BRIN Kembangkan Sourdough Beras Segreng Handayani

1 week ago 13

PEREKAYASA Ahli Pertama Pusat Riset Teknologi dan Proses Pangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Dyah Ayu Puspitasari, mengungkap potensi beras merah segreng handayani dari Gunungkidul sebagai bahan dasar sourdough. Menurutnya, beras ini memiliki karakteristik unik karena tumbuh di lahan kering dan menantang, sehingga kaya akan pati, serat, serta senyawa bioaktif seperti fenolik, flavonoid, dan gamma-orizanol.

“Melalui proses fermentasi, senyawa-senyawa tersebut menjadi lebih mudah diserap tubuh atau bioavailabilitas meningkat. Melalui proses fermentasi tersebut akan dihasilkan senyawa aroma seperti 4-vinyl guaiacol yang memberikan karakter khas pada produk akhir,“ ujar Dyah melalui keterangan tertulis, Kamis, 9 April 2026. 

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Ia menambahkan, sourdough berbasis beras merah tidak hanya menawarkan rasa yang berbeda, tetapi juga nilai fungsional yang lebih baik, seperti lebih mudah dicerna dan membantu menjaga kestabilan gula darah.

Selain itu, Dyah mengatakan bahwa sourdough bukan sekadar roti, melainkan sebuah sistem fermentasi alami yang melibatkan interaksi kompleks antara ragi (yeast) dan bakteri asam laktat (BAL). “Proses fermentasi ini menghasilkan gas dan asam yang berperan dalam membentuk tekstur, rasa, serta meningkatkan daya simpan produk secara alami,” ujarnya. 

Dyah juga menjelaskan bahwa sourdough merupakan sebuah ekosistem mikroorganisme. “Bukan hanya soal bahan, tetapi bagaimana kehidupan mikroba berkembang dan berinteraksi dalam adonan,” ujarnya.

Berbeda dengan roti komersial yang menggunakan ragi instan dan proses cepat, sourdough mengandalkan fermentasi lambat. Proses ini memungkinkan terjadinya perubahan pada pati dan protein, sehingga menghasilkan cita rasa yang lebih kompleks, aroma khas, serta tekstur yang lebih kaya

Namun, menurutnya, pengembangan sourdough berbasis non-terigu juga menghadapi tantangan, terutama karena tidak adanya gluten yang berfungsi sebagai kerangka struktur roti. Hal ini membuat tekstur cenderung lebih padat dan lembab dibandingkan roti gandum. 

Dyah mengatakan fermentasi alami sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, seperti suhu, waktu, dan mikroflora lokal, sehingga konsistensi produk menjadi tantangan dalam skala produksi besar. Meski begitu, peluang pengembangannya tetap terbuka lebar. 

Ia menambahkan, inovasi ini juga membuka peluang ekonomi kreatif, mulai dari pengembangan usaha mikro, penyelenggaraan lokakarya berbasis desa, hingga integrasi dengan sektor pariwisata lokal. “Pangan lokal kita memiliki kekayaan rasa, tekstur, dan nilai gizi yang luar biasa. Melalui pendekatan fermentasi alami, kita tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga menghadirkan solusi pangan yang lebih sehat dan berkelanjutan,” kata dia. 

Melalui riset dan inovasi tersebut, BRIN berupaya menjembatani kearifan lokal dengan ilmu pengetahuan modern, guna memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 

Read Entire Article
Parenting |