DIREKTUR Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo mengatakan butuh jaringan transmisi sepanjang 48 ribu kilometer dalam strategi transisi energi nasional. Infrastruktur ini, kata dia, krusial untuk mengatasi ketimpangan antara lokasi sumber energi terbarukan dan konsumen listrik.
Darmawan menjelaskan, selama ini pengembangan energi terbarukan menghadapi tantangan utama berupa ketidaksesuaian (mismatch) antara suplai dan permintaan. Sumber energi bersih, seperti tenaga air, surya, dan angin umumnya berada di wilayah terpencil, sementara kebutuhan listrik terkonsentrasi di pusat-pusat ekonomi.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
“Kalau pembangkit fosil, lokasinya bisa dekat dengan demand. Tapi energi terbarukan banyak berada jauh dari pusat konsumsi, sehingga perlu jaringan transmisi yang kuat,” kata dia dalam rapat kerja di Komisi XII DPR, Senin, 13 April 2026.
Untuk menjembatani kesenjangan tersebut, PLN merancang pembangunan green enabling supergrid yang memungkinkan listrik dari sumber energi terbarukan dapat disalurkan secara luas dan efisien. Proyek ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat ketahanan energi dengan mengurangi ketergantungan pada energi impor dan beralih ke sumber domestik yang lebih berkelanjutan.
Rencana tersebut, kata Darmawan, tertuang dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034. Dalam periode ini, PLN menargetkan penambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 gigawatt, dengan sekitar 76 persen berasal dari energi baru dan terbarukan. Sumbernya mencakup tenaga surya, angin (bayu), panas bumi, dan hidro, serta energi baru seperti nuklir dengan kapasitas awal 500 megawatt.
Selain itu, PLN juga akan mengembangkan sistem penyimpanan energi berbasis baterai (battery energy storage system). Darmawan mengatakan teknologi ini semakin ekonomis seiring penurunan biaya yang signifikan dalam dua tahun terakhir, sehingga dapat mendukung stabilitas pasokan listrik dari energi terbarukan yang bersifat intermiten.
Darmawan menambahkan, pembangunan infrastruktur kelistrikan kini dirancang lebih terukur dan berbasis kebutuhan (demand-driven). Perencanaan jaringan transmisi, gardu induk, dan pembangkit disesuaikan dengan pertumbuhan konsumsi listrik, baik dari sisi lokasi, waktu, maupun kapasitas.
“Kami memastikan pembangunan infrastruktur ini sejalan dengan kebutuhan riil di lapangan, sehingga lebih efisien dan tepat sasaran,” kata dia.
Sejak RUPTL mulai dijalankan, PLN mempercepat realisasi proyek. Hingga Maret 2026, dari total 547 proyek prioritas, sebanyak 353 proyek telah masuk tahap pengadaan, 156 proyek dalam konstruksi, dan 64 proyek telah beroperasi (commissioning).


















































