Pameran 27 Seniman untuk Perupa S Teddy Darmawan

2 hours ago 8

Sesosok tubuh berbalut warna hitam, berdiri di selembar plat, tangannya bersedekap. Ia menyandang sebuah tong di punggungnya, kepalanya mempunyai dua lampu yang terpasang seperti tanduk dan di kepalanya pula terlilit kawat baja melingkar dan terhubung juga dengan kawat baja di plat, yang di tengah-tengahnya tergantung seonggok batu. Sosok patung ini dihubungkan dengan listrik sehingga kedua lampunya bisa berkedip-kedip menyala. Karya ini merupakan karya Asmudjo Jono Irianto yang terinspirasi dari karya S.Teddy  Darmawan yang berjudul “Viva La Muerte”. Karya Teddy ini juga menginspirasi juga Iwan Effendi yang menuangkan dalam sebuah lukisan.

Asmudjo, Iwan merupakan dua dari 27 seniman yang ikut berpameran bersama di Galeri Nadi bertajuk "ARTi Teddy" yang digelar 30 April- 20 Mei 2026. Pameran bersama ini terselenggara dari inisiatif Biantoro Santoso, pemilik Galeri Nadi untuk memperingati satu dasawarsa meninggalnya seniman S.Teddy Darmawan, 27 Mei 2016 karena sakit kanker.  Biantoro juga pernah menggelar pameran untuk menggalang dana bagi Teddy ketika ia sakit. Pameran ini menghadirkan karya-karya dari para seniman yang berinteraksi dekat, merasa terhubung dan mengagumi karya serta kreativitas perupa ini.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

“Pameran ini untuk Teddy, bagaimana kita mengingat Teddy. Saya ajak beberapa seniman yang mengenal Teddy untuk berpameran, banyak yang mau ikut tapi ada yang bentrok waktunya,” ujar Biantoro kepada Tempo, 8 Mei 2026. Ia  juga memamerkan karya Teddy berjudul “Athena”, yang dibuat awal ia berkarir sebagai seniman.

Ke-27 seniman yang memamerkan karya yang terhubung dengan Teddy antara lain Abdi Setiawan, Agung Kurniawan, Agus Suwage, Arahmaiani, Asmudjo Jono Irianto, Bob Sick Yudhita, Bunga Jeruk, Goenawan Mohamad, Handiwirman Saputra, Iwan Effendi, Jumaldi Alfi, Kokok Purwandhi Sancoko, M. Irfan,  Mella Jaarsma, Nindityo Adipurnomo,  Pande Ketut Taman, Putu Sutawijaya, Sekar Jatiningrum, Theresia Agustina Sitompul, Tisna Sanjaya, Ugo Untoro, Uji ‘Hahan’ Handoko Eko Saputro, Wedhar Riyadi, Wimo Ambala Bayang, Yani Halim, Yuli Prayitno dan Yunizar. Karya-karya para perupa ini menunjukkan kenangan atau inspirasi dari sosok yang dinilai cukup kritis berkarya di era 2000-an.

Mengutip dari laman Dewan Kesenian Jakarta, S.Teddy Darmawan seniman lulusan Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Ia dikenal sebagai perupa yang karyanya sarat humor dan sarkasme halus. Kiprahnya di dunia seni rupa internasional dimulai pada 2000. Saat itu, ia menjadi seniman mukiman di Ludwig Art Forum, Aachen, Jerman. Pada 2010, instalasi besarnya berjudul "The Temple (Love Tank)" dipamerkan di Singapore Art Museum. Karyanya yang berjudul "Beyond the Self" dipamerkan di The National Portrait Gallery, Canberra, Australia pada 2011. Karya terakhir yang ia buat adalah sebuah lukisan berjudul "Sudah Lama Aku Berteman dengan Buddha". Lukisan berbahan akrilik pada kanvas tersebut berukuran 137×137 sentimeter itu menjadi salah satu karya dalam pameran bertajuk "Padi Menguning" di Syang Art Space Magelang, Jawa Tengah, 22 Mei-22 Juni 2016.

