TEMPO.CO, Jakarta - Para ilmuwan telah lama meneliti mengapa manusia tidak dapat mengingat pengalaman dari tahun-tahun pertama kehidupan, fenomena yang dikenal sebagai amnesia infantil atau amnesia masa kanak-kanak. Studi terbaru menunjukkan bahwa bukan karena informasi tersebut tidak tersimpan, tapi karena manusia tidak dapat mengambil kembali kenangan tersebut saat dewasa.
Salah satu teori utama menyatakan bahwa hipokampus, bagian otak yang bertanggung jawab atas pembentukan dan pengambilan memori, belum sepenuhnya berkembang pada usia 2 hingga 4 tahun. Hal ini membuat memori episodik sulit direkam secara utuh di usia tersebut.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
“Anak-anak mungkin gagal merekam episode spesifik sampai usia 2 hingga 4 tahun karena pada saat itulah hipokampus mulai menghubungkan potongan-potongan informasi,” kata Nora Newcombe, profesor psikologi di Temple University, Philadelphia, kepada Live Science, dikutip Jumat, 28 Maret 2025.
Menurut Newcombe, anak-anak pada usia dini lebih fokus memahami dunia sekitar dibanding mengingat detail peristiwa tertentu. “Saya pikir tujuan utama dalam dua tahun pertama adalah memperoleh pengetahuan semantik, dan dari sudut pandang itu, memori episodik justru bisa menjadi gangguan,” ujarnya.
Namun, riset terbaru menantang teori ini. Sebuah studi yang diterbitkan di jurnal Science pada Maret 2025 menunjukkan bahwa hipokampus pada bayi sebenarnya sudah mampu mengkodekan informasi yang diperlukan untuk membentuk memori episodik.
Dalam penelitian tersebut, ilmuwan menggunakan functional magnetic resonance imaging (fMRI) untuk mengukur aktivitas hipokampus pada 26 anak berusia 4 bulan hingga 2 tahun. Mereka diperlihatkan berbagai gambar selama dua detik, lalu setelah jeda singkat, gambar yang sama ditampilkan kembali di samping gambar baru. Hasilnya, semakin tinggi aktivitas di hipokampus, semakin lama anak-anak menatap gambar yang sudah mereka lihat sebelumnya.
Selain itu, studi yang dipublikasikan di Science Advances pada 2023 menemukan bahwa kenangan masa kecil yang telah ‘terlupakan’ dapat dipulihkan pada tikus dewasa dengan stimulasi optik pada jalur saraf tertentu.
Dalam penelitian itu, ilmuwan juga menemukan bahwa tikus dengan karakteristik autisme mampu mengingat kembali pengalaman dari masa kecil mereka. Kondisi ini diduga berkaitan dengan aktivasi sistem kekebalan ibu selama kehamilan, yang mempengaruhi struktur dan fungsi sel memori di otak keturunannya.
“Temuan baru ini menunjukkan bahwa aktivasi sistem kekebalan selama kehamilan menghasilkan kondisi otak yang mengubah ‘saklar pelupa’ bawaan kita, yang menentukan apakah ingatan masa bayi akan terlupakan atau tidak,” kata Tomás Ryan, profesor biokimia di Trinity College Dublin.
Meski studi ini baru dilakukan pada tikus, para peneliti menilai bahwa hasilnya dapat membantu memahami bagaimana ingatan dan proses melupakan berkembang pada anak-anak serta kaitannya dengan autisme.