INFO TEMPO - Bali menjadi lokasi perdana pembangunan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Indonesia. Peresmian berlangsung pada Rabu, 8 Juli 2026 oleh Danantara Indonesia melalui PT Danantara Investment Management (DIM) dan PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) di Desa Pedungan, Denpasar Selatan, Bali.
Pembangunan PSEL tersebut menandai babak baru pengelolaan sampah nasional yang lebih modern, terintegrasi, dan berkelanjutan. Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan, perkiraan pembangunan PSEL itu memakan Waktu paling lama 1,5 tahun atau di akhir 2027. "Semoga bisa selesai tepat waktu," kata Gubernur Koster Ketika memberikan sambutan saat Groundbreaking Proyek PSEL di Denpasar.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Kendati demikian, Koster mengungkapkan pihak pengembang sempat menjanjikan proyek pembangunan PSEL ini bisa rampung lebih cepat, yakni selama 15 bulan. "Jadi, sekitar Oktober 2027 selesai dan mulai beroperasi Desember 2027," ucap Koster seraya meminta dukungan dari pemerintah pusat agar semua berjalan lancar dan sesuai tenggat.
Bagi Bali, pengelolaan sampah berkelanjutan menjadi fondasi daya saing daerah, melindungi ekosistem, kualitas hidup masyarakat, dan keberlangsungan pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi Pulau Dewata. "Kalau bisa tercapai, maka masalah sampah di Bali yang menjadi tantangan kepariwisataan Bali, bisa selesai tuntas di tangan Bapak Presiden Prabowo Subianto," kata Koster.
Koster menyampaikan, proses persiapan pembangunan sampai tahap groundbreaking di lahan yang sebelumnya milik PT Pelindo itu telah berjalan dengan baik. Penyediaan lahan dilakukan oleh Pemerintah Kota Denpasar, sedangkan proses pematangan lahan dibiayai oleh Pemerintah Kabupaten Badung dan menghabiskan dana sebesar Rp 35 miliar.
Proses pematangan berhasil lebih cepat sebelum target 30 Juni 2026. Sejumlah upacara ritual adat turut dilakukan untuk mempermudah proses pembangunan PSEL tersebut. "Memohon alam Ibu Pertiwi agar kami diberikan restu," ujar Wayan Koster. Setelah upacara adat, lokasi yang awalnya merupakan danau kecil sedalam 3 meter mengalami penyusutan air dan mengering dengan sendirinya sehingga pematangan lebih mudah dilakukan.
Untuk mempercepat proses pembangunan, Koster mengatakan akan melakukan pengawasan secara langsung. "Akan kami kunjungi setiap saat untuk memastikan pekerjaannya berjalan dengan baik," tuturnya.
Pada acara groundbreaking PSEL di Denpasar ini, hadir Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan, Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat, dan Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sekaligus CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani.
Aksi simbolik membuang sampah menandai Groundbreaking Proyek Pengolahan Sampah Menjadi Listrik (PSEL) di Denpasar, pada Rabu, 8 Juli 2026. Dok. Danantara Indonesia
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sekaligus CEO Danantara Rosan Perkasa Roeslani berharap proyek PSEL bisa rampung pada 2027, sehingga lebih cepat dari target awal, yakni 2028. Percepatan proyek dimungkinkan karena PT Weiming Nusantara Bali New Energy dipilih sebagai mitra strategis dinilai memiliki rekam jejak dan teknologi yang telah teruji.
Rosan menjelaskan, teknologi yang digunakan Weiming telah diterapkan di lebih dari 50 negara dan mampu mengolah berbagai jenis sampah, baik sampah baru maupun timbunan sampah lama. Dia juga sudah meninjau sejumlah fasilitas pengolahan sampah serupa di Cina, Jepang, dan beberapa negara lain. "Fasilitas tersebut dapat beroperasi tanpa menimbulkan bau maupun gangguan bagi masyarakat sekitar," katanya.
Dengan demikian, Rosan berharap ada perubahan persepsi masyarakat terhadap fasilitas pengolahan sampah yang selama ini identik dengan lingkungan kumuh dan berbau. Rosan menilai keberadaan PSEL di Denpasar menjadi solusi untuk mengatasi persoalan sampah yang selama ini membebani Bali. Fasilitas tersebut tidak hanya mengurangi volume sampah secara signifikan, tetapi juga memperbaiki aspek lingkungan, kesehatan, keselamatan, serta tata kelola pengelolaan sampah.
Sementara itu, Chief Investment Officer (CIO) Danantara Investment Management Pandu Sjahrir menuturkan, PSEL Denpasar Raya kini memasuki fase krusial menuju tahap konstruksi setelah proses pemilihan mitra rampung. Investasi ini, kata dia, bernilai Rp 3 triliun dan diperkirakan menciptakan 1.200 lapangan kerja hijau, serta mengurangi kebutuhan lahan TPA sekitar 80 persen.
Fasilitas tersebut akan dibangun dengan mengacu pada standar lingkungan European Industrial Emissions Directive (EU IED). Selain dirancang untuk menyelesaikan persoalan sampah, PSEL Denpasar Raya juga mampu menghasilkan energi bersih. "Diproyeksikan dapat menekan emisi dari tempat pemrosesan akhir (TPA) hingga 80 persen dan mengurangi emisi karbon sekitar 640 ribu ton CO2 per tahun," katanya.
Tenaga listrik yang dihasilkan cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik sekitar 100 ribu rumah tangga di Bali. Adapun kapasitas pengolahan sampah mencapai lebih dari 500 ribu ton sampah per tahun atau setara lebih dari 40 persen total timbunan sampah di Bali. (*)















































