KETUA Umum Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya, Rosario de Marshall alias Hercules, dilaporkan ke Polda Metro Jaya pada Jumat, 22 Mei 2026 kemarin. Laporan tersebut berkaitan dengan dugaan aksi penyekapan terhadap Ilma Sani Fitriana.
Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Budi Hermanto membenarkan adanya laporan tersebut. "Yang dilaporkan adalah (dugaan) merampas kemerdekaan seseorang," ujar Budi, pada Sabtu, 23 Mei 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Budi menuturkan, peristiwa tersebut terjadi pada Ahad, 17 Mei 2026. Ketika itu, korban mengaku ada sekelompok orang yang mendatangi rumahnya dan mencari-cari keberadaan orang tuanya.
Menurut Budi, orang-orang itu gagal menemukan keberadaan orang tua korban. Namun, mereka justru membawa korban ke salah satu tempat untuk diinterogasi selama beberapa jam sebelum akhirnya dipulangkan.
Budi mengatakan, laporan tersebut kini masih diproses lebih lanjut secara administrasi oleh kepolisian. "Terlapornya untuk saat ini baru satu (Hercules)," ucap Budi ketika ditemui wartawan di Markas Polda Metro Jaya, Jakarta Selatan.
Ketua Riset dan Advokasi Publik LBH AP PP Muhammadiyah sekaligus kuasa hukum korban, Gufroni menyatakan pihaknya akan mengambil langkah hukum atas dugaan penyanderaan yang dilakukan oleh GRIB Jaya. "(Terlapor) termasuk Hercules," ujar Gufroni, pada Kamis, 21 Mei 2026.
Menurut Gufroni, Hercules ketika itu melakukan persekusi dan juga mengintimidasi kliennya. "Dia mengeluarkan pistol, lalu dia tembak ke bawah, dor, dor! dua kali," tutur Gufroni saat ditemui di Kantor Komnas HAM, Jakarta Pusat.
Sementara itu, Ilma bercerita, kejadian bermula ketika rombongan GRIB Jaya tetiba mengepung kediamannya lalu memaksa dirinya untuk ikut ke markas ormas tersebut dan bertemu langsung dengan Hercules. "Banyak kata-kata yang menurut saya tidak pantas diucapkan," tutur Ilma dengan nada terisak.
Kepala Bidang Humas dan Publikasi DPP GRIB Jaya, Marcel Gual, membantah pihaknya menyandera putri Ahmad Bahar. Ia malah menyebut putri Ahmad Bahar yang datang ke kantor DPP Grib Jaya sebagai utusan sang ayah. “Ia mengutus putrinya untuk datang, dan sang anak mengaku kehilangan kontak, tidak bisa menghubungi keberadaan ayahnya saat berada di kantor kami," kata Marcel.
















