Pilihan Editor:

Teddy Darmawan, Seniman Yang Total

Karya Tisna Sanjaya di Galeri Nadi dalam pameran bertajuk ARTi Teddy. Tempo/Dian Yuliastuti

Para Perupa Mengenang Teddy

Mella Jaarsma mengenang Teddy dengan lima karya berjudul “After Teddy’s House 2- 8 “yang memakai bahan campuran dari kayu, bulu kambing, serat kulit kelapa kertas dan sebagainya. Ia mendedikasikan karyanya untuk Teddy dengan tema yang sering dia angkat yakni rumah dan kepala. Ia mengenal Teddy saat ia masih menjadi mahasiswa di Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Ia melihat sosok Teddy sebagai seorang seniman yang mendobrak batas. Dari segi ide dan ekspresinya, ia bisa menerapkannya dengan material apapun.”Dia mewakili seniman generasi yang masih ‘mentah’, material seadanya,dan ide yang kritis pada diri, masyarakat, dan lingkungan politiknya,” ujar Mella melalui aplikasi pesan, Senin 18 Mei 2026.

Dua tema itu terus dieksplorasi karena berhubungan dengan introspeksi diri dan bagaimana ia berkontribusi kepada negaranya. Mella mengatakan karya favoritnya dari Tedddy saat berpameran di Galeri Cemeti adalah karya berjudul “Cuek Is The Best” yang kemudian  dipakai menjadi teks yang disablon di kaos yang diapakai anak muda di Yogyakarta. “Itu mewakili pola pikir anak muda pada zaman akhir kekuasaan Soeharto. Dan Teddy membuat instalasi kursi goyang dengan kaos ini,” ujarnya lagi.

Sementara Asmudjo mengenang kedekatannya dengan Teddy. Ia selalu mengagumi gagasan dan kekuatan karyanya dari segi bentuk, medium, material maupun konten atau narasinya. “Hasilnya adalah karya-karya dengan identitas personal yang kuat. Karena pameran ini tribute untuk Teddy, saya sengaja mengaitkan dan mencari inspirasi dari karya saya pada karya Teddy,” ujar Asmudjo.

Seniman dan pengajar di Institut Teknologi Bandung ini mengatakan sangat suka  dengan karya Teddy, “Viva La Muerte”.  Menurut Asmudjo karya dengan benda temuan berupa tong, dan garapan simple tubuh hybrida kuda/banteng dari logam, Teddy bisa menciptakan karya patung yg sangat kuat, otentik dan pada saat itu menjadi karakter patung Kontemporer tersendiri dalam ranah seni patung Kontemporer Indonesia.

Ia kemudian membuat karya yang hampir serupa. “Karya saya mempergunakan tong sejenis, dan saya kaitkan dengan kondisi sosial-politik Indonesia, yang menurut saya mirip dgn kondisi gerakan fasis era pergolakan di Spanyol (merujuk pada terminologi Viva La Muerte dan Muerte La Intellegencia di Sejarah Spanyol)

Seniman Bandung, Tisna Sanjaya membuat performance dengan melepas baju, mengepel lantai di sekitar mesin cuci yang dilengkapi dengan sebuah monitor keci, telepon jadul dan poster bergambar Presiden Soeharto memakai seragam tentara. Mesin cuci penuh dengan baju-baju, sementara di atasnya tergantung kaos-kaos  berwarna warni dengan gambar wajah Soeharto. Karyanya berjudul "Cleaning Service & Laundry".

Yuli Prayitno  membuat dua karya patung yang bertolak dari instalasi karya Teddy berjudul “Cultural Studies” dan “Casualitas of War”. Karya Yuli berupa instalasi senjata AK47 model air softgun yang pada popor kayunya diukir pose-pose tentara berjudul “Kamuaku” dan instalasi sebuah batu yang ditancapi pistol-pistolan berjudul “Keras Kepala”. Seniman Theresia Agustina Sitompul membuat karya cetak dari gypsum berupa potongan dua tangan dan dua telinga berjudul “Laku Sunyi”.

Perupa Handiwirman mengenang Teddy menghadirkan sebuah karya  obyek instalasi yang berjudul " Senandung S Teddy", sebuah instalasi seperti  lempengan berbahan pasir dengan empat besi dan dua roda di bagian belakang. Ia mengungkapkan sangat kehilangan seniman kelahiran Padang, Sumatera Barat  itu ketika ia meninggal. Sekar Jatiningrum mengingat Teddy seorang ‘manis’ perangainya; Bunga Jeruk mengenang Teddy sebagai seorang ‘family man’ dan pecinta anjing; Nindityo Adipurnomo mengenang Teddy sebagai perupa yang provokatif dengan karya-karyanya. Sedangkan menurut Ugo Untoro, Teddy seorang pembelajar seni rupa,”Dia seorang penggali seni sejati.” 

Pilihan Editor:

Read Entire Article
Parenting |