PEMERINTAH Mesir menyambut langkah diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran setelah kedua negara menandatangani memorandum of understanding (MoU) atau nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik yang berlangsung dalam beberapa pekan terakhir. Mesir menilai kesepakatan tersebut dapat menjadi pintu masuk bagi stabilitas kawasan, sembari menegaskan dukungannya terhadap keamanan negara-negara Teluk.
Duta Besar Mesir untuk Indonesia Yasser Hassan Farag Elshemy mengatakan Kairo memahami pertimbangan strategis yang dimiliki Teheran. Namun, menurut dia, Mesir tetap menempatkan keamanan negara-negara tetangga di kawasan Teluk sebagai prioritas utama dalam kebijakan luar negerinya.
“Meskipun kami memahami logika strategis pihak Iran, kami berdiri teguh bersama saudara, saudari kami di negara-negara GCC,” kata Elshemy di perayaan Hari Nasional Republik Arab Mesir di Jakarta Selatan, Rabu, 24 Juni 2026.
Ia menambahkan Mesir akan terus mendukung negara-negara mitra di kawasan Teluk di tengah dinamika geopolitik yang berkembang pascakonflik.
Peran Diplomatik Mesir
Elshemy mengatakan Mesir telah terlibat dalam berbagai upaya diplomatik sejak hari pertama konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Menurut dia, Kairo membuka jalur komunikasi tidak resmi dengan pihak Iran untuk membantu pertukaran informasi selama proses perundingan berlangsung.
Mesir juga terlibat dalam berbagai kanal diplomasi bersama sejumlah negara yang berperan dalam proses mediasi. “Kami secara konsisten hadir dalam semua jalur negosiasi bersama mitra kami di Qatar dan Turki, serta dengan pihak Pakistan, Amerika, dan Iran. Mesir sepenuhnya berkomitmen untuk mempertahankan peran diplomatik yang aktif ini selama fase negosiasi 60 hari mendatang,” ujarnya.
Dilansir Anadolu, Iran pada Kamis, 18 Juni mengumumkan bahwa MoU berisi 14 poin dengan Amerika Serikat telah resmi difinalisasi. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menyatakan dokumen yang dikenal sebagai “Memorandum Islamabad” itu menjadi resmi setelah ditandatangani secara digital oleh presiden kedua negara.
Fokus Isu Nuklir dan Pencabutan Sanksi
Menurut Baghaei, negosiasi lanjutan dalam kerangka MoU akan berfokus secara eksklusif pada isu nuklir dan pencabutan sanksi. Pembicaraan dijadwalkan berlangsung hingga 60 hari dengan kemungkinan perpanjangan apabila diperlukan.
Draf kesepakatan tersebut mencakup penghentian permanen operasi militer di seluruh front konflik, pencabutan blokade laut terhadap Iran dalam 30 hari, serta jaminan pelayaran aman bagi kapal-kapal komersial di Selat Hormuz. Kesepakatan juga memuat rencana rekonstruksi dan pengembangan ekonomi Iran, pembebasan aset Iran yang dibekukan, serta komitmen Teheran untuk tidak mengembangkan senjata nuklir.
Baghaei menegaskan Iran hanya akan menjalankan kewajibannya apabila pihak lain memenuhi komitmen yang telah disepakati. Ia juga kembali menegaskan bahwa program rudal dan kemampuan pertahanan Iran tidak akan menjadi bagian dari perundingan apa pun.
Pilihan Editor: Iran: Tak Ada Kewajiban Beli Produk AS dari Dana Dicairkan
















































