ASOSIASI Peternak dan Pedagang Sapi Bima Dompu Indonesia (APPSBDI) menyatakan perputaran uang dari penjualan hewan kurban asal Nusa Tenggara Barat (NTB) mencapai ratusan miliar setiap tahun. Penjualan hewan kurban sapi mayoritas terkonsentrasi di pasar Jakarta dan sekitarnya.
"Rata-rata 20.000 ekor sapi dikirim setiap tahun," kata Ketua APPSBDI Furqan Sangiang, seperti dikutip dari Antara, Selasa, 28 April 2026. Ia mengatakan harga sapi paling rendah Rp 15 juta per ekor, bahkan ada yang bisa mencapai Rp 50 juta per ekor.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Dari jumlah 20.000 ekor sapi yang didistribusikan setiap musim Idul Adha, diproyeksi menciptakan perputaran uang sekitar Rp 500-Rp 600 miliar. Ia menilai industri peternakan sapi kurban turut menyumbang pendapatan bagi daerah melalui retribusi yang dibayarkan para peternak dengan nominal Rp 62.000 untuk setiap satu ekor sapi.
"Usaha sapi memberikan sumbangsih bagi peternak untuk membiayai sekolah anak dan menggerakkan roda ekonomi," kata Furqan.
Berdasarkan data Balai Karantina NTB, distribusi sapi asal Nusa Tenggara Barat sejak Januari hingga 27 April 2026 didominasi pengiriman ke Jabodetabek yang mencapai 25.974 ekor dengan frekuensi 1.046 kali pengiriman.
Sedangkan, distribusi sapi ke luar Jabodetabek tercatat 3.257 ekor. Sementara ke wilayah Lombok hanya sebanyak 3.020 ekor yang mengindikasikan konsentrasi distribusi hewan ternak asal NTB paling banyak mengarah ke Pulau Jawa.
Sektor peternakan telah mengurangi tekanan terhadap lingkungan karena masyarakat yang sebelumnya bergantung terhadap aktivitas perambahan hutan untuk perkebunan jagung. Masyarakat mulai beralih ke usaha budidaya sapi sebagai sumber pendapatan yang lebih berkelanjutan.
APPSBDI menilai dukungan terhadap lapangan usaha peternakan masih belum optimal meski nilai ekonomi yang diberikan terbilang besar. Berbagai tantangan masih dihadapi peternak mulai dari keterbatasan transportasi, biaya logistik mahal, hingga ketidakpastian pasar.
"Hampir 127 titik kandang masyarakat Bima-Dompu di Jabodetabek. Tenda-tenda dibangun di pinggir jalan menanti para pembeli insidentil dan langganan," tutur Furqan.

















































