PALM Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (Paspi) menilai harga minyak kelapa sawit mentah atau CPO yang masih ditentukan mekanisme pasar menjadi persoalan serius. “Rotterdam menjadi harga acuan dunia. Dari segi produsen, bursa Malaysia menjadi acuan,” kata Direktur Eksekutif Paspi Tungkot Sipayung, dalam sesi diskusi di gedung Tempo, Jakarta, Rabu, 24 Juni 2026.
Padahal, kata Tungkot, Indonesia merupakan produsen CPO terbesar di dunia. Namun, dari segi perdagangan, ekspor CPO Indonesia masih kalah dengan Uni Eropa. Menurutnya, ketertinggalan Indonesia dari Uni Eropa dan Malaysia terjadi karena mekanisme ekspor CPO dilakukan secara individual oleh perusahaan. Tungkot mengatakan, mekanisme ekspor yang selama ini terjadi membuat Indonesia tidak bersaing.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Ia pun membandingkan dengan Uni Eropa yang bukan merupakan produsen sawit, tetapi memiliki kemampuan menghasilkan devisa senilai US$ 35 miliar per tahun. Sementara Indonesia yang merupakan negara produsen dengan 16,8 juta hektare lahan sawit, kata Tungkot, kesulitan mendapatkan devisa yang sama dengan Uni Eropa.
Menurutnya, kebijakan ekspor satu pintu dan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2026 tentang Tata Kelola Ekspor Komoditas Sumber Daya Alam Strategis bisa mengubah kondisi industri sawit saat ini.
Peraturan yang mengubah mekanisme ekspor menjadi satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), menurut Tungkot, menjadi peluang Indonesia mengendalikan harga CPO global.
Selain membuka peluang Indonesia sebagai penentu harga komoditas, Tungkot berharap kebijakan ekspor satu pintu bisa membuat devisa hasil ekspor (DHE) masuk ke Indonesia.
Sementara itu, Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda mempertanyakan peran bursa jika DSI bisa menentukan harga komoditas. “Apakah bursa ini enggak perlu lagi? Itu kan kita sudah bahas lama, tiba-tiba di-cut dengan satu kebijakan PT DSI,” ujar Nailul.
Nailul kemudian menyinggung soal potensi optimalisasi penerimaan negara berkat kebijakan ekspor satu pintu. Nailul menyontohkan Ghana dan Pantai Gading sebagai dua negara produsen kakao terbesar dunia menggunakan mekanisme ekspor satu pintu. Namun, dalam kajiannya, Nailul mengatakan, data Bank Dunia menunjukkan kebijakan satu pintu tidak serta-merta mendongkrak pendapatan ekspor.
Selain itu, Nailul mengkhawatirkan potensi state-capitalism karena peran negara yang besar dalam mengendalikan ekspor. Ia mengatakan, perusahaan swasta akan menjadi pihak yang terdampak karena tidak terlalu dilibatkan.
















































