Intip Cara Kerja Detektor Pembuluh Darah Vena Buatan BRIN

9 hours ago 11

PARA peneliti Pusat Riset Elektronika di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan alat berbasis akal imitasi (AI) yang mampu mendeteksi pembuluh vena dalam tubuh. Inovasi ini dibuat untuk membantu tenaga medis mendeteksi pembuluh darah untuk titik tancap jarum alat kesehatan.

Alat bernama Vein Finder tersebut dirancang peneliti ahli muda BRIN, Rini Khamimatul Ula, bersama tim dari Institut Teknologi Sumatera (Itera) dan Universitas Negeri Surabaya. Rini mendapat ide karena kerap kesulitan memasang jarum, terutama saat pengambilan darah.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

“Saya termasuk orang yang pembuluh darah venanya sulit ditemukan, sehingga sering mendapat beberapa kali tusukan jarum di instalasi gawat darurat,” kata Rini dalam keterangan resmi, Selasa, 26 Mei 2026.

Bila dibedah, Vein Finder merupakan kombinasi teknologi optik, image processing, dan deep learning. Sistemnya menggunakan lampu LED inframerah dekat (NIR) dengan panjang gelombang 850 nanometer, kemudian kamera No Infrared Filter (NoIR), komputer mini Raspberry Pi, serta algoritma Convolutional Neural Network.

Menurut Rini, cahaya inframerah dari lampu LED akan diserap oleh hemoglobin dalam darah—mengakibatkan sedikit perubahan warna pada pembuluh darah vena. Pantulan cahaya dari LED kemudian ditangkap oleh kamera NoIR, kemudian diproses dengan Raspberry Pi. Dari situ muncul gambaran pembuluh darah vena yang dituju.

Citra yang diperoleh dengan algoritma AI sekaligus memastikan keamanan pembuluh darah yang dibidik. Berbeda dengan perangkat serupa yang umumnya hanya menampilkan gambar dari pembuluh darah vena, Vein Finder BRIN telah terintegrasi dengan AI. Perangkat ini bisa menentukan kedalaman dan lebar pembuluh darah vena pasien.

Menurut Rini, Vein Finder unggul dari sisi harga dan desain, dibanding alat serupa di negara maju. Teknologi ini sudah dikembangkan sesuai karakteristik warna kulit masyarakat Indonesia yang beragam. ”Sistemnya dapat bekerja pada berbagai pigmen kulit agar lebih sesuai untuk kebutuhan tenaga kesehatan di Indonesia,” tutur dia.

Rini sudah mengantongi paten dan hak cipta Vein Finder. Alat ini juga telah diuji coba pada pasien remaja hingga orang berusia 40 tahun. Para peneliti masih berupaya mengatasi pembatasan akses pengujian pada pasien anak-anak dan orang lanut usia atau lansia. Selanjutnya, Rini meneruskan, tim akan membuat desain perangkat agar lebih kompak, mudah digunakan, dan bisa dioperasikan secara real-time.

Read Entire Article
Parenting |