Dari Guru PAUD hingga Bunda Literasi, Cara Pekanbaru Perkuat Pendidikan

6 hours ago 8

INFO CANTIKA.COM — Ketika anak-anak semakin lekat dengan gawai, Pemerintah Kota Pekanbaru mencoba memperkuat pendidikan dan literasi dari berbagai sisi. Upayanya tidak hanya menyasar siswa, tetapi juga guru, perpustakaan, keluarga, hingga masyarakat di tingkat kelurahan.

Perempuan ditempatkan sebagai salah satu penggerak dalam upaya tersebut. Ketua Tim Penggerak PKK sekaligus Bunda PAUD dan Bunda Literasi Kota Pekanbaru, Sulastri Agung Nugroho, mengatakan perempuan memiliki posisi strategis untuk mendampingi pemerintah dalam menjalankan berbagai program pendidikan dan sosial.

“Kalau Bapak (Walikota Pekanbaru) mungkin lebih fokus ke pembangunan infrastruktur dan sebagainya. Kita yang perempuan itu lebih bisa membantu sebagai pendamping. Di situ peran kami untuk bagaimana bisa lebih bergerak meningkatkan literasi masyarakat,” kata Sulastri pada 17 September 2026.

Pendekatan tersebut membuat Sulastri Agung Nugroho     meraih Apresiasi Swara Cantika 2026 (ASCA 2026) di bidang Pendidikan dan Literasi pada 17 September 2026 di Ballroom Samisara, Jakarta . Sulastri meraih penghargaan ini atas inisiatif strategis yang secara langsung menyasar ketahanan ekonomi keluarga, UMKM berbasis perempuan, dan penguatan kapasitas dari tingkat kelurahan hingga kota guna memutus rantai kemiskinan antar generasi.  Penghargaan itu diberikan atas kiprahnya memperkuat pendidikan dan budaya literasi di keluarga dan masyarakat Pekanbaru.

Perhatian Sulastri dalam hal literasi dimulai pada pendidikan anak usia dini. Pemerintah Kota Pekanbaru memberikan beasiswa kepada 100 guru PAUD untuk melanjutkan pendidikan S1. Program itu menggunakan skema Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), sehingga pengalaman dan kompetensi yang telah dimiliki guru dapat diperhitungkan dalam proses pendidikan. “Untuk guru-guru PAUD itu, SDM-nya kita tingkatkan. Ada 100 guru-guru PAUD yang ada di Kota Pekanbaru, kita beasiswakan untuk mendapatkan pendidikan S1 secara gratis sampai selesai,” ujar Sulastri.

Program tersebut bukan sekadar peningkatan jenjang pendidikan guru. Pendidikan usia dini menjadi perhatian karena merupakan tahap awal perkembangan anak. Sulastri mengatakan anak pada usia tersebut membutuhkan perhatian terhadap perkembangan intelektual sekaligus mental dan spiritual. “Anak-anak di usia dini itu usia emas. Perkembangan otak, mental, semuanya, spiritual anak-anak itu di usia-usia emas sangat penting untuk semuanya mendapat perhatian, mendapat kasih sayang,” katanya.

Upaya memperkuat PAUD juga dilakukan melalui penyediaan satuan pendidikan sejenis atau SPS. Pemkot Pekanbaru pada 2025 menyatakan 83 kelurahan telah memiliki sedikitnya satu SPS PAUD. Program ini antara lain ditujukan untuk memberikan akses pendidikan bagi anak dari keluarga yang belum mampu menyekolahkan anaknya di PAUD umum.

Membuat Perpustakaan Lebih Menarik

Setelah memperkuat kualitas pendidik di tingkat PAUD, Pekanbaru juga membenahi lingkungan belajar di sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama. Salah satu perhatian Sulastri adalah perpustakaan sekolah. Menurut dia, perpustakaan perlu dibuat lebih menarik karena kebiasaan anak telah berubah. Gawai menjadi salah satu tantangan dalam mendorong anak membaca. “Anak-anak kita lebih tertarik gadget daripada membaca dan sebagainya. Nah, itu kita harus meningkatkan juga bagaimana library atau pustaka-pustaka yang ada di sekolah-sekolah itu menarik,” kata Sulastri.

