Diplomasi Global dari Teuku Umar

2 hours ago 5

INFO TEMPO - Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri menerima tamu dari negara-negara sahabat. Isu Timur Tengah menjadi salah satu pembahasan dominan dalam pertemuan, kerja sama strategis di bidang ilmu pengetahuan dan pembangunan berkelanjutan, serta menyoroti hubungan historis dan diplomasi antarbangsa.

Menyampaikan kembali buah pikiran Soekarno yang menjadi cikal bakal Gerakan Non-Blok melalui pidato “To Build the World Anew” di Sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa. Dalam pidato tersebut, Bung Karno mempromosikan nilai Pancasila, semangat anti-imperialisme dan anti-kolonialisme, sekaligus mendorong reformasi PBB. Sebuah ide tentang perdamaian dunia yang telah disuarakan Indonesia jauh sebelum isu reformasi tata dunia menjadi perbincangan global seperti sekarang.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Demi perdamaian, solusi strategis dalam menjawab tantangan global, sampai kampanye budaya melalui cendera mata mencerminkan bahwa diplomasi dapat dilakukan dari ruang pertemuan sederhana di Indonesia. Hubungan antarbangsa tetap dapat dibangun melalui pertukaran gagasan, penghormatan budaya, dan semangat persahabatan yang setara.

***

Satu per satu tamu agung berdatangan ke kediaman Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri di Jalan Teuku Umar, Menteng, Jakarta Pusat. Mereka mewakili sejumlah negara dengan berbagai agenda krusial sekaligus menjalin silaturahmi dalam suasana hangat dan penuh keakraban. Kepala negara, duta besar, sampai delegasi tersebut berasal dari Timur Tengah, Amerika Utara, Asia Timur, hingga Australia.

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menerima kunjungan Duta Besar Jerman untuk Indonesia Ralf Beste di kediamannya, Jalan Teuku Umar, Jakarta, pada Jumat, 17 April 2026. Dok. PDIP

Isu Timur Tengah menjadi salah satu pembahasan dominan dalam sejumlah pertemuan. Dalam diskusi dengan perwakilan Iran, Arab Saudi, Irak, Kuwait, Palestina, dan Kuba, Megawati menyoroti konflik kawasan, dukungan terhadap perdamaian, serta solidaritas terhadap bangsa-bangsa yang menghadapi tekanan geopolitik. Sikap konsisten Indonesia terhadap perjuangan Palestina dan pentingnya stabilitas kawasan menjadi benang merah dalam diskusi-diskusi tersebut.

Megawati tak tinggal diam ketika Amerika dan Israel menyerang Iran hingga menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatullah Ali Khamenei, pada Sabtu, 28 Februari 2026. Melalui surat, dia menyampaikan duka kepada Pemerintah Iran melalui sepucuk surat yang dititipkan lewat Kantor Kedutaan Besar Iran di Jakarta, pada Selasa, 3 Maret 2026. Dalam surat tersebut, Megawati menulis sosok Ayatullah Ali Khamenei memiliki kedekatan batin dan pemikiran dengan perjuangan Bung Karno, selaku Bapak Bangsa, Proklamator, dan Presiden pertama RI.

"Saya menegaskan kembali bahwa bangsa Indonesia berdiri bersama rakyat Iran dalam menolak dan mengecam keras segala bentuk agresi militer sepihak yang melanggar kedaulatan negara dan membahayakan perdamaian kawasan maupun dunia," tulis Megawati dalam surat itu. Pun saat Pemerintahan Iran telah memiliki pemimpin baru, yakni Mojtaba Khamenei.

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menerima Duta Besar (Dubes) Arab Saudi untuk Indonesia, Faisal Abdullah Al Amoudi di kediamannya, Menteng, Jakarta, pada Kamis, 9 April 2026. DOK. PDIP

Megawati menerima kunjungan Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi di kediamannya, Menteng, Jakarta, Selasa, 10 Maret 2026. Saat itu, Megawati menitipkan suratnya untuk Mojtaba Khamenei yang berisi ucapan selamat serta mendoakan agar bangsa Iran memperoleh kekuatan menuju kemajuan yang berkeadilan dan bermartabat, serta membangun dunia yang lebih damai dan konstruktif bagi seluruh umat manusia.

Dalam pertemuan dengan Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) Kedutaan Besar Irak untuk Indonesia, Ammar Hameed Saadallah Al-Khalidy, Megawati menyampaikan tentang gagasan Bung Karno yang menjadi cikal bakal Gerakan Non-Blok dan pidato "To Build the World Anew" di Sidang Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang mempromosikan Pancasila, anti-imperialisme dan anti-kolonialisme, serta reformasi PBB. "Ternyata Bung Karno sudah melontarkan ide reformasi PBB di tahun 1960 melalui pidatonya, jauh sebelum pembahasan masalah reformasi PBB yang ramai dibahas sejak 1993," kata Ammar yang pernah mempelajari hasil Konferensi Asia-Afrika Bandung dan menjadi diplomat di PBB.

