2 Startup Teknologi Internasional Uji Inovasi di Laut Sawu

8 hours ago 8

DUA startup internasional, Havoc dari Amerika Serikat dan blueOASIS dari Portugal, akan mengembangkan dan menguji coba inovasi teknologinya dalam upaya pelestarian laut dan pesisir di Indonesia. Keduanya merupakan bagian dari tiga startup terpilih dalam Global Ocean Innovation Challenge, sebuah inisiatif yang digagas oleh organisasi konservasi The Nature Conservancy (TNC) bersama Newlab, platform kolaborasi antara startup dan industri.

Global Ocean Innovation Challenge memilih Indonesia sebagai wilayah uji coba pertamanya, dengan fokus pada Laut Sawu di Nusa Tenggara Timur. Selain merupakan bagian dari kawasan Segitiga Karang Dunia (Coral Triangle), wilayah perairan tersebut dikenal sebagai jalur migrasi penting bagi mamalia laut, sehingga membutuhkan sistem pemantauan yang andal dan berkelanjutan.

Havoc terpilih berkat inovasinya dalam mengembangkan armada kapal permukaan tanpa awak (autonomous surface vessel) yang dapat digunakan secara terus-menerus untuk memantau kawasan konservasi laut. Teknologi ini memungkinkan perluasan jangkauan pemantauan sekaligus mengurangi beban pada patroli konvensional yang membutuhkan biaya besar serta berisiko bagi petugas di lapangan.

Sementara itu, blueOASIS menghadirkan stasiun pemantauan suara bawah air bertenaga surya yang dilengkapi kecerdasan buatan (AI) guna mendeteksi mamalia laut seperti paus hiu serta aktivitas laut lainnya secara langsung (real time). Teknologi ini dinilai efektif untuk meningkatkan pengawasan di kawasan terpencil dan wilayah laut yang selama ini sulit dipantau secara rutin.

Havoc dan blueOASIS, juga Blurgs.AI dari India, diumumkan terpilih di antara lebih dari 60 pengembang teknologi maupun startup asal 24 negara pada 20 Mei 2026. Berbeda dari Havoc dan blueOASIS yang memiliki lokasi uji pilot secara fisik di Laut Sawu, Blurgs.AI akan menguji solusi platform data bangkitan AI miliknya untuk membantu tranformasi data perikanan di Pasifik, untuk bisa mendukung manajemen perikanan skala besar yang lebih responsif dan efektif.  

Melalui Global Ocean Innovation Challenge, ketiga startup terpilih akan menerima dukungan dana hibah sebesar total US$ 200 ribu. Selain pendanaan, para startup juga akan mendapatkan dukungan teknis, keahlian di bidang konservasi, serta akses ke jaringan investor dan berbagai sumber daya untuk mendukung pengembangan prototipe teknologi mereka.

Pemanfaatan Teknologi Pemantauan Jarak Jauh 

Havoc dan blueOASIS dijadwalkan memulai uji coba teknologi mereka pada Juni nanti. Sejak tahap pengembangan hingga pelaksanaan uji coba, keduanya akan berkolaborasi dengan mitra TNC di Indonesia, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), juga dengan lembaga pemerintah, dan masyarakat lokal.

“Kami berharap teknologi ini dapat menjembatani kesenjangan yang selama ini ada dalam hal pemantauan dan ketersediaan data, sekaligus memperkuat kapasitas lokal untuk pengelolaan kawasan konservasi laut dan perikanan secara lebih efektif,” kata Direktur Program Kelautan YKAN Muhammad Ilman, dalam keterangan tertulis.

Pemanfaatan teknologi jarak jauh diharapkan dapat membantu mengatasi keterbatasan anggaran pengelolaan kawasan konservasi, sekaligus meningkatkan pemantauan migrasi dan spesies laut kunci yang selama ini belum optimal. Seperti diketahui, Segitiga Karang Dunia merupakan kawasan dengan keanekaragaman hayati laut tertinggi di dunia, mencakup sekitar 76 persen dari seluruh spesies terumbu karang global dan menjadi habitat bagi lebih dari 3.000 spesies ikan.

Dalam keterangan tertulis yang sama, Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Miftahul Huda menyampaikan, Havoc dan blueOasis terpilih karena dinilai mampu memberikan solusi atas tantangan yang dihadapi Indonesia. Secara khusus dia memberi catatan bahwa Wilayah laut Indonesia sangat luas dan bahkan banyak yang terpencil. 

"Kita membutuhkan inovasi teknologi untuk mengatasi hal tersebut, sekaligus membantu mencapai target komitmen nasional KKP melindungi 97,5 juta hektare kawasan perairan pada 2045,” ujar Huda.

Dalam keterangannya, Chief Executive Officer TNC Jennifer Morris menyatakan bahwa Global Ocean Innovation Challenge adalah sebuah contoh nyata dari bagaimana kerja sama bisa dilakukan untuk membantu aksi lokal demi tujuan global. "Kami berkomitmen untuk memimpin ke arah itu, memanen inovasi untuk bisa membagikan dampak yang berkepanjangan bagi ekosistem laut dan miliaran orang yang bergantung kepadanya," kata dia. 

TNC menggandeng Newlab mendesain dan mengerahkan program pilot yang memindahkan teknologi-teknologi yang sedang tumbuh ke dalam lingkungan operasional yang nyata. "Di Newlab kami membantu startup teknologi kritikal mengatasi tantangan-tantangan yang kompleks, termasuk kelestarian jangka panjang ekosistem laut," kata Chief Product Officer di Newlab, Garrett Winther.

Read Entire Article
Parenting |