TIM peneliti Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Institut Pertanian Bogor (IPB) berkolaborasi mewujudkan alat pengumpul ikan yang disebut rumpon portable berbasis atraktor suara. Alat itu telah dikembangkan selama tiga tahun terakhir dan telah diujicoba oleh nelayan di Indramayu, Jawa Barat, pada awal tahun dan kini di desa nelayan Kabetan, Kabupaten Toli-Toli, Sulawesi Tengah.
“Harapannya ikan yang terkumpul banyak, begitu juga hasil tangkapan nelayan,” kata ketua tim Sri Raharno kepada Tempo, Ahad 5 Juli 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Raharno menerangkan, ide pembuatan alat pengumpul ikan itu dilatari oleh kebutuhan intensifikasi atau peningkatan hasil tangkapan oleh nelayan, khususnya nelayan yang berada di daerah terluar, terdepan, dan tertinggal atau 3T. Adapun tim beranggotakan Indria Herman dari ITB, Roza Yusfiandayani dari IPB, serta melibatkan mahasiswa program doktor dan sarjana Teknik Mesin ITB.
Anggota tim dari IPB menyiapkan perangkat lunak seperti suara khusus untuk memanggil ikan jenis tertentu, sementara tim ITB membuatkan perangkat kerasnya. Hasil akhirnya adalah alat yang sebenarnya bukan berwujud rumpon. Namun nama itu digunakan karena alat didesain untuk menjadi tempat berkumpulnya ikan.
"Alatnya berbentuk tabung atau silinder yang mudah dibawa, dipindahkan, atau digunakan di berbagai lokasi," tutur Raharno. Selubungnya, dia menekankan, harus kedap air dan anti bocor. "Kami menggunakan bahan dari pipa paralon alias PVC (Polyvinyl Chloride) sepanjang atau setinggi sekitar 50 sentimeter dan bergaris tengah 20 sentimeter."
Di bagian atas tutupnya terdapat tombol untuk mengaktifkan dan mematikan alat. Pada bagian itu juga dipasang perangkat untuk mengisi ulang baterai. Menurut Raharno, daya pakai baterai sekitar 4-5 jam yang kondisinya bisa terlihat di monitor kecil. Kemudian di bagian dalam tabung terdapat rangkaian alat pemutar suara digital, amplifier, serta sepasang pelantang suara (speaker).
“Kemudian ditambah pemberat besi cor di dalamnya hampir 10 kilogram supaya alatnya tidak mengambang,” ujarnya sambil menambahkan tim ITB merancang agar alat itu bisa tahan tekanan air hingga kedalaman 30 meter.
Sebelum dicemplungkan ke laut menggunakan tali panjang dari perahu nelayan, alat diaktifkan hingga muncul suara pemanggil ikan. Dari rekaman video saat tim menguji coba di laut, bunyinya terdengar melengking putus-putus, kombinasi antara suara sirine ambulans dan kicau burung.
Alat diturunkan hingga kedalaman tertentu sesuai jenis ikan yang akan ditangkap dengan jaring. Di perairan Indramayu, alat diturunkan hingga kedalaman sekitar 10 meter untuk mengumpulkan ikan pelagis. “Hasilnya bagus, ada peningkatan dari jumlah ikan yang ditangkap,” kata Raharno.
Ikan pelagis pun menjadi incaran saat uji coba bersama nelayan Desa Kabetan, Kabupaten Toli-Toli. Di lokasi ini, nelayan juga ingin mendapatkan ikan tuna dan cakalang. “Ada permintaan untuk ikan jenis lain yang lebih dalam, itu hanya bisa dicapai dengan pancingan,” kata Raharno.
Sejauh ini tim masih mengumpulkan data penggunaan alat termasuk perolehan hasil tangkapan nelayan. Perangkat yang masih tergolong purwarupa itu rencananya masih akan terus dikembangkan. Misalnya untuk menekan biaya agar alat lebih murah dan terjangkau oleh nelayan, kemudian atraktor suaranya dilengkapi dengan cahaya.
Rencana lainnya menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan beberapa sensor agar hewan air yang bukan ikan seperti penyu tidak ikut tertarik untuk berkumpul.

















































