Tren Wisatawan Indonesia ke Korea, Tak Selalu tentang Seoul

2 hours ago 5

PENGARUH budaya Korea yang masif di tingkat global secara konsisten memikat minat masyarakat Indonesia untuk berkunjung ke Negeri Ginseng. Namun, tren perjalanan kini mulai bergeser seiring perubahan pola perjalanan wisatawan demi mencari pengalaman budaya, sejarah, dan kuliner lokal yang autentik.

Menurut laporan terbaru Airbnb, Korea Calling: How K-Culture Is Driving a New Generation of Travelers into Korea, sebanyak 97 persen wisatawan Indonesia mengakui budaya Korea sebagai faktor utama yang memengaruhi keputusan mereka untuk bepergian ke sana. 

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Laporan tersebut didasarkan pada survei yang ditugaskan oleh Airbnb dengan melibatkan 4.500 responden di Australia, India, Indonesia, Jepang, Cina Daratan, Malaysia, Singapura, Thailand dan Amerika Serikat. Survei dilakukan pada Maret 2026.

Amanpreet Bajaj, Country Head Airbnb untuk Asia Tenggara & India, budaya Korea terus mendorong minat wisatawan Indonesia untuk berkunjung ke Korea Selatan. "Namun yang semakin terlihat saat ini, wisatawan saat ini tidak lagi hanya tertarik pada Kota Seoul atau wisata yang berfokus pada hiburan semata," ujarnya dalam keterangan tertulis pada Senin, 22 Juni 2026.

Mereka mulai aktif mencari pengalaman budaya yang lebih autentik dan mendalam di berbagai wilayah lain. Menurut Amanpreet pergerasan ini terlihat dari semakin banyak yang ingin menjelajahi Korea Selatan melalui kuliner lokal, warisan budaya serta daerah wisata yang belum banyak dikunjungi wisatawan. 

Eksplorasi Pengalaman Wisata

Dari survei tersebut diketahui wisatawan Indonesia kini tidak lagi hanya terpaku pada Kota Seoul atau destinasi hiburan arus utama saja. Sebanyak 98 persen wisatawan Indonesia mengatakan tertarik mengunjungi kota atau wilayah lain di Korea Selatan jika tersedia pilihan akomodasi yang sesuai di luar kota-kota besar. 

Dari sekian banyak wilayah, Busan dan sekitarnya menjadi destinasi yang paling diincar dengan perolehan angka 81 persen. Posisi berikutnya ditempati oleh Pulau Jeju 58 persen, disusul wilayah Incheon dan Gyeonggi 47 persen serta Daegu 39 persen.

Ketertarikan ini dipicu oleh beragam aspek pendukung. Sebanyak 66 persen responden terpikat oleh keindahan alam dan pemandangannya yang unik, 56 persen mengincar kuliner khas daerah, 41 persenkarena tradisi serta budaya lokal, dan 40 persen lainnya terdorong karena lokasi tersebut pernah muncul dalam film atau drama Korea.

Faktor ketersediaan tempat menginap memegang peran krusial dalam pergeseran tren ini. Sebanyak 84 persen pelancong mengaku siap berkunjung ke luar Seoul jika ada akomodasi yang sesuai. Selain itu, 70 persen responden menilai keberadaan homestay menjadi poin penting dalam perencanaan liburan mereka. Sekitar 68 persen menganggap penginapan lokal terasa lebih praktis untuk durasi tinggal yang lama dan mampu memberikan kedekatan emosional dengan kehidupan warga lokal jika dibandingkan dengan hotel biasa.

Riset ini turut memetakan preferensi antargenerasi. Budaya K-pop menjadi magnet utama bagi 6 persen generasi Z dan Milenial, berbanding terbalik dengan kelompok usia dewasa yang hanya menyentuh 23 persen. Sebaliknya, wisatawan yang lebih tua justru lebih tertarik pada warisan budaya (67 persen) dibanding Gen Z (46 persen). Kendati demikian, makanan autentik lokal tetap menjadi daya tarik universal yang menyatukan semua kelompok umur dengan persentase 65 persen.

Selain itu 89 persen, responden berencana kembali ke Korea Selatan dalam lima tahun ke depan, penyediaan penginapan lokal akan menjadi kunci utama. Amanpreet menambahkan bahwa perluasan akses terhadap akomodasi dan pengalaman lokal di luar destinasi utama akan memastikan minat ini diterjemahkan menjadi perjalanan yang lebih mendalam.

Hasil survei juga menunjukkan wisatawan Indonesia lebih sering bepergian secara berkelompok. Sebanyak 60 persen pergi bersama pasangan, 42 persen bersama keluarga, dan 22 persen bersama teman. Rata-rata durasi menginap mereka mencapai 5,5 malam dengan anggaran pengeluaran rata-rata menembus lebih dari Rp30 juta per orang per perjalanan, di luar tiket pesawat.

LAODE MUHAMAD ASHEGAF

Read Entire Article
Parenting |