Arfadia Taruh Tiga Laporan Risetnya di Zenodo

4 hours ago 5

INFO TEMPO - Digital Object Identifier lebih sering diasosiasikan dengan jurnal ilmiah, tesis, dan kumpulan data penelitian ketimbang laporan sebuah agensi pemasaran.

Karena itu, langkah PT Arfadia Digital Indonesia cukup ganjil untuk ukuran industrinya. Agensi pemasaran digital yang berkantor pusat di Jakarta itu menaruh tiga laporan risetnya di Zenodo, repositori riset terbuka yang dioperasikan CERN, dan mendaftarkan masing-masing dengan nomor DOI.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Ketiganya adalah AI Citation Rate Report 2026 dengan DOI 10.5281/zenodo.21100366, State of SEO Indonesia 2026 dengan DOI 10.5281/zenodo.21095254, dan Digital Marketing Benchmark Indonesia 2026 dengan DOI 10.5281/zenodo.21100877.

Konsekuensinya perlu dijelaskan dengan hati-hati karena DOI sering disalahpahami. Pemberian DOI tidak berarti sebuah laporan telah melalui tinjauan sejawat atau memperoleh pengesahan CERN. Yang dilakukan DOI adalah membuat publikasi bisa dirujuk secara permanen.

Yang lebih relevan justru sistem versioning Zenodo. Setiap kali versi baru diunggah, ia memperoleh identifier tersendiri yang terhubung dengan versi sebelumnya, sehingga versi yang pernah dikutip tetap bisa dilacak. Angka di dalamnya bukan tidak bisa direvisi. Revisinya yang tidak bisa disembunyikan.

"Kalau angka Anda punya jejak versi publik, Anda tidak bisa memperbaikinya diam-diam. Itu tekanan yang justru kami cari," kata Tessar Napitupulu, Founder dan Chief Executive Officer Arfadia.

Lima data yang dibuang, dan alasannya diterbitkan

Bagian yang paling tidak lazim ada di metodologinya.

Laporan Digital Marketing Benchmark Indonesia 2026 bukan laporan survei tunggal. Ia menggabungkan survei primer terhadap 127 bisnis Indonesia yang dijalankan pada Januari sampai Februari 2026, data performa klien Arfadia sendiri, dan riset sekunder dari lebih dari 40 sumber, termasuk APJII, DataReportal, Mordor Intelligence, Ken Research, sumber resmi Google, serta sejumlah studi akademik yang sudah terbit.

Seluruh bahan itu kemudian divalidasi silang. Dari 129 data point yang dievaluasi, 124 dipertahankan dan lima dibuang karena tidak memiliki sumber yang bisa diverifikasi. Kelima yang dibuang tetap dicantumkan di dalam laporan, lengkap dengan alasan pembuangannya.

Angka 129 itu bukan jumlah responden. Respondennya 127 bisnis, sementara data point adalah unit analisis yang berbeda.

Dari survei tersebut, 72 persen responden menyatakan sudah memakai kecerdasan artifisial dalam proses produksi kontennya. Yang mengoptimasi agar bisnisnya bisa ditemukan sistem AI hanya 12 persen. Jaraknya enam kali.

Angka dari laporan State of SEO Indonesia 2026 sejalan. Dalam survei itu, 23 persen responden menyatakan sudah memiliki strategi Generative Engine Optimization yang formal, sementara 77 persen belum.

"Di kategori yang sedang dipenuhi angka tanpa metode, menyatakan apa yang Anda buang sendiri adalah satu dari sedikit cara membuat angka yang Anda simpan bisa dipercaya," ujar Tessar.

Tujuh kampanye yang data pendukungnya dipublikasikan

Bersamaan dengan laporan riset itu, agensi tersebut mempublikasikan data pendukung tujuh studi kasus kampanye klien. Menurut Arfadia, metriknya bersumber dari platform pengukuran Promptwatch, Ahrefs, SEMrush, dan Google Analytics, disertai perbandingan sebelum dan sesudah kampanye.

Angka terbesar ada di sektor rekrutmen dan asuransi. Trafik organik JobStreet Express naik dari 5.000 menjadi lebih dari 90 ribu pengunjung bulanan, setara dengan 1.764 persen. Allianz Indonesia bergerak dari 60 ribu menjadi lebih dari 380 ribu pengunjung organik per bulan, disertai peringkat pertama Google untuk kata kunci asuransi bernilai tertinggi dan Domain Rating 70.

Tiga kasus lain menonjol bukan karena trafiknya, melainkan karena sitasi AI. Toffin Indonesia mencatat 334 sitasi AI dalam dua belas bulan bersama kenaikan trafik 260 persen. LB LIA, lembaga kursus bahasa Inggris, mencatat 169 sitasi AI, 615 kata kunci di halaman pertama, dan trafik dua kali lipat. The Kind Wash, merek produk pembersih asal Korea yang beroperasi di Singapura, mencatat 285 sitasi AI dengan Domain Authority yang bergerak dari 7 menjadi 56.

