT AMA.

Peristiwa lain adalah kontak tembak antara Komando Operasional TNI Habema dan TPNPB-OPM pada Kamis malam, 2 Juli 2026 di Kampung Wandoga, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah. Dalam insiden itu, perempuan bernama Melkiana Duwitau, yang tengah mengandung berusia 7-8 bulan, meninggal bersama bayi dalam kandungannya akibat terkena peluru saat berada di dalam rumahnya sendiri.


Hendrik Yaputra berkontribusi dalam penulisan artikel ini
Read Entire Article
Parenting |