DINAMIKA politik global yang dipicu oleh eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran turut berdampak pada sektor pendidikan tinggi, termasuk Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Kampus itu harus melakukan penyesuaian pada program internasional mereka, terutama dalam pengiriman mahasiswa dan dosen ke luar negeri akibat lonjakan biaya transportasi yang signifikan.
Rektor UMY Achmad Nurmandi mengatakan ketegangan bersenjata di Timur Tengah telah memicu kenaikan harga bahan bakar pesawat atau avtur di pasar internasional. "Sekarang perang, harga tiket (pesawat ke luar negeri) juga naik karena avtur naik. Itu memengaruhi jumlah mahasiswa yang bisa kami kirim karena tiket itu subsidi dari anggaran kampus," ujar Nurmandi, Rabu, 22 April 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Nurmandi merinci bahwa beban anggaran untuk satu tiket yang sebelumnya hanya berkisar di angka Rp 1 juta, kini melonjak drastis hingga mencapai rentang Rp 2 juta bahkan Rp 3 juta per orang. Kenaikan ini memaksa universitas melakukan perencanaan ulang terhadap anggaran program pengiriman mahasiswa dan dosen itu.
Padahal, UMY sendiri memiliki target untuk mengirimkan lebih dari 1.000 mahasiswa per tahun guna mengikuti berbagai skema, seperti transfer kredit, program gelar ganda (double degree), hingga magang di perusahaan internasional.
Tidak hanya mahasiswa, mobilitas dosen yang telah menjadwalkan agenda kerja sama internasional sejak setahun lalu juga turut terdampak. Nurmandi mengatakan kenaikan biaya akomodasi hotel dan transportasi global memaksa para akademisi untuk menyesuaikan jadwal dan pendanaan kegiatan mereka agar tetap relevan dengan kondisi anggaran saat ini.
Sekretaris UMY Bachtiar Dwi Kurniawan menambahkan bahwa pihak kampus kini menempuh langkah efisiensi agar program kerja sama luar negeri tetap berjalan. "Kalau biasanya kami kirim lima orang ke luar negeri dalam sekali program, sekarang menjadi tiga. Durasi (program) juga disesuaikan, misalnya dari satu minggu menjadi tiga hari, yang penting program berjalan tetapi lebih efisien," ujarnya.
Meskipun biaya keberangkatan ke luar negeri mengalami kendala, ketegangan global ini, menurut Bachtiar, tidak memberikan pengaruh negatif terhadap arus masuk mahasiswa asing ke UMY. Minat pelajar internasional terpantau tetap stabil, bahkan menunjukkan tren positif. Hal ini didorong oleh program full scholarship dan partial scholarship yang ditawarkan kampus itu sebagai daya tarik utama.
Bachtiar menambahkan bahwa target pasar calon mahasiswa asing UMY yakni negara-negara di kawasan Asia Selatan dan Afrika Utara. Bahkan, calon mahasiswa dari negara yang tengah terdampak konflik, seperti Afghanistan, tetap menunjukkan ketertarikan yang besar untuk menempuh studi di UMY.
Dengan strategi beasiswa ini, UMY berupaya memastikan visi internasionalisasi kampus tetap terjaga di tengah ketidakpastian kondisi dunia.

















