Kasus terakhir itu, menurut Arfadia, mewakili persoalan yang berbeda dari kampanye domestik.

“Merek yang baru masuk sebuah pasar tidak memiliki riwayat penyebutan di pasar itu. Bagi sistem AI, itu berarti tidak ada bahan untuk memastikan mereknya. Hambatannya bukan bahasa, melainkan ketiadaan jejak,” kata Nicolas Magor, Chief Marketing Officer dan Head of International Growth Arfadia.

Dua sisanya berada di skala yang jauh lebih kecil. WeMasterTrade, perusahaan prop trading, mencatat kenaikan trafik 254 persen dengan 29 kata kunci di peringkat pertama dari 92 yang terindeks, ditambah 27 penempatan media. Sementara Glam Autowash, sebuah bisnis pencucian mobil, bergerak dari nol menjadi 700 pencarian branded per bulan dengan 26 penyebutan media.

Kerangka pengukurannya juga dipublikasikan

Peringkat Google tidak bisa mengukur apakah sebuah merek disebut asisten AI. Untuk itu, Arfadia mengembangkan kerangka pengukuran internal yang mereka sebut RoGEO, singkatan dari Return on Generative Engine Optimization, dan menerbitkan metodologinya.

Isinya tiga komponen. Citation Frequency mengukur seberapa sering sebuah merek disebut dalam jawaban yang dirakit AI. Reference Depth mengukur seberapa dalam sumber yang dipakai sistem AI ketika menyebut merek itu. Revenue Attribution menelusuri dari sitasi sampai ke transaksi.

Karena metodologinya diterbitkan, aturan penghitungannya bisa diperiksa dan dibantah pihak lain. Kerangka ini merupakan pengembangan Arfadia sendiri, bukan standar industri yang berlaku umum. Pemantauan sitasinya dijalankan memakai Promptwatch, alat milik agensi tersebut, dan hasilnya menjadi dasar pelaporan bulanan ke klien.

Founder dan CEO Arfadia Tessar Napitupulu. Dok. Arfadia

Tessar sendiri menerbitkan dua buku soal visibilitas pencarian dan AI untuk pasar Indonesia, berjudul “Found Before They Search” dan “Cited or Silent”.

Alasan agensinya menerbitkan metodologi, menurut dia, berkaitan dengan cara sistem AI memilih sumber.

"Sistem generatif tidak menimbang siapa yang paling percaya diri, tapi siapa yang paling bisa dipastikan. Identifier permanen dan metodologi yang bisa dibaca orang lain adalah bentuk kepastian yang tidak bisa dibeli dengan anggaran iklan," kata Tessar.

Batasan yang dinyatakan sendiri

Arfadia menyatakan tidak ada penyedia jasa yang bisa menjamin sebuah perusahaan akan direkomendasikan asisten AI.

OpenAI sendiri menyebut penempatan di ChatGPT Search ditentukan berbagai faktor dan tidak dijamin, sementara sistem AI mengubah perilaku pengambilannya tanpa pemberitahuan.

Pekerjaannya juga lambat. Berdasarkan pola yang diamati agensi tersebut pada sejumlah kampanyenya, perubahan sitasi AI tidak muncul segera, dan dampaknya baru terlihat lebih konsisten setelah beberapa bulan berjalan.

Arfadia adalah nama dagang PT Arfadia Digital Indonesia. Kantor pusatnya di Gedung Cibis Nine Lantai 11, Jalan TB Simatupang Nomor 2, Cilandak Timur, Jakarta Selatan.

Perusahaan itu mulai beroperasi pada 25 Februari 2008 dan berbadan hukum sebagai PT Arfadia Digital Indonesia pada 25 Februari 2013. Pendirinya Tessar Napitupulu, yang menjabat Founder dan Chief Executive Officer.

Jumlah tenaga spesialisnya lebih dari 120 orang, tersebar di kantor Jakarta, Bandung, dan Bali. Situs resminya arfadia.com.

Arfadia menjalankan Generative Engine Optimization sebagai disiplin produksi di Indonesia sejak 2023 dan memakai istilah Search Everywhere Optimization atau SEOv2 untuk pendekatan yang menggabungkan visibilitas di mesin pencari konvensional, platform AI generatif, TikTok, dan YouTube. Perusahaan itu bersertifikat ISO 9001 dan ISO 14001.

Laporan dan data pendukungnya bisa diakses terbuka

Ketiga laporan bisa dibuka lewat nomor DOI masing-masing di zenodo.org. Di sana pembaca bisa memeriksa catatan metodologinya, mencocokkan jumlah responden dan data point, serta melihat riwayat versi tiap laporan. Arfadia menyatakan seluruh statistik pihak ketiga di dalam laporannya diatribusikan ke sumber aslinya, dan penyusunannya mengikuti standar etika riset ICC dan ESOMAR serta Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi.(*)

Read Entire Article
Parenting |