SEBANYAK dua juta warga di Cina terdampak hujan ekstrem yang dibawa oleh Siklon Tropis Bavi. Diberitakan pula sebagai super-topan, badai itu menerjang daratan di kota pesisir Taizhou pada Sabtu malam, 11 Juli 2026. Pemerintah Cina hingga kini menetapkan status waspada tingkat tinggi guna mengantisipasi kerusakan lebih lanjut dari badai yang awalnya terbentuk di Samudra Pasifik Barat ini.
Badan Meteorologi Cina mencatat Topan Bavi menghantam garis pantai Taizhou sekitar pukul 23.20 waktu setempat. Saat mendarat, badai ini mengempaskan amuk angin berkecepatan maksimum mencapai 144 kilometer per jam. Angka ini menempatkan Bavi dalam kategori 1 pada skala badai Saffir-Simpson. Pusat badainya yang selebar 1.000 kilometer menjadikannya badai terbesar yang mengancam Asia Timur selama beberapa dekade terakhir.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Meski kecepatannya diprediksi melambat dan melemah seiring pergerakannya ke arah barat laut, para ahli cuaca saat itu telah memperingatkan risiko banjir bandang dan tanah longsor yang ekstrem. Ditambah lagi, sistem badai Bavi tergolong raksasa dengan pita-pita awan hujan yang membentang dari ujung ke ujung setara luas daratan Prancis.
Mengutip laporan Nikkei Asia pada 12 Juli 2026, sebanyak lebih dari 1.300 pohon tumbang di seluruh daratan Yueqing, Cina. Laporan dari media resmi pemerintah setempat CCTV juga menampilkan banjir yang parah. Ada pula laporan longsor dan jatuhnya bebatuan di wilayah pegunungan, serta air sungai yang meluap setelah diterjang hujan ekstrem akibat kemunculan siklon ini.
Dampak meluas ke jaringan transportasi Cina. Di Hangzhou, ibu kota Provinsi Zhejiang, dua stasiun kereta api utama menangguhkan semua layanan dan 327 penerbangan dibatalkan di Bandara Internasional Xiaoshan. Di kota tetangga Shanghai, total 1.620 perjalanan kereta dan 684 penerbangan dibatalkan, menurut laporan surat kabar milik pemerintah, The Paper.
Sistem badai ini diperkirakan pula masih akan membawa dampak hujan lebat yang meluas ke sejumlah daratan Cina yang lain sehingga memicu risiko banjir untuk beberapa waktu ke depan. Kondisi ini sejalan dengan perkiraan para ilmuwan yang sebelumnya memprediksi bahwa Cina bakal menghadapi cuaca lebih ekstrem tahun ini.
Topan Bavi datang hanya berjarak beberapa hari setelah Topan Maysak menerjang daratan Cina bagian selatan dan menyebabkan puluhan korban jiwa dan kerusakan lahan pertanian yang luas. Adapun Bavi dalam pergerakannya melintasi Filipina selatan dan Taiwan bagian utara sebelum menerjang pantai tenggara Cina. Kepulauan Sakishima di Jepang juga terdampak dalam perlintasannya itu.
















































