TREN mengenalkan bahasa asing kepada anak sejak usia dini kini semakin marak dilakukan oleh para orang tua di Indonesia. Di tengah dunia yang kian terhubung, langkah ini tidak lagi sekadar dipandang sebagai bekal komunikasi masa depan sekaligus persiapan dunia kerja secara profesional, melainkan juga instrumen penting untuk memicu perkembangan kognitif anak secara optimal.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa proses mempelajari bahasa baru melibatkan berbagai fungsi otak secara bersamaan, termasuk memori, perhatian, pemecahan masalah, dan kemampuan beradaptasi terhadap informasi baru. Penelitian global yang dikemukakan oleh platform belajar bahasa Duolingo menunjukkan bahwa belajar bahasa secara teratur berfungsi layaknya olahraga mental bagi otak. Otak dipaksa untuk terus memanggil informasi, mengenali pola, serta beralih di antara konsep linguistik yang berbeda.
Baca juga: Sejak Usia Berapa Anak Aman Diajak Naik Gunung?
Bahkan, studi dari Baycrest dan York University menegaskan bahwa penggunaan platform belajar bahasa selama 30 menit sehari dalam kurun waktu empat bulan mampu meningkatkan fungsi eksekutif, memori kerja, dan fokus secara signifikan. Para peneliti mengamati peningkatan di sejumlah area, termasuk pada memori kerja, fokus dan fleksibilitas kognitif.
Menurut psikolog anak, remaja dan keluarga Ayoe Sutomo aktivitas mempelajari bahasa baru tidak hanya menambah kosakata. Tapi juga melatih cara memahami pola, menghubungkan informasi dan menyesuaikan diri dengan konteks yang berbeda.
"Dalam berbagai penelitian, kemampuan-kemampuan ini berkaitan dengan berkembangnya fleksibilitas berpikir yang menjadi pondasi penting dalam proses belajar dan pemecahan masalah sehari-hari," ujar Ayoe dalam keterangan tertulis pada Selasa, 23 Juni 2026.
Namun, Ayoe mengingatkan bahwa manfaat tersebut tidak terjadi secara instan. Keberhasilan anak sangat bergantung pada konsistensi, frekuensi belajar yang teratur, suasana belajar yang menyenangkan, serta pendampingan aktif dari orang tua saat anak berinteraksi dengan perangkat digital.
Berbeda dengan aktivitas edukatif yang hanya berfokus pada satu keahlian tunggal, belajar bahasa melibatkan daya ingat, perhatian, penalaran dan pengambilan keputusan secara serentak. Kini penguasaan bahasa asing sejak dini dipandang sebagai investasi jangka panjang. Selain mempermudah komunikasi di era global, keterampilan multibahasa ini juga efektif dalam membentuk karakter anak yang adaptif, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, serta memiliki fondasi kuat untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat. Di Indonesia, para orang tua mulai mengadopsi metode pembelajaran multibahasa yang variatif. Dengan memadukan interaksi sehari-hari di rumah, pendidikan formal, hingga pemanfaatan platform digital interaktif.
LAODE MUHAMAD ASHEGAF
Pilihan editor: Belajar Bahasa Inggris Berbasis AI Makin Akurat?
















































