Prancis: Operasi Militer Israel di Libanon Mengkhawatirkan

3 hours ago 7

MENTERI Luar Negeri Prancis Jean-Noel Barrot menyebut operasi militer Israel di Libanon “sangat mengkhawatirkan." Oleh karena itu, Paris telah meminta pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB untuk membahas situasi tersebut.

"Tidak ada yang dapat membenarkan operasi militer yang berkepanjangan di Libanon dan pendudukan wilayah Libanon yang semakin dalam," kata Barrot kepada BFMTV, pada Ahad 31 Mei 2026 seperti dilansir Antara.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Ia menegaskan bahwa tindakan Israel sama dengan "kesalahan besar."

Komentar tersebut menunjukkan besarnya kekhawatiran Prancis atas meningkatnya ketegangan regional karena Israel terus melakukan aktivitas militer di luar perbatasannya dengan Libanon.

Barrot juga mendesak Iran dan Amerika Serikat untuk segera mencapai kesepakatan untuk mengurangi ketegangan di Timur Tengah.

“Konsekuensi dari penutupan Selat Hormuz dirasakan setiap hari, di pompa bensin, dan secara lebih umum lewat dampaknya pada ekonomi global dan ekonomi Prancis,” katanya.

Menlu Prancis itu menambahkan bahwa rencana untuk misi yang bertujuan untuk menjaga kebebasan navigasi melalui Selat Hormuz masih dipertimbangkan, dengan perencanaan yang semakin maju dan negosiasi yang sedang berlangsung antara Teheran dan Washington.

Tentara Israel mengumumkan Ahad bahwa mereka telah melancarkan serangan "skala besar" di Beaufort Ridge dan daerah Wadi al-Salouqi (Saluki) di Libanon selatan.

Juru bicara militer Israel Ella Waweya mengklaim langkah itu bertujuan untuk "menghancurkan infrastruktur teroris dan melenyapkan militan."

iInvasi Israel ini adalah yang terdalam di Libanon sejak Israel menarik pasukannya dari negara itu pada 2000.

Menteri Kebudayaan Libanon Ghassan Salameh menuduh tentara Israel sengaja menargetkan Kastil Beaufort, yang diyakini rusak parah akibat serangan.

Salameh mengatakan kepada kantor berita Al-Qahera milik pemerintah Mesir bahwa serangan Israel juga menghancurkan pasar komersial bersejarah yang penting, perpustakaan umum, dan situs arkeologi di distrik Bint Jbeil dan Nabatieh. Serangan ini juga menghancurkan beberapa situs lain di Libanon selatan.

“Libanon selatan berisiko kehilangan sebagian dari memori sejarah dan budayanya jika serangan terhadap situs arkeologi terus berlanjut,” kata Salameh memperingatkan.

Read Entire Article
Parenting |