Teater Musikal Senja Teduh Pelita, Petualangan dan Harapan

1 week ago 21

Di panggung, anak-anak itu seperti anak ayam kehilangan induknya. Mereka memang kehilangan orang tuanya dalam sebuah perjalanan dan situasi dunia dengan lingkungan yang digambarkan rusak. Tapi mereka tak menyerah dan memulai petualangan baru bersama.

Arah, itu diperankan oleh Alf Elijah Sigalarki menjadi sosok yang berani berinisiatif mengajak kawan-kawan sebayanya. Lagu “Semesta”, “Dunia Semesta” mengalun mengantar mereka mengawali pertunjukan Teater Musikal “Senja Teduh Pelita” di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki. Teater musikal ini siap menemani masa liburan anak-anak sekolah sejak 3 hingga 12 Juli mendatang.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Dengan kemampuan, kecerdasan masing-masing, mereka berusaha bertahan hidup setelah orang tua masing-masing hilang. Mereka menamakan diri sebagai Pasukan Pelita. Di tengah kondisi dunia yang terus memburuk, penonton bisa melihat sosok anak-anak yang masih memiliki harapan.

Pada pentas pertama, 3 Juli 2026, rombongan anak-anak dipimpin oleh Arah, itu diperankan oleh Alf Elijah Sigalarki. Ia memimpin Pasukan Pelita yang beranggotakan sembilan anak dengan kemampuan yang berbeda-beda untuk menyelamatkan bumi bagi masa depan. Dalam kisah dua babak berdurasi sekitar dua jam-an, kisah Arah dan kawan-kawannya bergulir.

Bersama delapan anggota Pasukan Pelita lainnya, Arah menjalani perjalanan panjang untuk mencari harapan baru. Mereka adalah Kala (di perankan oleh Xandrea Abigail Tabythaputri dan Clioichi Junio Eigo) sang ahli sejarah dunia, Volta (Sahlendra Syarief) yang menguasai listrik dan mekanika, Langit (Mavisha Reakana) sang pembaca bintang, Hara (Emily Olivia) ahli tumbuhan, Palu (Nayaka Maleakhi) yang mahir membangun, Raga (Nadindra Gynta) si pemanjat andal, dan Lagu (Annabella Farizky) yang peka terhadap musik dan suara.

Dalam perjalanan tersebut, mereka menemukan sebuah teluk yang masih utuh dan belum tersentuh kerusakan, yang kemudian mereka beri nama Teluk Pelita. Di sanalah Arah dan teman-temannya bertemu dengan Binbin (J. Rizhan) yang memahami hewan. Di pundaknya bertengger burung yang menemaninya kemanapun.

Di teluk ini, pasukan kecil ini merasa nyaman. Mereka membangun impian mereka, diselingi dengan romansa kedekatan Kala dan Arah. Dengan lagu romantis panggung menampilkan kebersamaan mereka.

 Di tempat itu mereka dihadapkan pada pilihan yang jauh lebih besar, melanjutkan pencarian orang-orang yang mereka cintai atau membangun kehidupan baru di Teluk Pelita.  Pasukan kecil itu didera riak perbedaan pendapat untuk menemukan dan menentukan mereka . Kelompok mereka sempat terbelah dengan pertimbangan masing-masing.

“Aku ikut Arah, aku juga mau mencari orang tuaku,” ujar Volta diikuti juga Palu. Cerita mulai intens, diwarnai ketegangan.

Pertunjukan Musikal Senja Teduh Pelita di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 3 Juli 2026. Dok. IMAGE DYNAMICS

Pilihan Editor:

Maliq & D'Essentials Rilis Lagu Jalan, Pulang dalam 4 Versi

Dari Lagu Menjadi Kisah dan Harapan

Nuya Susantono, Produser sekaligus Sutradara Musikal Senja Teduh Pelita, menyampaikan kisah yang terjadi di Musikal Senja Teduh Pelita adalah sebuah dunia terinspirasi atas kejeniusan bunyi dan aksara khas Maliq & D’Essentials yang dekat dan hidup yang dijalani.  Nuya menjelaskan kisah ini dirangkai dari lagu-lagu Maliq & D’Essentials. Prosesnya  berlangsung dalam setahun terakhir.

”Saya kumpulkan semua lagu-lagunya Maliq & D’Essentials, kemudian saya pilih beberapa lagu. Dari sana saya membuat ceritanya,” ujar Nuya usai pementasan 3 Juli 2026.

Widi Puradirdja mewakili Maliq & D’Essentials mengatakan tak banyak ikut campur soal lagu. Ia mengatakan menyerahkan semuanya kepada Nuya sebagai pihak yang akan membangun cerita dari lagu-lagu itu. “Nuya yang pilih semua lagu, kami hanya mengikuti saja dan melihat hasilnya di panggung,” ujar Widi.

Nuya membangun dunia anak-anak dengan beragam kecerdasan dan ketrampilan yang dilekatkan pada masing-masing tokoh. Menyatukan mereka di Pasukan Pelita yang bertahan dan berjuang. Intinya mereka bergotong royong, saling menghormati dan menghargai satu sama lain.

“Dalam diri kita ada cinta besarnya Arah yang melakukan apapun untuk orang yang disayangi, ada pula sifat Kala yang kritis, dan ada Pasukan Pelita di diri kita yang terus bertahan dan berjuang merawat kehidupan,” ujar Nuya.

