UGM dan Kagama Serahkan 26 Hunian Sementara di Aceh Tamiang

1 week ago 52

UNIVERSITAS Gadjah Mada (UGM) bersama Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) menyerahkan 26 unit hunian sementara (huntara) kepada korban banjir bandang di Kampung Sekumur, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, Ahad, 5 Juli 2026. Bantuan itu diprioritaskan untuk warga di kawasan yang mengalami kerusakan paling parah akibat banjir dan hujan ekstrem pada November lalu.

Sebelum huntara berdiri, warga Kampung Sekumur selama berbulan-bulan terpaksa tinggal di tenda-tenda pengungsian. Sebagian dari mereka harus bertahan di tengah cuaca panas dan hujan karena rumahnya hancur diterjang banjir bandang.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Rektor UGM Ova Emilia mengatakan Kampung Sekumur dipilih sebagai lokasi prioritas setelah UGM dan Kagama Aceh melakukan pemetaan daerah terdampak. Menurut dia, kawasan itu menjadi salah satu wilayah yang paling sulit dijangkau sekaligus mengalami kerusakan paling berat.

"Daerah ini yang terdampak paling parah sehingga memerlukan bantuan dan sulit dijangkau. Karena itu kami memfokuskan bantuan di sini. Ini keputusan bersama dengan Kagama Aceh setelah melakukan analisis daerah mana yang perlu diprioritaskan," kata Ova seusai serah terima huntara, Ahad, 5 Juli 2026.

Sebanyak 26 unit huntara dibangun untuk menampung warga yang kehilangan tempat tinggal. Menariknya, sebagian material bangunan berasal dari kayu-kayu yang hanyut terbawa banjir dan kemudian dimanfaatkan kembali untuk pembangunan rumah sementara tersebut.

Bagi para penyintas, kehadiran huntara menjadi titik balik setelah berbulan-bulan hidup di pengungsian. Sariyah, 60 tahun, mengaku kini dapat tidur lebih nyaman setelah sebelumnya tinggal di tenda darurat. "Kami bersyukur sekali. Dulu kami masih di tenda. Sekarang sudah dapat rumah ini, rasanya bisa tidur nyenyak, tidak kepanasan dan tidak kena hujan lagi," ujarnya.

Sariyah mengaku begitu antusias hingga langsung menempati huntara meski pembangunannya belum sepenuhnya selesai. Selama tinggal di tenda pengungsian, kondisi kesehatannya menurun dan ia kerap jatuh sakit. Bahkan, untuk membersihkan rumahnya yang tertimbun material banjir, ia terpaksa menjual seluruh aset transportasi keluarga. "Sebelas juta habis untuk mengorek tanah yang menimbun rumah," katanya.

Warga lainnya, Mardiah, 40 tahun, juga menyampaikan rasa syukur karena kini memiliki tempat tinggal yang lebih layak. Perkebunan sawit miliknya hancur akibat banjir sehingga keluarga mereka kehilangan sumber penghasilan. "Senang sekali, rasanya sudah terbantu karena sekarang ada tempat tinggal. Dulu kami menunggu di tenda, sekarang sudah ada rumah," ujarnya.

Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Kagama, Nezar Patria, mengatakan pembangunan huntara merupakan hasil gotong royong jaringan alumni UGM dari berbagai daerah. Selain membangun rumah sementara, Kagama juga membantu perbaikan sekolah dan penyediaan perlengkapan pendidikan di sejumlah titik di Aceh Tamiang dan Aceh Timur.

"Kami membangun 26 unit hunian sementara. Selain itu ada perbaikan sekolah dan bantuan perlengkapan sekolah di beberapa lokasi," kata Nezar.

Bupati Aceh Tamiang meminta warga merawat fasilitas yang telah diberikan. Menurut dia, bantuan tersebut harus menjadi momentum bagi masyarakat untuk bangkit dan mempercepat pemulihan pascabencana.

Ketua Pengurus Daerah Kagama Aceh sekaligus Sekretaris Daerah Aceh M. Nasir mengatakan pemerintah daerah kini mulai memasuki tahap rehabilitasi dan rekonstruksi setelah masa tanggap darurat dan transisi pemulihan berakhir.

UGM menyatakan pendampingan terhadap masyarakat Aceh Tamiang akan terus dilakukan. Ova mengatakan kampusnya berencana mengirim mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik untuk membantu merancang solusi pemulihan jangka panjang dan membangun masyarakat yang tangguh terhadap bencana.

Meski hunian sementara telah berdiri, kebutuhan warga belum sepenuhnya terpenuhi. Banyak penyintas kehilangan kebun sawit, tanaman kelapa, dan sumber mata pencaharian lainnya. Warga berharap pemerintah dan berbagai pihak dapat melanjutkan bantuan, terutama berupa bibit tanaman dan dukungan pemulihan ekonomi agar mereka dapat memulai kehidupan baru setelah bencana.

Read Entire Article
Parenting |