DIGITAL Realty Bersama (DRB), memperkirakan bisnis data center di Indonesia akan tumbuh pesat seiring meningkatnya adopsi teknologi akal imitasi (AI). Direktur Bisnis DRB, Andha Yudha Permana, mengatakan kebutuhan pusat data untuk mendukung AI di Indonesia saat ini telah mencapai sekitar 500 megawatt (MW).
“Per tahun ini, kemungkinan akan double (berlipat ganda) sampai dengan akhir tahun,” kata Yudha dalam acara jumpa media di gedung pusat data CGK11, Cawang, Jakarta Timur, pada Rabu, 22 April 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Sebagai pemimpin entitas kongsi (joint venture) penyedia solusi infrastruktur data center, kolokasi, dan interkoneksi, Yudha menilai kapasitas tersebut masih tertinggal dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia yang kapasitas kebutuhan AI-nya sudah melebihi 1.000 MW.
Menurut Yudha, sebagian besar pusat data berbasis AI di Indonesia justru dibangun di luar Jakarta, seperti Cibitung dan Cikarang. Kondisi ini dipengaruhi keterbatasan lahan serta struktur bangunan di dalam kota yang belum mendukung kebutuhan infrastruktur AI. “Untuk menjalankan AI workload dibutuhkan ruang yang besar, karena satu rak GPU (pemroses grafis) kurang lebih bisa mencapai sekitar 2 ton,” tutur dia. Kondisi itu membuat sebagian besar penyedia pusat data AI membangun proyek di luar Jakarta.
Adapun data center di dalam kota seperti Jakarta difokuskan untuk melayani kebutuhan pelanggan enterprise, termasuk sektor perbankan dan jasa keuangan yang membutuhkan latensi rendah.
Sampai saat ini, industri pusat data masih menghadapi tantangan ketersediaan daya listrik, terutama untuk proyek berskala besar. “Kalau di dalam kota sebenarnya masih surplus power, tapi untuk mengakomodasi kebutuhan besar seperti 100 MW akan jadi tantangan,” ucap Yudha.
Chief Financial Officer DRB Krishna Worotikan menambahkan, kebutuhan listrik untuk AI jauh lebih tinggi dibandingkan komputasi tradisional. Dengan kata lain, kesiapan infrastruktur menjadi faktor krusial. “Kebutuhan AI compute power itu bisa sampai sepuluh kali lipat dibandingkan komputasi tradisional. Kalau yang tadinya mungkin 2-5 kilowatt per rack, kalau sudah AI kita bicara 20 kilowatt,” ujar Krishna.
Saat ini DRB mengoperasikan dua kompleks pusat data di Jakarta. Kapasitas proyek 5 MW di kompleks CKG11 di Jakarta Timur rencananya akan ditambah menjadi total 27 MW dengan target penyelesaian pada 2028. Adapun CKG10 di Jakarta Barat, yang berkapasitas 1,5 MW, masih dalam tahap pengembangan lahan.
Perusahaan juga berencana meluncurkan solusi interkoneksi generasi terbaru, ServiceFabric, pada paruh kedua 2026. Melalui layanan ini, DRB menargetkan peningkatan keandalan dan keamanan dalam mendukung berbagai inovasi digital. “Kami memastikan perusahaan di Indonesia memiliki jalur ekspansi yang lebih mudah untuk terhubung dengan ekosistem global,” kata Krishna.
















































