CANTIKA.COM, Jakarta - Festival Payung Indonesia hadir lagi! Seperti yang kita ketahui, padi dan nasi begitu lekat dengan keseharian masyarakat Indonesia. Ungkapan “belum makan nasi” bahkan kerap digunakan untuk menggambarkan seseorang yang belum benar-benar makan. Namun, di balik posisi nasi sebagai makanan pokok, terdapat perjalanan sejarah panjang tentang bagaimana padi hadir dan berkembang di Nusantara.
Jejaknya dapat ditemukan melalui berbagai peninggalan arkeologis, mulai dari sekam padi di Gua Maros, Sulawesi Selatan, hingga relief pertanian sawah dan hama tikus di Candi Borobudur. Sebelum mengenal beras, masyarakat Nusantara diketahui mengonsumsi berbagai sumber pangan seperti singkong, ubi jalar, talas, dan jewawut.
Direktur Program Festival Payung Indonesia, Heru Mataya mengatakan perjalanan budaya bertani padi kemudian melahirkan beragam mitologi tentang sosok dewi kesuburan dan kehidupan. Di Indonesia, figur tersebut dikenal dengan sejumlah nama, antara lain Dewi Sri di Jawa, Bali, Lombok, dan Sulawesi, Nyi Pohaci dalam tradisi Sunda, serta Sangiang Serri dalam budaya Bugis.
"Kisah tentang dewi padi juga memiliki kemiripan dengan kepercayaan di sejumlah negara Asia, seperti Phosop di Thailand, Po Nagar di Kamboja, dan Inari di Jepang. Warisan tersebut kemudian berkembang dalam berbagai bentuk seni dan tradisi, termasuk tari, musik, ritual panen hingga sistem penanggalan pertanian Pranata Mangsa," ucap Heru melalui siaran pers, 20 Agustus 2026.
Kekayaan sejarah itulah yang menjadi inspirasi Festival Payung Indonesia (FESPIN) XIII yang berlangsung di Taman Balekambang, Solo, pada 4–6 September 2026. Mengusung tema “Catra Padi – Sepayung Dewi Sri”, FESPIN tahun ini mengajak masyarakat melihat padi bukan hanya sebagai bahan pangan, tetapi juga bagian dari perjalanan sejarah, budaya, dan identitas masyarakat Nusantara. Festival ini sekaligus membawa pesan tentang pentingnya menjaga kesadaran kolektif terhadap ketahanan pangan dan menghargai proses panjang yang membentuk kebudayaan.
Bukan Hanya Perayaan Ruang Budaya
Rangkaian acara akan dibuka melalui Parade Payung Nusantara dan Pasar Festival yang menghadirkan produk craft dan fashion dari pelaku UMKM serta komunitas kreatif. Artisan asal Jepang, Sachiyo Sakakibara, turut ambil bagian dengan menampilkan karya desain fashion, sementara pasar kuliner menjadi bagian lain yang melengkapi pengalaman pengunjung.
Suasana festival semakin semarak melalui pertunjukan tari, musik, dan dance fashion yang melibatkan sekitar 150 grup seni dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Jakarta, Tangerang Selatan, Bogor, Lampung, Samarinda, Banyuasin, Malang, Pasuruan, Yogyakarta, Cilacap hingga Sulawesi Selatan.
Tidak hanya menjadi ruang perayaan budaya Indonesia, FESPIN 2026 juga membawa semangat Diplomasi Budaya Asia dengan melibatkan delegasi dari Thailand, Korea Selatan, dan India. Ketiga negara tersebut akan berkolaborasi melalui pertunjukan fashion yang menampilkan kekayaan busana tradisional masing-masing.
Penari asal Korea Selatan, Hueng Won Lee, juga akan membawakan pertunjukan tari tunggal. Sementara itu, kekayaan seni visual dari berbagai negara akan hadir melalui Pameran 250 Artworks, yang menampilkan karya anak-anak dan remaja dari Korea Selatan, India, Mongolia, Polandia, Jepang, dan Vietnam.
FESPIN 2026 juga menyediakan ruang edukasi melalui diskusi, sarasehan, dan workshop di Stand Rumah Padi. Sejumlah agenda yang dihadirkan antara lain pembahasan sejarah padi di Nusantara, workshop bubur sorgum, diskusi mengenai perjalanan pangan dari sawah ke meja makan, hingga workshop pembuatan pupuk organik cair.
Festival ini juga menghadirkan Talkshow Diplomasi Budaya Sister Festival serta Festival Futures Forum, yang mempertemukan pengelola festival untuk membahas peran festival sebagai ekosistem budaya yang dapat menggerakkan masyarakat, ekonomi kreatif, pariwisata, diplomasi, jejaring internasional, dan isu keberlanjutan.
Sebagai bagian dari upaya memperluas literasi budaya, FESPIN 2026 juga akan meluncurkan buku kelima berjudul Catra Padi, Kumpulan Dewa Dewi Kesuburan. Buku tersebut merupakan karya kolaboratif yang melibatkan 47 penulis. Seluruh rangkaian program pada akhirnya membawa satu pesan: seperti halnya padi yang membutuhkan waktu untuk tumbuh dan menghasilkan bulir, identitas budaya juga tidak lahir secara instan.
Identitas terbentuk melalui perjalanan panjang, percampuran, adaptasi, dan proses kolektif. Melalui tema “Catra Padi – Sepayung Dewi Sri”, FESPIN mengajak publik untuk tidak hanya menikmati nasi di atas meja, tetapi juga memahami sejarah, kerja, budaya, dan nilai kehidupan yang berada di baliknya.
Mari bergabung dan menjadi bagian dari sejarah!
ECKA PRAMITA
Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.
















































