Bupati Gunungkidul: Petik Laut Perwujudan Filosofi 'Memayu Hayuning Bawono'

1 week ago 49

INFO TEMPO – Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Sadeng kembali menggelar upacara adat Sedekah Laut atau Petik Laut pada Selasa, 7 Juli 2026. Upacara ini merupakan sebuah manifestasi syukur kolektif masyarakat nelayan terhadap melimpahnya berkah dari laut.

Di bawah terik matahari pesisir selatan, ribuan pasang mata tertuju pada gulungan ombak Samudra Hindia yang menjadi saksi bisu kembalinya sebuah tradisi agung. Acara ini bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan sebuah warisan budaya leluhur yang mengandung makna spiritual mendalam.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Ritual ini adalah perwujudan filosofi “Memayu Hayuning Bawono”, sebuah upaya manusia untuk menjaga keselarasan hubungan dengan Tuhan, sesama, dan alam semesta. “Budaya ini menegaskan bahwa kita adalah bangsa yang memiliki jati diri yang kuat,” kata Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih. 

Dalam kesempatan itu, Bupati Gunungkidul mengutip pesan proklamator Bung Karno tentang bangsa yang tahan uji dan ulet. Pesan ini ditujukan khusus bagi para nelayan kelompok Mino Rejo yang setiap harinya menghadapi tantangan besar di tengah samudra.

“Semoga dengan upacara Petik Laut ini, Gusti Yang Maha Agung senantiasa memberikan perlindungan, menjaga keselamatan para nelayan saat di laut, serta memberikan hasil panen ikan yang melimpah,” doa Bupati di hadapan para tamu undangan.

Pemerintah Daerah DIY pun memberikan perhatian khusus bagi kemajuan kawasan Sadeng. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan DIY, Heri Sulistiyo Hermawan, menyampaikan komitmennya untuk mengoptimalkan manfaat pelabuhan bagi masyarakat. 

Salah satu langkah nyata tahun ini adalah pelaksanaan pengerukan dan pendalaman alur pelabuhan agar aktivitas nelayan dapat berjalan lebih profesional dan lancar. Selain infrastruktur, pemerintah juga berfokus pada pemberdayaan dan peningkatan kapasitas kelembagaan nelayan.

Agus Sujoko, selaku Ketua Panitia Penyelenggara, mengatakan dalam tradisi ini tersimpan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas keselamatan, kesehatan, dan rezeki yang terus mengalir bagi para nelayan. “Digelar Pengajian Akbar Sebagai pengingat untuk terus meningkatkan iman dan ketakwaan,” kata dia. 

Ada pun rangkaian acara Sedekah Laut tahun ini dimulai dengan berbagai kegiatan sosial dan olahraga untuk mempererat persaudaraan antarwarga, seperti Turnamen Bola Voli Sadeng Cup III sebagai sarana sportivitas warga. “Terdapat juga Lomba Penjor dan Panggung Seni yang menampilkan nilai-nilai budaya lokal,” kata Agus.

Puncak acara pada 7 Juli ditandai dengan Kirab Budaya, pertunjukan tari Tayub, dan prosesi yang paling dinantikan, “Larung Sesaji” ke tengah samudra. 

Prosesi pelarungan sesaji, di mana jajaran pejabat daerah turut serta menuju tengah laut, mengiringi doa agar masyarakat pesisir senantiasa diberikan kemakmuran, ketentraman, dan dijauhkan dari segala marabahaya. Sebagai penutup acara, pagelaran Ringgit Wacucal (Wayang Kulit) diadakan pada malam harinya sebagai bentuk pelestarian seni Jawa yang adiluhung.

Keberhasilan acara besar ini berdiri di atas pilar gotong royong yang kuat. Agus Sujoko menuturkan total kebutuhan dana untuk penyelenggaraan mencapai kurang lebih Rp 276 juta. Dana tersebut dikumpulkan dari iuran nelayan, sumbangan pengusaha, pedagang, sponsor, serta dukungan dari Dana Keistimewaan DIY. (*)

Read Entire Article
Parenting |