Pemerintah Kota Pekanbaru, menurut dia, tengah mendorong standardisasi perpustakaan sekolah. “Kita lagi berjalan bagaimana library atau pustaka yang ada di sekolah-sekolah itu kita akreditasi ulang. Kita akreditasi ulang untuk bagaimana setiap pustaka yang ada di sekolah itu punya standardisasi. Jadi nggak asal-asal, tapi ada standarnya,” ujarnya.

Selain membenahi perpustakaan, pemerintah memiliki wacana membentuk duta literasi di setiap sekolah. Siswa yang menjadi duta diharapkan dapat ikut mengajak teman-temannya memanfaatkan perpustakaan dan melakukan kegiatan yang positif. "Sekarang kita lagi bikin, ada wacana bahwa ada duta literasi di sekolah. Setiap sekolah ada dutanya,” tutur Sulastri.

Program literasi juga tidak hanya dilakukan dengan menyediakan buku. Siswa dari sekolah-sekolah di Pekanbaru secara rutin diarahkan berkunjung ke Perpustakaan Kota Pekanbaru. “Dari sekolah itu rutin, anak-anak digilir dari setiap sekolah berkunjung ke pustaka yang ada di Kota Pekanbaru. Jadi diwajibkan, dikasih waktu mereka harus berkunjung ke pustakaan,” kata dia.

Upaya itu sejalan dengan agenda Pemerintah Kota Pekanbaru melalui Festival Literasi 2026. Festival tersebut menggelar lomba bertutur, konten video, resensi buku, perpustakaan terbaik, serta pelatihan menulis artikel. Pemerintah juga memperkenalkan konsep Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial. Artinya, literasi tidak hanya ditempatkan sebagai kegiatan membaca buku. Anak juga didorong untuk bercerita, menulis, membuat konten, dan mengenal karya lokal.

Pada Festival Literasi 2026, misalnya, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Pekanbaru menyerahkan karya penulis lokal serta buku resensi karya siswa SMP/MTs kepada Bunda Literasi Kota Pekanbaru. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem literasi dari produksi bacaan hingga penggunaannya oleh masyarakat.

Literasi Dikaitkan dengan Kesehatan dan Karakter

Pendidikan dan literasi di Pekanbaru juga dikembangkan melalui kolaborasi lintas sektor. Sulastri mengatakan pemerintah tidak ingin pendidikan berjalan sendiri tanpa terhubung dengan persoalan lain yang dihadapi anak. “Kita sering mengadakan FGD bagaimana kita bisa bersinergi. Untuk di bidang pendidikan itu, kita harus mengaitkan dengan bidang-bidang lain. Misalnya kesehatan, dikolaborasikan dengan Dinas Kesehatan,” ujarnya.

Salah satu bentuknya adalah menghidupkan kembali Unit Kesehatan Sekolah atau UKS dan dokter kecil. “Sekarang kita fokus bagaimana UKS, unit kesehatan sekolah, juga aktif lagi dengan adanya dokter-dokter cilik di sekolah,” kata Sulastri.

Kolaborasi tersebut diarahkan agar anak-anak tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga memahami kesehatan dan mampu mengajak teman-temannya menerapkan perilaku hidup sehat.

Kegiatan Pramuka juga ditempatkan sebagai bagian dari penguatan karakter. Sulastri yang juga terlibat dalam kegiatan kepramukaan di Pekanbaru mengatakan anak-anak yang aktif dalam Pramuka dapat menjadi contoh bagi siswa lain. “Kalau Pramuka itu sudah terlatih, punya karakter, terus memang tangguh dan mandiri. Itu dia menjadi semacam pionnya untuk menjadi penguat untuk anak-anak yang lain untuk bisa mandiri juga,” katanya.

