Viral Kampanye Nikah Muda di Media Sosial, Usia Berapa yang Ideal untuk Menikah?

1 day ago 7

CANTIKA.COM, Jakarta - Nama Azkiave belakangan ramai berseliweran di media sosial. Kreator konten sekaligus pebisnis muda berusia 19 tahun dan pemilik nama lengkap Azkia Vidiana Putri ini aktif membagikan pandangan hidupnya soal nikah muda lewat Instagram dan TikTok @azkiave. Gaya bicaranya yang lugas dan perspektif hidupnya yang tak biasa sukses memantik diskusi publik.

Sejumlah konten Azkiave menuai perhatian karena dianggap menabrak arus utama. Salah satu yang paling menyedot sorotan adalah keputusannya menikah di usia 19 tahun dengan pasangan berusia 29 tahun. Dari sana, pembahasan melebar ke pandangannya soal kedewasaan, Generasi Z, pendidikan, hingga cara ia menyampaikan opini yang kerap memicu pro dan kontra di kolom komentar.

Popularitas Azkiave kian meningkat setelah ia secara terbuka membagikan kisah pernikahan mudanya. Respons warganet pun terbelah: ada yang mengapresiasi keberaniannya, tak sedikit pula yang melontarkan kritik. Dalam salah satu unggahan TikTok-nya, Azkiave menyoroti pola pikir yang menurutnya membuat anak muda terus merasa “belum siap” menjalani tanggung jawab besar.

“Stop normalisasi ‘dewasa yang terlambat’. Kita dikondisikan untuk merasa belum siap terus. Umur 19 dibilang bocah, 22 baru lulus, 25 baru coba kerja. Akhirnya kita menunda tanggung jawab besar atas nama masih muda,” tulisnya di instagram. 

Pernyataan itu dianggap memotivasi oleh sebagian warganet. Namun, ada pula yang menilai sudut pandang tersebut terlalu menyederhanakan realitas, terutama ketika pernikahan usia muda dijadikan tolok ukur kesiapan hidup semua anak muda.

Kontroversi kembali mencuat saat Azkiave membahas gaya hidup Generasi Z. Ia menilai narasi “masih muda” kerap dijadikan tameng untuk menghindari tanggung jawab. Pandangan ini memantik kritik karena dianggap menggeneralisasi generasi dengan latar belakang dan tantangan yang beragam. Dalam penjelasannya, Azkiave menyebutkan bahwa dalam perspektif yang ia yakini, batas kedewasaan sudah jelas sejak seseorang mencapai akil baligh dan menjadi mukalaf.

Di tengah pro dan kontra yang mengiringinya, Azkiave tetap konsisten menyuarakan pandangannya, menjadikan dia salah satu figur muda yang paling banyak dibicarakan di linimasa saat ini.

Pertanyaan soal kapan waktu yang “tepat” untuk menikah atau memulai hubungan jangka panjang masih sering jadi perdebatan. Menariknya, sebuah studi terbaru yang dipublikasikan dalam Journal of Family Psychology mencoba menjawab isu ini dari sisi ilmiah. Penelitian yang dipimpin Matthew Johnson dari University of Alberta tersebut menyoroti waktu pernikahan, apakah seseorang menikah lebih awal, di usia rata-rata, atau justru lebih lambat dan kaitannya dengan kesejahteraan hidup dalam jangka panjang.

Selama ini, banyak riset menunjukkan bahwa individu yang menikah cenderung melaporkan tingkat kepuasan hidup lebih tinggi dibanding mereka yang lajang atau bercerai. Namun, pertanyaannya: apakah pernikahan membuat seseorang lebih bahagia, atau justru orang yang sudah bahagia lebih cenderung menikah? Di sisi lain, perceraian memang sering dikaitkan dengan masalah emosional seperti depresi, meski umumnya bersifat sementara karena individu perlahan beradaptasi dengan fase hidup baru.

Faktor usia dan fase kehidupan juga memainkan peran penting. Seiring bertambahnya umur, seseorang akan melalui berbagai transisi besar dari remaja ke dewasa muda yang diikuti tuntutan sosial baru, termasuk soal pernikahan. Tak jarang, tekanan keluarga dan lingkungan membuat mereka yang belum menikah di usia tertentu merasa tertinggal. Batas usia seperti “kepala tiga” bahkan sering memicu kecemasan, rasa malu, hingga mempertanyakan pencapaian diri.

Untuk memahami fenomena ini lebih dalam, Johnson dan timnya menggunakan data dari Edmonton Transitions Study (ETS), riset longitudinal yang mengikuti hampir seribu responden sejak usia 18 tahun selama 25 tahun. Survei dilakukan berkala hingga peserta berusia 43 tahun, mencakup status pernikahan, usia menikah pertama kali, riwayat perceraian, latar belakang pendidikan, hingga pendapatan.

Kesejahteraan subjektif peserta diukur lewat indikator kebahagiaan, gejala depresi, harga diri, dan kepuasan hidup. Menariknya, data awal saat usia 18 tahun dibandingkan langsung dengan hasil survei di usia paruh baya, sehingga terlihat perubahan jangka panjang.

Peserta kemudian dikelompokkan berdasarkan waktu menikah. Untuk perempuan, menikah sebelum usia 23 tahun dikategorikan sebagai “dini”, usia 23–27 tahun “tepat waktu”, dan di atas 27 tahun “terlambat”. Sementara untuk laki-laki, kategori dini berada di bawah 26 tahun, tepat waktu di usia 27–30 tahun, dan terlambat setelah usia 30 tahun.

Hasilnya cukup membuka mata. Mereka yang menikah di usia “tepat waktu” atau lebih lambat justru memiliki risiko depresi paling rendah di usia paruh baya. Sebaliknya, individu yang sudah menunjukkan gejala depresi sejak usia 18 tahun cenderung lebih rentan mengalami perceraian di kemudian hari. Menariknya, menikah di usia lebih matang juga berkorelasi dengan pendapatan yang lebih tinggi dan peningkatan rasa percaya diri di masa depan, terutama jika disertai pendidikan tinggi.

Menurut analisis peneliti, pernikahan di usia terlalu muda bisa membawa tantangan tambahan. Mulai dari beban membangun keluarga saat diri sendiri masih berkembang, keterbatasan dalam mengejar pendidikan atau karier, hingga tekanan emosional akibat faktor eksternal seperti tuntutan keluarga atau kehamilan yang tidak direncanakan.

Meski studi ini memiliki keterbatasan karena hanya melibatkan responden dari satu kota di Kanada temuannya tetap relevan. Waktu menikah ternyata berpotensi memengaruhi kualitas hidup jangka panjang. Menikah terlalu dini dikaitkan dengan risiko depresi lebih tinggi, sementara menunda pernikahan justru sering sejalan dengan kesejahteraan yang lebih baik.

Di tengah tren global yang menunjukkan semakin banyak orang memilih menikah di usia lebih dewasa, riset ini memberi perspektif baru: menunggu bukan berarti kalah cepat, justru bisa jadi langkah menuju hidup yang lebih stabil dan bahagia.

Pilihan Editor: Sederet Alasan Nikah Muda Perlu Dipikir Ulang dari Psikolog

PSYCHOLOGY TODAY 

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

Read Entire Article
Parenting |