PROSES pemeriksaan kesehatan terhadap 30 ribu calon manajer Koperasi Desa Merah Putih yang mengikuti latihan dasar militer dipertanyakan. Sebab, lima peserta meninggal saat mengikuti latihan dasar kemiliteran di satuan pendidikan Tentara Nasional Indonesia.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Kelima korban adalah Yonanda Muhammad Taufik, yang meninggal akibat mengalami henti jantung pada 17 Juni lalu. Sehari setelahnya, Anisa Muyassaroh turut menjadi korban jiwa lantaran heat stroke saat mengikuti latihan dasar militer.
Korban ketiga yaitu Novia Rahmadhani Sihotang pada 23 Juni 2026. Novia tercatat memiliki riwayat penyakit tuberkulosis. Pada 26 Juni lalu, dua calon manajer Koperasi Desa Merah Putih meninggal dan menambah daftar panjang korban. Mereka ialah Muhammad Rifki Renaldi Gunawan dan Nola Dya Sari.
Berdasarkan rekam medis, Rifki meninggal akibat infeksi paru-paru disertai komplikasi medis. Mendiang juga diketahui memiliki riwayat hipertensi dan obesitas.
Sementara Nola meninggal setelah sebelumnya mengeluhkan sesak napas dan badan panas. Nyawanya tidak tertolong meski telah ditangani dokter di rumah sakit dekat lokasi satuan pendidikan TNI.
Epidemiologi dari Universitas Indonesia Pandu Riono menilai pemeriksaan kesehatan yang dilakukan pemerintah tidak sesuai standar sebelum seluruh peserta dilatih fisik. Hal ini menyebabkan adanya korban jiwa.
Dia menyorot adanya 32 ibu hamil yang diloloskan Kementerian Pertahanan untuk mengikuti latihan dasar militer tersebut. Termasuk adanya peserta calon manajer Koperasi Desa Merah Putih yang memiliki riwayat tuberkulosis, masalah saluran pernapasan, hingga jantung.
Padahal, kata dia, seleksi kesehatan untuk taruna prajurit militer sangat ketat. Tak mungkin prajurit yang memiliki riwayat penyakit atau tidak sehat diperkenankan mengikuti latihan militer.
"Apalagi yang calon manajer Koperasi Desa Merah Putih ini bukan militer. Fisiknya tidak siap, justru malah dilatih kemiliteran," kata Pandu pada Ahad, 28 Juni 2026.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, Mohammad Averrouce menegaskan bahwa standar pemeriksaan kesehatan peserta latihan dasar militer ditetapkan oleh Kementerian Pertahanan selaku penyelenggara.
Dia berujar hal itu termuat dalam tugas dan peran Kementerian Pertahanan di Keputusan Presiden Nomor 7 Tahun 2026 dan Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2026. "Pemeriksaan tersebut dilaksanakan mengikuti standar kesehatan yang ditetapkan bagi peserta latihan dasar kemiliteran," ujar dia pada Ahad, 28 Juni 2026.
Di sisi lain, dia menuturkan pelaksanaan pengadaan sumber daya manusia untuk Kopdes Merah Putih dilakukan secara kolaboratif lintas instansi. Pemerintah, ujar dia, kini tengah mengevaluasi secara menyeluruh pelaksanaan program seleksi calon manajer Koperasi Desa Merah Putih. "Termasuk evaluasi aspek kesehatan dan pengawasan medis," ujar dia.
Kementerian Pertahanan menyatakan pemeriksaan kesehatan calon manajer Koperasi Desa Merah Putih dilakukan sebelum peserta dilatih dasar militer. Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan Brigadir Jenderal Rico Ricardo Sirait mengatakan tes kesehatan itu dilakukan melalui beberapa tahapan dan pos pemeriksaan.
"Pemeriksaan mencakup antara lain laboratorium darah dan urine, tes kehamilan, rontgen thorax, EKG, USG abdomen, pemeriksaan mata, gigi, postur, dan kesehatan jiwa," kata dia pada Ahad, 28 Juni 2026.
Dia berujar hanya peserta yang memenuhi syarat yang bisa ikut latihan dasar militer. Indikasi memenuhi syarat bila tidak ditemukan kondisi medis yang dapat menghalangi peserta mengikuti rangkaian pendidikan.
Rico mengatakan kementerian telah melakukan berbagai langkah evaluasi sebagai respons adanya korban jiwa dalam pelatihan dasar kemiliteran untuk calon manajer Koperasi Desa Merah Putih ini. Dia berujar kegiatan fisik dan taktis yang bernuansa militer kini dikurangi.
"Aktivitas fisik tetap ada tetapi dibatas hanya sebagai pembiasaan disiplin dan kebugaran dasar," ucapnya.
Aktivitas tersebut meliputi senam, apel, baris-berbaris dasar, pengenalan lingkungan, hingga kegiatan lapangan ringan seperti membaca peta, kompas, dan kerja sama kelompok. "Kami juga memperkuat profiling kesehatan, pemeriksaan berkala, pemantauan kondisi harian peserta, dan penyesuaian intensitas kegiatan sesuai kemampuan fisik masing-masing," kata Rico.


















































