LUPUS atau Systemic Lupus Erythematosus (SLE) merupakan penyakit autoimun kronis ketika sistem kekebalan tubuh kehilangan kemampuan membedakan jaringan sehat dan justru menyerang organ tubuh sendiri. Penyakit ini dapat menyerang kulit, sendi, ginjal, paru-paru, hingga sistem saraf pusat.
Dokter spesialis penyakit dalam konsultan reumatologi, Sandra Sinthya Langow mengatakan SLE sering disebut sebagai penyakit seribu wajah karena gejalanya sangat beragam dan tidak spesifik. "Pasien dapat mengalami kelelahan ekstrem, nyeri sendi, ruam kulit, hingga keterlibatan organ seperti ginjal dan sistem saraf,” ujarnya saat jumpa pers World LUpus Day, di Jakarta Selasa 26 Mei 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Menurut Sandra, gejala lupus bisa muncul secara bertahap maupun tiba-tiba. Kondisi itulah yang membuat banyak pasien baru mengetahui dirinya mengidap lupus saat penyakit sudah menyerang organ tubuh.
“Perjalanan penyakit SLE bersifat fluktuatif, dengan periode flare dan terkontrol. Karena itu pasien membutuhkan pemantauan dan penanganan jangka panjang,” katanya.
Di Indonesia, jumlah pasien lupus diperkirakan mencapai 1,4 juta orang dengan tingkat mortalitas 8,1 persen, salah satu yang tertinggi secara global. Namun, masih banyak pasien yang terlambat mendapatkan diagnosis.
Gejala Samar Seperti Penyakit Biasa
Menurut Sandra, salah satu penyebab keterlambatan diagnosis adalah gejala lupus yang kerap dianggap sebagai penyakit biasa. “Nyeri sendi sering dianggap asam urat atau kelelahan biasa. Ruam kulit dikira alergi, sariawan dianggap sepele. Karena gejalanya mirip penyakit lain, lupus sering terlambat dikenali,” ujarnya.
Ia menjelaskan sekitar 90 persen pasien lupus adalah perempuan, terutama pada usia 15 hingga 44 tahun atau usia produktif. Faktor hormonal disebut ikut memengaruhi tingginya angka kasus pada perempuan.
“Penyebab lupus sampai sekarang belum diketahui secara pasti. Penyakit ini sangat multifaktorial. Ada faktor genetik, hormonal, dan lingkungan sebagai pencetus,” kata Sandra.
Faktor lingkungan yang dapat memicu lupus antara lain paparan sinar matahari berlebihan, bahan kimia tertentu, polusi udara, infeksi bakteri dan virus, kebiasaan merokok, obesitas, hingga defisiensi vitamin D.
Salah satu gejala yang paling sering dialami pasien lupus adalah fatigue atau kelelahan berkepanjangan. “Pasien lupus bisa merasa sangat lelah meskipun sudah tidur cukup dan tidak melakukan aktivitas berat. Itu yang sering tidak dipahami orang sekitar,” ujarnya.
Selain kelelahan, masyarakat juga perlu mewaspadai kombinasi gejala seperti rambut rontok, sariawan berulang, nyeri sendi berkepanjangan, ruam kemerahan di wajah, hingga demam tanpa sebab jelas.
Pemeriksaan ANA
Untuk menegakkan diagnosis lupus, dokter perlu melakukan kombinasi pemeriksaan klinis dan laboratorium, termasuk pemeriksaan ANA (Antinuclear Antibody). “Kalau cepat terdiagnosis, pasien akan mendapatkan pengobatan lebih cepat sebelum terjadi kerusakan organ. Itu sangat memengaruhi kualitas hidup dan harapan hidup pasien,” tutur Sandra.
Dalam lima tahun sejak diagnosis, sekitar 50 persen pasien lupus diketahui sudah mengalami gangguan organ apabila penyakit tidak ditangani dengan baik. Dampaknya tidak hanya pada kesehatan fisik, tetapi juga produktivitas pasien. Data menunjukkan sekitar 82 persen pasien mengalami penurunan aktivitas sehari-hari, 43,9 persen harus mengambil cuti, dan 32,5 persen berhenti bekerja atau sekolah akibat lupus.
Meski demikian, Sandra menegaskan lupus bukan akhir dari kehidupan. Saat ini, penanganan lupus sudah semakin berkembang dengan hadirnya terapi yang lebih inovatif dan terarah. “SLE memang tidak bisa sembuh total, tetapi bisa mencapai remisi. Dengan terapi yang tepat dan berkelanjutan, pasien tetap memiliki harapan untuk hidup produktif dan berkualitas,” katanya.
Ghaeiza Kay Rasuffi berkontribusi dalam penulisan artikel ini
Pilihan editor: Mengapa Penderita Lupus Rentan Terserang Tuberkulosis

















































