BADAN Meteorologi Klimatologi dan Geofisika atau BMKG memperkirakan hanya ada potensi hujan intensitas ringan di Jakarta pada hari ini, Selasa 26 Mei 2026. Itu pun hanya ada di sebagian wilayah.
Dikutip dari lamannya, BMKG menyebut kemungkinan hujan intensitas ringan di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. Lainnya, yakni Jakarta Pusat, Jakarta Barat, dan Jakarta Utara diprediksi bakal memiliki cuaca cerah. Adapun Kepulauan Seribu cuaca berawan.
Cuaca berawan juga berpotensi menggelayuti wilayah Kabupaten dan Kota Tangerang pada hari ini. Sedangkan Kota Tangerang Selatan berpeluang hujan dengan intensitas ringan.
Hujan ringan juga kemungkinan hadir di wilayah Kabupaten dan Kota Bekasi serta Kota Depok pada hari ini. Untuk Kabupaten dan Kota Bogor, menurut perkiraan cuaca BMKG, cerah.
Secara umum BMKG tak memberikan peringatan dini hujan untuk wilayah Jakarta pada hari ini. Berbeda dengan sehari sebelumnya yang menempatkannya dalam status Waspada untuk potensi hujan sedang-lebat.
Adapun pada Ahad, 24 Mei, hujan dengan intensitas hingga sangat lebat mengguyur sebagian Jakarta dan sekitarnya. Dalam peta sebaran hujan Jabodetabek, BMKG mencatat curah hujan sepanjang hari itu sampai lebih dari 102 mm seperti yang terukur di Automatic Rain Gauge Ciganjur, Jakarta Selatan.
Sudah Kemarau dan Ada El Nino tapi Masih Hujan
Menurut BMKG, sebagian wilayah Indonesia telah mengalami musim kemarau dan sebagian yang lain berada pada periode peralihan. Kondisi tersebut diindikasikan dengan tutupan awan yang minim sejak pagi hingga tengah hari yang memicu pemanasan permukaan bumi secara intens.
Ketidakstabilan atmosfer tersebut dapat divalidasi oleh tingginya intensitas curah hujan, mulai dari kategori lebat hingga sangat lebat, yang tercatat di sebagian wilayah Indonesia, bukan hanya di Jabodetabek. Kalimantan Barat, misalnya, mengalami hujan hingga 129,5 mm sepanjang Jumat lalu.
Bengkulu menerima hujan intensitas 96,4 mm per hari pada Kamis dan Maluku 88,4 mm/hari pada Sabtu lalu.
Selain akibat ketidakstabilan atmosfer lokal, peningkatan curah hujan pada periode ini juga dipengaruhi oleh interaksi sejumlah fenomena atmosfer. Dimulai dari Madden-Julian Oscillation (MJO) saat ini berada pada fase 5 (Maritime Continent).
Selain itu Gelombang Rossby Ekuatorial dan Gelombang Kelvin juga berkontribusi dalam mendukung pertumbuhan awan hujan di sejumlah wilayah Indonesia. Tidak hanya itu, pembentukan sirkulasi siklonik di sejumlah wilayah Indonesia turut memicu pembentukan daerah perlambatan kecepatan angin (konvergen).
"Kondisi atmosfer tersebut semakin mendukung pembentukan awan, sehingga meningkatkan peluang terjadinya hujan di beberapa wilayah," bunyi keterangan dari Direktorat Meteorologi Publik BMKG, Senin 25 Mei 2026.
Keterangan senada diberikan peneliti di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin. Menurutnya, hujan yang masih kerap terjadi di Jawa sepanjang Mei ini--saat sebagian wilayah Indonesia telah memasuki kemarau--dipicu oleh aktivitas gelombang di atmosfer yaitu Kelvin dan MJO.
Namun, setelah 25 Mei, Erma menerangkan, semua gelombang di atmosfer diprediksi tak aktif. "Sehingga kemarau yang lebih kering efek El Nino akan terjadi secara konsisten," kata dia, Selasa 26 Mei 2026.
Berdasarkan data dari BMKG, kondisi El Nino di Samudra Pasifik saat ini terkonfirmasi melalui indeks Nino 3.4 sebesar +0,68. Seperti diketahui, El Nino dinyatakan saat anomali suhu muka laut di Pasifik ekuator sebelah tengah-timur (Nino 3.4) mencapai +0,5 derajat Celsius.
Adapun Erma menambahkan bahwa beberapa model menunjukkan waktu yang berbeda perihal perubahan El Nino itu dari fase kuat menuju super. "Model dari BOM, ECMWF dan JAMSTEC menunjukkan kemungkinan menjadi super pada Juli 2026, sementara NOAA menunjukkan peluang terbesar pada November 2026."

















































