PERNYATAAN Presiden Prabowo Subianto yang melabeli pengkritik pemerintah sebagai 'londo ireng' dinilai salah alamat. Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion Dedi Kurnia Syah berpendapat, semestinya pelabelan londo ireng disematkan kepada pejabat atau mantan pejabat yang korup.
"Londo Ireng sebagai analogi pengkhianat perlu disematkan oleh tokoh seperti Dadan Hindayana, Nadiem Makarim, dan siapapun yang sudah terbukti korupsi," kata dia ketika dihubungi pada Senin, 27 Juli 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Dedi menilai pelabelan londo ireng oleh kepala negara kepada rakyatnya memprihatinkan. Dia menduga pelabelan yang salah sasaran itu bisa keluar dari presiden lantaran kualitas lingkar kekuasaan yang mengkhawatirkan.
"Pernyataan itu juga menandai tidak ada seorangpun bisa mempengaruhi estetika pidato presiden," kata dia.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto melontarkan sebutan "londo ireng" kepada para pengkritik kebijakannya saat menyampaikan pidato pada puncak peringatan Hari Lahir ke-28 Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Kamis, 23 Juli 2026. Dalam pidatonya, Prabowo mengatakan ada orang Indonesia yang senang mengabdi dan berbakti kepada bangsa lain. "Itu yang dulu kita sebut londo ireng, yang ikut Belanda perang melawan kita. Londo-londo ireng ini sampai sekarang masih ada," ujar Prabowo di Jakarta Convention Center, Jakarta, pada Kamis malam.
Ketua Umum Partai Gerindra itu kemudian mengklaim kelompok tersebut kini hadir dalam berbagai bentuk. "Wartawan, jurnalis, pengamat, LSM," kata Prabowo.
Sekertaris Jenderal Aliansi Jurnalis Independen Bayu Wardhana menuntut Presiden Prabowo Subianto menyampaikan permohonan maaf karena mengibaratkan wartawan sebagai 'londo ireng'. Menurut Bayu, metafora itu mendiskreditkan profesi jurnalis sebagai kelompok kritis.
Londo Ireng diartikan sebagai orang Indonesia yang dianggap berkhianat, membelot, atau lebih membela kepentingan asing dibandingkan bangsanya sendiri. "Sebaiknya Presiden minta maaf soal ini dan memperbaiki pidato-pidatonya," kata Bayu melalui pesan Whatsapp pada Jumat, 24 Juli 2026.
Bayu menyampaikan, penyematan istilah londo Ireng merupakan tuduhan tanpa dasar. Sebab jurnalis bekerja untuk memberitakan fakta, bukan kepentingan asing. Contohnya ketika jurnalis memberitakan kasus keracunan menu makan bergizi gratis yang menjadi program prioritas Prabowo.
Dia meminta Kepala Negara melihat pemberitaan itu sebagai kritik konstruktif, alih-alih sebagai suatu serangan personal. "Presiden jangan menyerang pembawa berita, tapi memperbaiki fakta yang buruk, misal dengan memperbaiki tata kelola MBG," kata dia.


















































