ENTAH di manapun berada di dunia ini, Anda pasti mendapati mayoritas orang menggunakan tangan kanannya yang lebih aktif ketimbang tangan kiri. Sekitar 90 persen populasi manusia di dunia adalah pengguna tangan kanan, hanya 10 persen sisanya yang kidal. Padahal, gambaran ini tak terlihat dalam primata kerabat manusia lainnya.
Menurut tim peneliti di University of Oxford, Inggris, jawaban atas dominansi tangan manusia itu ternyata bukan pada tangan. Tapi pada kaki. Mereka menyatakan itu setelah membandingkan perilaku, sistem saraf, dan karakteristik sosial dari 41 spesies monyet dan kera dengan manusia.
Menggunakan kerangka kerja pemodelan statistika yang berfokus kepada hubungan evolusioner antar-spesies, tim peneliti itu pertama-tama memperhitungkan beberapa teori paling umum tentang dominansi tangan (handedness). Di dalamnya termasuk aspek seperti diet, habitat, massa tubuh, struktur sosial, penggunaan alat bantu, dan cara bergerak berpindah-pindah tempat (locomotion).
Tim kemudian mengintroduksi dua pengaruh hipotetis ke dalam perbandingan-perbandingan itu: ukuran atau volume otak dan rasio panjang tungkai bawah (kaki) dan atas (tangan). Rasio itu mungkin terlihat acak, tapi itu dianggap sebuah titik referensi standar untuk gerakan bipedal atau dua kaki.
Begitu dua perlakuan itu dimasukkan ke dalam perbandingan, pengecualian pada manusia dalam hal dominansi tangan menghilang sepenuhnya. Pada dasarnya, otak yang besar dan kaki yang panjang berkorelasi langsung dengan dominansi tangan.
Menurut peneliti antropologi evolusioner, yang juga anggota tim peneliti, Thomas Pusche, ini adalah studi pertama untuk menguji beberapa hipotesis utama tentang dominansi tangan manusia dalam satu kerangka penelitian. "Dari hasil yang kami dapat, diduga ini berkaitan dengan beberapa fitur kunci yang membuat kita, manusia modern terutama, berjalan tegak dan evolusi otak yang lebih besar," ujarnya dilansir Popular Science, 18 Mei 2026.
"Dengan membandingkan banyak spesies primata, kami mulai dapat memahami aspek mana dari handedness yang purba dan sama, dan mana yang unik manusia modern," ujar Pusche menambahkan.
Pusche dkk tak berhenti di sana. Dengan pemodelan yang sama, tim memperkirakan preferensi dominansi tangan di berbagai nenek moyang manusia yang sudah punah. Hasilnya sejalan dengan perubahan evolusioner yang lambat menuju penggunaan tangan kanan yang lebih aktif.
Spesies hominin awal seperti Ardipithecus dan Australopithecus hanya memiliki sedikit kecenderungan saja menuju dominansi tangan kanan apabila dibandingkan dengan bangsa kera besar saat ini. Datangnya genus Homo meningkatkan penggunaan tangan kanan lewat Homo ergaster, Homo erectus, dan Neanderthal. Puncaknya dapat dilihat saat ini dalam Homo sapiens.
Namun, ada catatan pengecualian yang diberikan tim peneliti kepada Homo floresiensis di Indonesia atau yang dikenal sebagai hobbit. Pada waktu yang bersamaan, fisiologi mereka sepertinya menerangkan data pencilan. Homo floresiensis memiliki tubuh dan otak yang kecil yang terpesialisasi dalam berjalan tegak dan memanjat, tidak bipedal secara penuh.
Dengan kesimpulan ini, para peneliti kini meyakini dua fase terjadi untuk transisi ke penggunaan tangan kanan yang begitu dominan. Nenek moyang kera purba pertama berjalan tegak, yang kemudian memungkinkan mereka untuk menggunakan tungkai atasnya lebih sering untuk pekerjaan atau hal-hal lain. Seiring otak terus berkembang dan tumbuh, fokus sisi kanan semakin solid dalam H. sapiens saat ini.
"Temuan kami mengidentifikasi ekspansi bipedalisme dan saraf-anatomis sebagai kemungkinan faktor kunci lateralisasi manusia yang unik, serta mengungkap pula bahwa pola ekologis yang lebih luas menajamkan perihal dominansi tangan di seluruh primata," tulis hasil penelitian itu.
Seperti dikutip dari Jurnal PLOS Biology edisi 27 April 2026, yang mempublikasikan hasil penelitian ini, Pusche dan timnya berharap bisa mempelajari lebih jauh bagaimana kultur manusia mengarah ke penggunaan tangan kanan yang lebih dominan. Juga, kenapa alternatif dominan tangan kiri masih eksis, dan apakah tren yang sama juga terlihat dalam hewan lain.
"Penelitian ini menyediakan sebuah kerangka kerja untuk memisahkan adaptasi spesifik manusia dari tren primata umumnya dalam evolusi perilaku yang asimetris," tertulis di abstrak hasil penelitian itu.

















































