SENIMAN muda Nidiya Kusmaya untuk pertama kalinya menggelar pameran tunggal di Galeri Ruang Dini Bandung yang berlangsung 3-31 Juli 2026. Bertajuk Meramu Sisa, dia mempertemukan pigmen atau zat warna organik dari mineral alam yang sering dianggap residu pada lembaran kertas. Kekaryaannya berbasis riset warna alami telah ditekuni selama 12 tahun.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Aneka warna di tiap helai kertas beragam ukuran yang dipajang punya kisah dan daerah asalnya masing-masing. Nidiya memberikan sebagian petunjuknya pada judul karya. Pada kertas yang dipenuhi warna merah kecoklatan seperti batu bata dengan pembatas garis kuning, disematkan judul Cigaru Brown Cijiwa Yellow Sukabumi, Jawa Barat.
Pigmen merah kecoklatan itu diperoleh dari tanah sekitar lokasi penambangan emas dekat rumahnya. Ada pun warna kuningnya berasal dari endapan mineral yang terkandung pada air keruh dan berminyak. “Kalau airnya suka dipakai buat mencuci itu bajunya jadi kekuningan,” kata Nidiya saat ditemui Tempo di sela pembukaan pameran, Jumat 3 Juli 2026. Pada pameran itu dia juga memajang ragam pigmen lain yang terhampar pada meja tanpa kaki di lantai disertai contoh bongkahan mineral yang dipakainya.
Pada karya lain, Nidiya menyandingkan warna kemerahan yang disusun bertumpuk dalam tiga lapis. Pigmen itu berasal dari Awajishima di Jepang, Pozzuoli di Italia, dan Makroman di Kalimantan Timur. Di Kalimantan ia mengumpulkan material mineral dari tanah merah di sawah yang tercemar bekas tambang batubara. “Padinya jadi kerdil dan daunnya berwarna merah,” ujarnya. Nidiya pun membuka ruang imajinasi yang kritis dari isu polusi lingkungan lewat pigmen hitam dari batubara dan abu karbon dari pembangkit listrik tenaga uap di Sukabumi.
Ketertarikannya pada pigmen alami muncul sejak kuliah kriya tekstil di Institut Teknologi Bandung (ITB) pada kurun 2009-2012. Dilatari oleh masalah warna pada tekstil yang ikut menyumbang pencemaran lingkungan, Nidiya mencari cara untuk mendapatkan warna baru dari sumber berkelanjutan dan berkualitas untuk tekstil juga bahan lain. Dari eksperimen menggunakan tanaman, diperoleh ekstrak warna dari sayuran, kayu, serta buah-buahan. Percobaannya berlanjut ke bakteri untuk memakan protein dari limbah pangan yang ekskresinya menghasilkan warna.
Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Kahfiati Kahdar mengatakan riset bakteri yang menghasilkan warna merah diperoleh saat Nidiya kuliah S2 pada kurun 2014-2016 di almamaternya. “Nidiya punya kemampuan sebagai saintis selain seniman,” katanya saat pembukaan pameran, Jumat 3 Juli 2026. Namun begitu hasil uji cobanya di laboratorium biologi itu dipertanyakan karena latar pendidikannya yang nonsains, juga terkait keamanan pigmen untuk dipakai. Karena itu Nidiya beralih ke ranah seni yang dinilai lebih terbuka untuk hasil eksperimennya.
Pencarian pigmen alami itu seperti yang dilakukan Leonardo da Vinci untuk pembuatan catnya dari bahan mineral. Setelah pada karya sebelumnya Nidiya menampilkan pigmen dari cangkang telur ayam, kajiannya untuk mencari pigmen dari sumber organik terus berlanjut seiring aktivitasnya mengarsipkan dan mendokumentasikan bahan pewarna alami di Indonesia.

















































