Bagaimana UNJ Menggelar Ujian Khusus Penyandang Disabilitas

3 hours ago 6

UNIVERSITAS Negeri Jakarta kembali menyelenggarakan ujian masuk khusus penyandang disabilitas. Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (Penmaba) Mandiri Jalur Disabilitas UNJ dilaksanakan secara luring di Gedung Dewi Sartika (GDS) UNJ, Jakarta pada Sabtu, 18 Juli 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Ujian tahun ini diikuti 138 peserta, meningkat dari tahun sebelumnya yang mencapai 125 orang. Rektor UNJ Komarudin mengatakan ujian khusus disabilitas adalah bentuk tanggung jawab kampusnya untuk menyediakan lingkungan belajar yang inklusif, termasuk bagi penyandang disabilitas.

"Pendidikan tinggi harus memberikan kesempatan yang sama bagi setiap individu untuk mengembangkan potensinya," kata Komarudin dalam keterangan tertulis pada Sabtu ini.

Menurut Komarudin, UNJ menyiapkan berbagai fasilitas khusus untuk menggelar ujian jalur disabilitas. Bagaimana persiapan kampus tersebut mengadakan ujian untuk para penyandang disabilitas?

Untuk memastikan seluruh peserta dapat mengikuti proses seleksi dengan baik, UNJ menyediakan berbagai bentuk pendampingan sesuai kebutuhan masing-masing peserta. Peserta tunanetra, autisme, maupun Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) memperoleh dukungan dari Relawan Disabilitas UNJ (Redis) yang mendampingi sejak kedatangan di kampus hingga seluruh tahapan seleksi selesai.

Selain itu, panitia juga menempatkan juru bahasa isyarat di ruang-ruang ujian guna membantu peserta dengan hambatan pendengaran mengikuti ujian tanpa kendala komunikasi.

Koordinator Redis Penmaba Disabilitas, Prila Ahdanila, mengatakan kebutuhan pendampingan peserta telah dipetakan sejak sebelum pelaksanaan ujian. Data peserta dan kebutuhan layanan diperoleh dari Kantor Admisi UNJ untuk kemudian disesuaikan dengan jumlah relawan yang tersedia.

Menurut dia, tahun ini Redis mengerahkan 65 relawan mahasiswa yang berasal dari berbagai angkatan dan program studi. "Kami membagi tugas relawan agar setiap peserta memperoleh dukungan yang sesuai," kata dia.

Prila menyampaikan, para relawan telah mendapatkan pelatihan bahasa isyarat dan pendampingan disabilitas secara berkala. Mereka tidak hanya mendampingi peserta saat ujian tertulis, tetapi juga pada tahap wawancara.

“Relawan membantu mobilisasi peserta dan menjembatani komunikasi antara panitia dengan peserta disabilitas, sementara proses administrasi dan verifikasi tetap ditangani oleh pihak Admisi,” tutur Prila.

Rektor UNJ Komarudin turut meninjau langsung pelaksanaan seleksi jalur disabilitas. Ia menilai ujian telah berjalan dengan baik dan mengapresiasi keterlibatan relawan dan seluruh panitia yang mendukung kelancaran proses seleksi.

Meski demikian, Komarudin menilai masih terdapat ruang perbaikan, terutama terkait materi ujian tertulis. Menurut dia, karakteristik peserta disabilitas perlu menjadi pertimbangan dalam penyusunan instrumen seleksi maupun mekanisme penilaian.

"Kalau soalnya masih sama dengan jalur reguler, maka perlu ada penyesuaian dalam kriteria penilaiannya agar proses seleksi berlangsung lebih adil," ujar Prof. Komarudin.

Saat ini, ia menyampaikan, kuota penerimaan mahasiswa melalui jalur disabilitas di UNJ bersifat fleksibel dan dapat disesuaikan dengan perkembangan jumlah pendaftar.

Read Entire Article
Parenting |