S&P GLOBAL Ratings menilai peringkat utang Indonesia rentan melemah akibat perang di Timur Tengah. Menurut lembaga pemeringkat utang global itu, posisi Indonesia lebih rentan dibandingkan dengan negara-negara lain di Asia Tenggara, seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam. Sebagai informasi, saat ini utang Indonesia berada di peringkat BBB atau stabil.
S&P Global menyoroti risiko fiskal akibat kenaikan harga energi. “Kenaikan harga energi meningkatkan pembayaran subsidi anggaran, sehingga membebani defisit fiskal,” tulis S&P Global dalam laporannya pada Rabu, 15 April 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Dalam analisisnya, S&P Global memprediksi disrupsi pasokan energi akibat penutupan Selat Hormuz bakal berlangsung selama berbulan-bulan, meski ketegangan konflik berpotensi menurun pada April. Sebab dengan rusaknya infrastruktur energi di Timur Tengah, normalisasi produksi minyak dan gas kemungkinan akan membutuhkan waktu.
Di samping itu, S&P mengatakan pembayaran bunga pemerintah dapat meningkat jika lonjakan inflasi memicu kenaikan suku bunga pasar. Impor produk minyak yang lebih mahal juga diperkirakan bisa memperlebar defisit transaksi berjalan.
Sementara itu, kata S&P, harga komoditas yang lebih tinggi bisa membantu menahan pelemahan matriks kredit eksternal Indonesia. S&P mengatakan ekspor Indonesia tumbuh tahun ini, didukung oleh penjualan minyak sawit, nikel, kendaraan, dan panel surya. Namun, momentum pertumbuhan tersebut diredam oleh penurunan penjualan produk energi, seperti batu bara, minyak mentah, dan gas alam.
S&P pun memandang kenaikan harga komoditas secara luas bisa membantu menahan tekanan terhadap peringkat utang Indonesia. “Hal ini dapat membantu membalikkan tren yang memburuk dalam matriks kredit Indonesia bila situasi telah kembali normal,” ucap S&P.


















































