MATA uang rupiah terus bergerak di atas level 17.200 per dolar AS pada Kamis pagi, 23 April 2026, bahkan sempat menembus level 17.300. Mengutip data Trading Economics, dolar terus merangkak naik hingga mencapai Rp 17.306 pada pukul 14.40.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menyampaikan bahwa pergerakan rupiah masih sejalan dengan kawasan, dengan pelemahan year-to-date (tahunan) sebesar 3,54 persen. “Tekanan terhadap rupiah hari ini dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian global yang juga menekan mata uang regional," ucapnya lewat keterangan resmi, Kamis, 23 April 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Di tengah tekanan ini, ia menilai Bank Indonesia terus meningkatkan intensitas intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Bank sentral juga memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market, tujuannya untuk menjaga daya tarik aset domestik di tengah berlanjutnya dampak konflik Timur Tengah.
Langkah stabilisasi dilakukan secara konsisten melalui intervensi di pasar offshore (NDF), pasar domestik (spot dan DNDF), serta pembelian SBN di pasar sekunder. Destry juga memastikan cadangan devisa juga tetap kuat sebesar US$ 148,2 miliar pada akhir Maret 2026. Cadangan sebesar ini dianggap masih kuat untuk menahan tekanan.
“Bank Indonesia senantiasa hadir di pasar dan akan terus mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” ucapnya.
Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia menunjukkan mata uang rupiah pada perdagangan kemarin atau Rabu, 22 April tercatat di level 17.179 per dolar AS. Nilai dolar konsisten di level 17.000 sejak awal bulan ini.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuabi menyatakan rupiah yang menembus di atas 17.300 telah melewati ekspektasi awal. "Kemungkinan besar akhir April, minggu depan, akan tembus 17.400 per dolar AS," kata dia lewat pernyataan resmi, Kamis, 23 April 2026.
Ibrahim menyatakan kondisi ini dipengaruhi faktor eksternal konflik di Timur Tengah. Pertemuan antara AS dan Iran yang difasilitasi oleh Pakistan pekan ini tak mencapai kesepakatan sebab Iran tak mengikuti perundingan. "Karena Amerika sudah menyalahi aturan senjata dengan melakukan penguasaan kapal tanker Iran yang melalui Selat Hormuz," ucapnya.
















































