Gen Z Jadi Generasi Paling Berani Nego Gaji, Kata Laporan JobStreet

2 hours ago 10

CANTIKA.COM, Jakarta - Generasi Z (kelahiran 1997–2012) tercatat sebagai kelompok usia yang paling berani menegosiasikan gaji di tempat kerja. Fakta ini terungkap dalam laporan eksklusif "Salary Pulse" yang dipaparkan oleh Jobstreet by SEEK.

Selain urusan cuan, Gen Z juga menempatkan kesejahteraan diri (well-being), keseimbangan hidup (work-life balance), dan hubungan yang sehat dengan rekan kerja sebagai indikator utama kepuasan kerja mereka.

Kontras Perilaku Gen Z dan Gen X Soal Gaji

Dalam pemaparan data tersebut, Acting Managing Director Jobstreet by SEEK, Wisnu Dharmawan, mengungkapkan sebuah anomali menarik. Hampir separuh atau sekitar 49 persen Gen Z merasa gaji mereka saat ini sudah layak. Namun, meski sudah merasa cukup, hal itu tidak menyurutkan keberanian mereka untuk meminta lebih, di mana 60 persen dari mereka tercatat aktif memulai diskusi soal kenaikan pendapatan.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan Gen X, di mana hanya 41 persen yang merasa gajinya layak, dan yang berani berinisiatif membahas urusan gaji justru lebih sedikit lagi, yakni di angka 37 persen.

"Hampir separuh dari Gen Z merasa gajinya sudah layak, tapi mereka berani menegosiasikan gaji mereka," kata Wisnu Dharmawan pada acara Media Briefing mengenai pemaparan data Laporan Eksklusif "Salary Pulse" di Jakarta pada Selasa, 23 Juni 2026 di Jakarta.

Alasan di Balik Keberanian Gen Z di Tengah Badai Pengangguran

Fenomena kelantangan Gen Z ini sempat memicu tanda tanya besar dari berbagai pihak. Pasalnya, jika menilik data Badan Pusat Statistik, Gen Z bersama sebagian milenial justru menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran tertinggi di Indonesia yang menyentuh angka 16 persen. Muncul pertanyaan, mengapa di tengah ketatnya persaingan lapangan kerja, generasi muda ini justru makin berani memasang tarif?

Menjawab paradoks tersebut, Wisnu Dharmawan menjelaskan bahwa kita harus memetakan Gen Z ke dalam dua kelompok besar, yaitu mereka yang masih mencari kerja dan mereka yang sudah berada di dunia kerja.

Bagi kelompok Gen Z yang sudah masuk ke dalam sistem dan memiliki pengalaman, mereka sadar betul bahwa mereka memiliki modal yang kuat di mata perusahaan.

"Kalau Gen Z yang sudah bekerja, karena punya pengalaman, jadi punya competitive advantage. Jadi experience-nya kan juga ada value-nya sehingga mungkin mereka memang berani untuk inisiatif diskusi," lanjut Wisnu Dharmawan menjelaskan hubungan antara ketatnya persaingan dengan tingginya keberanian mereka.

Pergeseran Makna Kebahagiaan di Tempat Kerja

Di sisi lain, pergeseran nilai dalam memandang karier juga memegang peran yang penting. Berdasarkan laporan Workplace Happiness Index dari lembaga yang sama, Gen Z menempatkan kesejahteraan diri, keseimbangan antara kehidupan dan pekerjaan atau work-life balance, serta hubungan yang sehat dengan rekan kerja sebagai faktor utama penentu kepuasan kerja mereka.

Pada akhirnya, bagi Gen Z, tempat kerja bukan lagi sekadar wadah untuk mencari nafkah secara monoton. Mereka menuntut lingkungan kerja sehari-hari yang mampu memberikan makna, menghargai ruang personal, dan menumbuhkan rasa memiliki. Ketika tuntutan itu berpadu dengan kompetensi yang mereka miliki, menegosiasikan gaji secara terbuka bukan lagi dianggap sebagai hal yang tabu, melainkan sebuah langkah profesional yang organik.

Pilihan Editor: 5 Cara Minta Naik Gaji ke Atasan, Utamakan Komunikasi secara Profesional dan Efektif

RAISA NAJMA HUMAIRA

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

Read Entire Article
Parenting |