Di kisah ini, masalah kerusakan lingkungan menjadi latar penggerak cerita, digambarkan dari beberapa adegan dan dialog dari tokoh-tokohnya. Kisah ini ingin menyampaikan beberapa pesan kepada penonton seperti rasa cinta kasih, empati, simpati, kekeluargaan, gotong royong, menghargai perbedaan, hingga sisi gelap manusia yang penuh ketamakan dan angkara. Nuya tak terlalu menebalkan konflik yang terjadi di dalam cerita. Puncak klimaks cerita jadi terasa agak kurang greget.

Sebagai teater musikal, Nuya dengan tim Jakarta Movin berhasil menampilkan kisah yang lekat dengan lagu yang mengiringi. Vokal para pemain juga prima. Setidaknya dari tokoh atau karakter utama Arah dan Kala yang diperankan  Alf Elijah Sigalarki dan Xandrea Abigail Tabythaputri. Mereka dan para pemain lainnya membawakan lagu-lagu Maliq & D’Essential dengan cukup bagus.

Pertunjukan ini juga menghadirkan tokoh utama, Arah dan Akal dari dua interpretasi yaitu versi laki-laki dan perempuan. Arah dan Kala dimainkan masing-masing dua orang. Elijah Sigalarki dan Daria Laksmi Algamar sebagai Arah dan Xandrea Abigail Tabythaputri dan Clioichi Junio Eigo yang memerankan Kala.  Pertunjukan ini melibatkan 32 pemain, 11 di antaranya adalah anak-anak.

Dari tata panggung, pertunjukan ini menampilkan tata panggung yang tak terlalu rumit dengan properti, multimedia dan tata cahaya cukup mendominasi untuk memperkuat adegan di panggung. Penggunaan projection mapping, permainan laser, serta set panggung modular yang dapat berubah dan bertransformasi mengikuti perpindahan ruang dan perjalanan cerita. Untuk melengkapi visual pada beberapa adegan, mereka menampilkan dengan berbagai satwa yang dihidupkan dengan teknik seperti wayang. Sementara adegan laut dihadirkan melalui laser, efek visual dan koreografi ensemble yang membentuk ikan-ikan dan kunang-kunang.

MALIQ & D'Essentials bersama pemai Musikal Senja Teduh Pelita di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 3 Juli 2026. Dok. IMAGE DYNAMICS

Cara Lain Menikmati Lagu Maliq & D'Essentials

Maliq & D’Essentials berkarya merangkai lagu-lagu selama 24 tahun terakhir. Grup band yang terbentuk sejak 2002 ini mulai dikenal luas oleh para pecinta musik sejak kemunculan mereka di panggung Festival Java Jazz 2005. Grup yang bergenre soul dan jazz ini gembira dan bangga tak terkira ketika lagu-lagu mereka ditampilkan dalam versi panggung dalam teater musikal. Hal ini seperti memperpanjang usia lagu-lagu yang lahir belasan tahun dan ‘hidup kembali’. Para personil band ini pun mengaku mereka menangis haru ketika lagu mereka mengalun, menjadi lebih emosional ketika pentas berakhir.

Angga Puradiredja, salah satu vokalis Maliq & D’Essentials, mengatakan melalui musikal Musikal “Senja Teduh Pelita”, lagu-lagu mereka menemukan rumah baru. Mereka tidak lagi hanya hadir untuk didengar, tapi juga untuk dilihat, dirasakan, dan dihidupkan dalam sebuah dunia yang baru. “Mungkin memang begitulah seharusnya karya hidup. Ia tidak berhenti di bentuk pertamanya. Semoga pertunjukan ini menjadi ruang yang hangat untuk bertemu kembali dengan lagu-lagu yang mungkin sudah kita kenal,melalui pengalaman yang berbeda,” ujarnya.

Para personil grup band ini pun tak menyangka setelah lagu-lagu mereka dirangkai menjadi cerita ternyata bisa lebih bermakna. “Ternyata lagu-lagu kami bisa menjadi sebagus itu, kami yang di studio saat menciptakan lagu itu tak mengira bisa memberikan perspektif atau emosi yang berbeda pada orang lain,”ujar Widi Puradiredja yang menciptakan banyak lagu-lagu grupnya ini.

Bagi Widi, lagu-lagu yang ia dan personel lain di Maliq & D’Essential, apresiasi penonton yang menyaksikan pertunjukan dan bisa menikmati untaian lagu-lagunya cukup menggembirakan. Tak hanya penonton dewasa pecinta grup band ini tapi juga penonton anak-anak atau remaja. Para awak band ini juga sempat lupa lagu-lagu yang mereka ciptakan di studio rekaman. Baru setelah lagu-lagu dari 11 album mereka d

Tak kurang dari 20 lagu mereka, termasuk lagu-lagu unggulan seperti “Senja Teduh Pelita”, “Aurora“ hingga lagu dari album baru “Begini Begitu”, diinterpretasikan menjadi bagian dari perjalanan para tokoh kisah ini. Para penonton dewasa yang mengenal atau menjadi penggemar dari grup band ini ikut bersenandung ketika lagu-lagu ini mengalun mengiringi adegan. Lagu-lagu Maliq &d’Essential dari berbagai album dan waktu yang berbeda kemudian dirangkai sebagai satu kesatuan yang memperkuat suasana dan cerita.

 Pilihan Editor:

Read Entire Article
Parenting |