PERDANA Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Senator Amerika Serikat Lindsey Graham, yang barusan meninggal dunia, dilaporkan diam-diam bersekongkol mendiskreditkan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) AS 2024. Hal ini diungkapkan laporan The New York Times pada Rabu 29 Juli 2026 seperti dikutip Anadolu.
Rekaman yang didapat sutradara asal Inggris, Alex Holder, mengungkapkan bahwa Netanyahu meminta surat bipartisan AS dari Partai Republik dan Partai Demokrat untuk memprotes perintah penahanan ICC terhadap dirinya.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Pemimpin rezim zionis Israel tersebut menyarankan agar mereka memanfaatkan dugaan pelecehan seksual terhadap Jaksa ICC Karim Khan untuk "menodai" lembaga tersebut.
Sebelumnya pada Jumat 24 Juli 2026, negara-negara anggota ICC sepakat mencopot Karim Khan dari posisinya atas dugaan pelecehan seksual. Khan terus membantah tuduhan tersebut.
Lindsey Graham pun dilaporkan menggandeng senator Richard Blumenthal dan Ben Cardin dari Partai Demokrat untuk upaya tersebut. Graham lantas melapor kepada Netanyahu bahwa mereka telah dapat dukungan senator itu.
"Kita dapatkan mereka berdua," kata Graham kepada Netanyahu.
Graham pun lalu meminta Netanyahu secara pribadi mengucapkan terima kasih kepada senator Partai Demokrat tersebut. Ia juga menyampaikan komitmen terhadap normalisasi hubungan Israel dan Arab Saudi sebagai iming-iming agar mereka mau terus mendukungnya.
Hasilnya, surat bipartisan yang dirilis pada 1 November 2024 itu mengungkit dugaan pelecehan seksual Karim Khan dan menuding ICC gagal mematuhi hukum dengan membatalkan pertemuan dengan pejabat Israel sebelum mengajukan perintah penangkapan.
Pada bulan yang sama, ICC menerbitkan surat perintah penangkapan terhadap Netanyahu dan bekas pejabat pertahanan rezim zionis, Yoav Gallant, atas dugaan kejahatan perang di Jalur Gaza yang telah menyebabkan tewasnya 73.000 orang lebih.


















































