FENOMENA El Nino yang diperkirakan berlangsung hingga akhir 2026 berpotensi meningkatkan penyebaran demam berdarah dengue (DBD). Dokter mengingatkan penyakit ini dapat menyerang semua kelompok usia, anak-anak dan orang dewasa dengan penyakit komorbid memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi.
Studi terbaru Universitas Gadjah Mada memperkirakan lebih dari dua juta pasien menjalani perawatan akibat DBD di Indonesia sepanjang 2024. Jumlah itu diperkirakan meningkat seiring El Nino yang memicu kenaikan suhu udara sehingga memperluas habitat nyamuk Aedes Aegypti. Data Kementerian Kesehatan juga menunjukkan 41 persen kematian akibat DBD dalam tujuh tahun terakhir terjadi pada anak berusia 5-14 tahun.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Ketua Satuan Tugas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Hartono Gunardi meminta orang tua tetap memberi kesempatan anak beraktivitas di luar rumah dengan menerapkan perlindungan dari gigitan nyamuk. "Nyamuk penyebab DBD lebih aktif menggigit pada pagi hingga sore hari. Saat anak beraktivitas di luar, gunakan pakaian berlengan panjang berwarna terang karena nyamuk lebih menyukai warna gelap. Penggunaan insect repellent juga dapat membantu, tetapi tidak boleh berlebihan," kata Hartono dalam kegiatan ABCD Land di Jakarta, Jumat, 19 Juni 2026.
Menurut Hartono, DBD bukan lagi penyakit musiman sehingga kewaspadaan harus dilakukan sepanjang tahun. Ia mengimbau orang tua menerapkan gerakan 3M, mengenali gejala DBD sejak dini, serta berkonsultasi dengan dokter mengenai vaksin dengue yang telah direkomendasikan IDAI sebagai bagian dari perlindungan terhadap anak. "Perlindungan terhadap anak tidak bisa hanya mengandalkan satu langkah. Pendekatan yang komprehensif, termasuk vaksinasi, dapat membantu mengurangi risiko rawat inap dan komplikasi akibat DBD," ujarnya.
Ancaman DBD juga membayangi orang dewasa. Ketua Satuan Tugas Imunisasi Dewasa Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Sukamto Koesnoe mengatakan penderita dengan komorbid memiliki risiko komplikasi lebih tinggi. Namun, orang tanpa penyakit penyerta juga tetap dapat mengalami DBD berat.
"Kalau ada komorbid memang risikonya meningkat. Tetapi bukan berarti orang yang merasa sehat dan tidak memiliki komorbid tidak berisiko mengalami DBD berat," kata Sukamto.
Menurut dia, banyak orang baru mengetahui memiliki hipertensi, diabetes, penyakit ginjal, atau penyakit paru kronis setelah menjalani perawatan di rumah sakit. Karena itu, DBD kerap memperburuk penyakit penyerta yang sebelumnya tidak terdiagnosis.
PAPDI mencatat penderita hipertensi memiliki risiko komplikasi DBD dua hingga tiga kali lebih tinggi dibandingkan orang tanpa komorbid. Risiko itu meningkat menjadi tiga hingga lima kali lipat pada penderita diabetes melitus, hingga tujuh kali lipat pada pasien penyakit ginjal, serta dua hingga 12 kali lipat pada penderita asma atau penyakit paru kronis.
Sukamto mengatakan pencegahan DBD tidak cukup hanya mengandalkan pemberantasan sarang nyamuk. Menurut dia, deteksi dini gejala dan vaksinasi sesuai rekomendasi tenaga kesehatan juga menjadi bagian dari perlindungan, terutama bagi kelompok berisiko.
Presiden Direktur Takeda Innovative Medicines Andreas Gutknecht mengatakan DBD masih menjadi penyakit serius yang mengancam jiwa di seluruh Indonesia, dan bebannya terus bertumbuh. Timnya terus mendukung upaya pencegahan DBD melalui edukasi yang menjangkau masyarakat luas. "Melalui kolaborasi yang berkelanjutan kita dapat membantu lebih banyak keluarga Indonesia mengambil langkah perlindungan yang tepat sebelum terlambat," kata Andreas.















