Duta Besar Arab Saudi untuk Indonesia, Faisal Abdullah Al Amoudi meminta Megawati berkontribusi aktif terhadap situasi terkini di Timur Tengah. Menjawab permintaan tersebut, Megawati menyatakan siap menjadi jembatan bagi siapapun yang berkonflik untuk mencapai perdamaian sejati.

Faisal juga menyambut usulan Megawati untuk menanam "Pohon Soekarno" di Kota Suci Mekah dan daerah pelaksanaan haji sebagai bagian dari dukungan program penanaman 10 miliar pohon di Arab Saudi. Sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Megawati akan memberikan hasil penelitian jenis pohon yang cocok dengan kondisi alam Saudi Arabia dan menyumbang bibit pohon.

Duta Besar Palestina untuk Indonesia HE. Mr. Abdalfatah A.K. Alsattari menyampaikan terima kasih atas dukungan dan konsistensi sikap Megawati terhadap Palestina dalam melawan Israel. Megawati menitikkan air mata ketika Abdalfatah menceritakan betapa menderitanya rakyat Palestina atas pendudukan Israel. Dari situ Megawati terkenang perjuangan bangsa Indonesia yang begitu lama mengalami ketertindasan.

"Israel mungkin dapat menghancurkan secara fisik, namun saya yakin di setiap dada rakyat Palestina terdapat jiwa yang tidak mudah menyerah dan bergelora tekad kuat untuk merdeka. Sama seperti Indonesia, dan saya yakin suatu saat kemerdekaan Palestina yang paripurna akan tercapai," kata Megawati. "Be strong."

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menerima Rektor Universiti Tunku Abdul Rahman (UTAR) Malaysia Professor Dato’ Dr. Ewe Hong Tat di Menteng, Jakarta, pada Senin, 27 April 2026. DOK. PDIP

Pertemuan Megawati dengan sejumlah tamu asing juga menghasilkan pembahasan strategis di bidang ilmu pengetahuan dan pembangunan berkelanjutan. Dalam dialog dengan Rektor Universiti Tunku Abdul Rahman (UTAR) Malaysia, Professor Dato' Dr. Ewe Hong Tat, dibahas peluang kerja sama riset antara Malaysia dan BRIN dalam bidang biodiversitas, pangan, energi berkelanjutan, hingga mitigasi perubahan iklim. Sementara itu, kerja sama pengembangan ilmu pengetahuan juga menjadi perhatian dalam pembicaraan dengan Rusia.

Utusan dari Qatar, Jerman, Korea Selatan, dan Australia turut membahas tantangan global terkini. Mulai dari kesetaraan perempuan, dinamika demokrasi, reunifikasi Korea, hingga hubungan bilateral, dan perkembangan geopolitik dunia. Rangkaian pertemuan ini menunjukkan bahwa Megawati masih menjadi figur yang diperhitungkan dalam percakapan internasional, terutama terkait perdamaian, diplomasi, dan kerja sama lintas negara.

Selain isu geopolitik, sejumlah pertemuan juga menyoroti hubungan historis dan diplomasi antarbangsa. Saat menerima delegasi dari Rusia dan India, Megawati membahas kedekatan sejarah Soekarno dengan para pemimpin dunia pada masanya. Sementara pertemuan dengan Presiden Timor Leste, José Ramos-Horta, membahas kelanjutan dialog perdamaian internasional.

Megawati selalu menerima tamu dari negara sahabat dengan tangan terbuka sebagaimana pesan sang ayah agar segera menyambut tamu kenegaraan dengan baik karena mereka mewakili suatu negara yang berdaulat. "Karena itulah ketika menjadi Presiden dan ada dubes yang mau bertemu, maka selalu saya prioritaskan," ucap Megawati.

Diskusi gagasan ideologis untuk perdamaian dunia, solusi strategis dalam menjawab tantangan global, sampai kampanye budaya melalui cendera mata berupa tenun, batik, miniatur Candi Borobudur dan Perahu Pinisi, buku, dan lainnya, mencerminkan bahwa diplomasi tidak selalu harus dilakukan lewat kunjungan seremonial nan megah ke luar negeri. Dari ruang pertemuan sederhana di Indonesia, hubungan antarbangsa tetap dapat dibangun melalui pertukaran gagasan, penghormatan budaya, dan semangat persahabatan yang setara.

Presiden Kelima Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri menerima sejumlah tamu kehormatan sepanjang 2026. Dok. PDIP (*)

Read Entire Article
Parenting |