Perempuan Menggerakkan Literasi dari Kelurahan

Penguatan pendidikan dan literasi kemudian diperluas hingga ke masyarakat. Sulastri mengatakan jaringan Bunda Literasi telah dibentuk di 15 kecamatan dan 84 kelurahan di Pekanbaru. “Di Pekanbaru memang sudah terbentuk semua yang namanya bunda-bunda literasi. Baik itu kecamatan, sudah dilantik, mau itu kelurahan. Kita nggak ada desa di sana. Artinya semua kita sudah ada bunda-bunda literasi yang ada di 84 kelurahan dan 15 kecamatan,” ujar Sulastri.

Jaringan tersebut menjadi salah satu cara pemerintah mendekatkan agenda literasi kepada masyarakat. Para Bunda Literasi diharapkan mengajak perempuan lain dan keluarga untuk terlibat dalam pendidikan anak. “Melalui bunda-bunda yang ada ini semua bisa bersinergi. Kami selalu bagaimana bisa bunda-bunda yang ada itu kita gerakkan juga, bagaimana bisa mengedukasi masyarakat, mengajak masyarakat, mengajak ibu-ibu,” kata dia.

Menurut Sulastri, peran perempuan tidak berhenti pada kegiatan membaca. Kader perempuan juga dilibatkan dalam persoalan yang berkaitan dengan kualitas hidup anak, termasuk mencari anak yang mengalami stunting maupun anak yang putus sekolah. “Kalau di Pekanbaru, peran ibu-ibu itu sangat penting. Ibu-ibu selalu di nomor satu. Misalnya dari sisi kita mencari anak stunting, anak putus sekolah, itu semua ibu-ibu yang digerakkan,” katanya.

Peran perempuan tersebut juga masuk ke bidang ekonomi. Sulastri mencontohkan keterlibatan kader PKK dalam membantu penagihan Pajak Bumi dan Bangunan melalui pendekatan jemput bola. Menurut dia, kerja sama dengan pemerintah daerah tersebut sekaligus memberikan tambahan penghasilan bagi kader yang terlibat. “Artinya kan itu juga menambah perekonomian. Jadi ibu-ibu sangat penting di Kota Pekanbaru,” kata Sulastri.

Tantangan Literasi di Era Gawai

Meski berbagai program telah dijalankan, Sulastri mengakui meningkatkan minat baca anak bukan pekerjaan mudah. Tantangan terbesar datang dari perubahan kebiasaan anak yang semakin dekat dengan perangkat digital. “Kalau tantangan pasti sangat berat sekarang, karena anak-anak itu lebih tertarik gadget, duduk, mageran. Itu yang harus kita pacu lagi supaya tertarik melepas gadget tapi mau melakukan hal-hal lain yang positif,” ujarnya.

Karena itu, pendekatan yang dilakukan tidak cukup dengan meminta anak meninggalkan gawai. Pemerintah perlu menyediakan alternatif kegiatan yang dianggap menarik oleh anak, mulai dari perpustakaan dengan koleksi yang sesuai minat, kegiatan kreatif, Pramuka, hingga aktivitas literasi berbasis video dan cerita.

Tantangan tersebut datang ketika kemampuan literasi dasar perempuan Pekanbaru sebenarnya sudah relatif tinggi. Data BPS Kota Pekanbaru dari Susenas 2025 menunjukkan angka melek huruf perempuan usia 15–24 tahun mencapai 100 persen, sedangkan perempuan usia 15 tahun ke atas mencapai 99,59 persen.

Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan literasi perempuan di Pekanbaru kini tidak semata soal kemampuan membaca dan menulis. Tantangannya bergerak ke tahap berikutnya. Yaitu, bagaimana kemampuan tersebut digunakan untuk memperoleh informasi, mendampingi pendidikan anak, memahami persoalan kesehatan, serta berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Di titik inilah perempuan ditempatkan sebagai penggerak. Pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, sementara literasi tidak hanya berlangsung di perpustakaan. Keduanya juga tumbuh dari keluarga dan lingkungan masyarakat.

Menurut dia, penghargaan ASCA 2026 tersebut diharapkan dapat menjadi motivasi bahwa perempuan dapat mengambil peran melalui berbagai karya dan upaya di lingkungannya. (*)

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

Read Entire Article
Parenting |