El Nino Menguat, BMKG: Suasana Kering Mulai Lebih Dominan

1 week ago 17

PROSPEK cuaca Indonesia sepekan ke depan menunjukkan kecenderungan curah hujan yang relatif berkurang di sebagian besar wilayah. Penyebabnya, meluasnya musim kemarau dan kondisi El Nino di Samudra Pasifik yang masih terpantau bertahan. Menurut Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), indeks Nino 3.4 terkini bahkan terus menguat menjadi +1,24 atau telah tergolong El Nino moderat.

Dalam Potensi Hujan Indonesia Periode 7-13 Juli 2026 yang dibagikannya Senin, 6 Juli 2026, BMKG memprediksi sekitar 72,19 persen wilayah Indonesia berada pada kategori curah hujan rendah saat ini. "Suasana kering mulai lebih dominan, terutama di sebagian besar Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua."

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Disebutkan, indeks Nino 3.4 sebesar +1,24 dan indeks osilasi selatan Samudra Hindia sebesar -23,3 secara umum berkontribusi terhadap berkurangnya potensi curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. Sejalan dengan kondisi tersebut, sebanyak 48,9 persen wilayah Indonesia atau sebanyak 342 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim kemarau.

Hasil pemantauan BMKG juga menunjukkan adanya 329 titik pengamatan atau sekitar tujuh persen yang saat ini mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) kategori sangat panjang (31–60 hari). Selain itu, suhu udara maksimum pada periode 1–5 Juli 2026 masih tercatat lebih dari 35 derajat Celsius di sebagian wilayah Indonesia, antara lain di Sumatera Utara, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jawa Tengah, Banten, dan Sulawesi Tengah.

Perkembangan El Nino itu senada dengan yang disampaikan peneliti di Pusat Iklim dan Amosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Yulihastin. "Sejak April, Samudra Pasifik panas dan kian menguat per 5 Juli 2026 (sudah) capai 1,25 derajat Celsius," katanya seperti yang dikonfirmasi dari unggahannya di media sosial, Selasa 7 Juli 2026.

Sebagai pembanding, pada 21 Juni lalu, kenaikan suhu muka laut itu sebesar 1,1 derajat Celsius. "El Nino, sesuai prediksi, telah berubah dari fase lemah menjadi moderat," kata Erma kala itu. Banyak pemodelan iklim di dunia memperkirakan, El Nino tahun ini berpeluang terus tumbuh menjadi fase yang super atau anomali suhu muka lautnya mencapai +2,0 derajat.

Profesor riset bidang klimatologi dan cuaca ekstrem ini mengungkap fakta lain kalau El Nino 2026 memiliki pola penjalaran panas ekstrem di sub-permukaan yang mirip 1997 dan struktur spasial yang mirip dengan 2015. Dalam keterangan terbarunya, Erma mengungkapkan, "Di sisi barat (dekat Papua) lapisan bawah mulai mendingin. Menunjukkan dampak El Nino pun kian meluas di Indonesia."

Read Entire Article
Parenting |