CANTIKA.COM, Jakarta - Tema Hari Keluarga Nasional (Harganas) 2026, "Ayah Wajib Hadir", menjadi pengingat bahwa kehadiran ayah bukan hanya soal berada di rumah atau memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Kehadiran emosional seorang ayah juga berperan besar dalam membentuk rasa aman, harga diri, hingga kesehatan mental anak di masa depan.
Ketika kebutuhan emosional tersebut tidak terpenuhi, sebagian anak dapat mengalami father wound, yaitu luka batin akibat relasi yang tidak sehat dengan figur ayah. Luka ini bahkan bisa terbawa hingga dewasa dan memengaruhi cara seseorang membangun hubungan dengan pasangan maupun anak-anaknya kelak.
Namun, apakah semua konflik dengan ayah dapat disebut sebagai father wound? Dan apakah luka tersebut masih bisa dipulihkan? Psikolog Anisa Cahya Ningrum menjelaskan bahwa keduanya merupakan hal yang berbeda.
Tidak Semua Konflik dengan Ayah Berujung Father Wound
Menurut Anisa, perbedaan pendapat atau pertengkaran kecil antara ayah dan anak merupakan hal yang wajar terjadi dalam keluarga. Konflik seperti ini umumnya masih dapat diselesaikan melalui komunikasi dan kompromi sehingga tidak meninggalkan trauma psikologis.
Sebaliknya, father wound muncul ketika anak mengalami pengalaman yang melukai harga dirinya secara berulang dan konsisten. "Konflik biasa dengan ayah umumnya tidak menimbulkan trauma. Sementara father wound dirasakan anak sebagai pengalaman yang melukai harga dirinya sehingga meninggalkan jejak emosional di otak dan tubuh," jelas Anisa saat dihubungi Cantika, Minggu, 28 Juni 2026.
Ia menambahkan bahwa luka tersebut tidak muncul hanya karena satu peristiwa, melainkan akibat pengalaman yang terus berulang, misalnya terus-menerus diabaikan, diremehkan, tidak pernah diapresiasi, atau menjadi sasaran kekerasan verbal maupun emosional.
Memori itu kemudian tersimpan dan memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, hingga berperilaku ketika dewasa. "Dampaknya bukan hanya pada hubungan dengan ayah, tetapi juga mengganggu koneksi seseorang dengan dirinya sendiri serta keharmonisan hubungannya dengan orang lain," ujarnya.
Bisakah Ayah Memperbaiki Hubungan yang Sudah Terluka?
Kabar baiknya, menurut Anisa, hubungan yang sempat rusak masih memiliki peluang untuk diperbaiki selama ada kesadaran dari kedua belah pihak, terutama dari sosok ayah.
Langkah pertama yang paling penting adalah mengakui kesalahan yang pernah dilakukan. "Dalam ilmu perilaku selalu ada kesempatan untuk berubah. Ketika ayah menyadari bahwa ada perilaku yang keliru di masa lalu dan ingin memperbaikinya, itu sudah menjadi langkah awal yang sangat baik," katanya.
Anisa menyarankan agar ayah tidak sekadar meminta maaf secara umum, tetapi mengungkapkan penyesalan terhadap perilaku yang benar-benar pernah dilakukan.
Misalnya dengan mengatakan, "Maaf ya, Ayah selama ini tidak pernah menemanimu dan tidak peduli dengan perasaanmu. Itu adalah kesalahan terbesar Ayah." Kalimat seperti ini, menurutnya, menjadi bentuk validasi yang selama ini mungkin dinantikan anak.
Setelah itu, ayah perlu memberi ruang kepada anak untuk menyampaikan semua perasaan yang selama ini dipendam, tanpa menyela ataupun membela diri.
Apabila luka yang dialami cukup dalam, proses tersebut sebaiknya dilakukan bersama psikolog atau tenaga profesional agar komunikasi berjalan lebih aman dan tidak memunculkan trauma baru.
Father Wound Masih Bisa Dipulihkan
Anisa menegaskan bahwa father wound bukanlah kondisi yang harus dibawa seumur hidup. Proses pemulihan dapat dimulai ketika seseorang memiliki kemauan untuk berubah dan bersedia menghadapi luka yang selama ini dihindari.
"Luka itu bisa dipulihkan jika seseorang berniat menjalani perubahan. Langkah pertama adalah mau mengakui dan menerima bahwa dirinya memang terluka," jelasnya.
Dalam pendampingan psikologis, seseorang akan diajak mengenali pengalaman yang paling membekas, memahami emosi yang muncul, serta menerima bahwa pengalaman tersebut memang menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Menurut Anisa, proses penyembuhan akan sulit dilakukan apabila seseorang masih menyangkal atau menolak luka yang dimiliki. Setelah fase penerimaan, proses terapi dapat dilanjutkan dengan berbagai pendekatan, seperti pemaafan, re-parenting, maupun terapi trauma yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu.
Ilustrasi ayah dan anak. Pexels/Ron Lach
Dukungan Pasangan dan Keluarga Sangat Berarti
Pemulihan father wound juga membutuhkan lingkungan yang suportif. Anisa mengingatkan bahwa pasangan maupun keluarga tidak perlu memaksa seseorang untuk segera sembuh. Yang lebih dibutuhkan adalah ruang yang aman agar ia dapat mengungkapkan emosinya tanpa takut dihakimi.
"Perasaan yang mereka alami adalah valid. Dengarkan tanpa menyela, menyalahkan, atau merasa harus segera memberi solusi," ujarnya.
Ia juga menyarankan pasangan untuk memberikan semangat ketika proses pemulihan terasa berat, sekaligus mendampingi apabila diperlukan konsultasi dengan psikolog atau psikiater.
Menurut Anisa, tekanan agar seseorang cepat pulih justru berpotensi menambah luka baru. "Trauma yang terbentuk selama bertahun-tahun tentu membutuhkan waktu untuk diproses. Tidak ada pemulihan yang instan."
Makna "Ayah Wajib Hadir" Bukan Sekadar Ada di Rumah
Di momen Hari Keluarga Nasional, Anisa mengajak para ayah untuk memaknai kehadiran secara lebih utuh. Anak membutuhkan pelukan, perhatian, apresiasi, dan kata-kata yang membangun. Jika pekerjaan membuat ayah tidak selalu bisa hadir secara fisik, teknologi dapat dimanfaatkan agar komunikasi tetap terjalin.
Selain itu, anak juga belajar dari bagaimana ayah memperlakukan ibu dan anggota keluarga lainnya. Sikap saling menghormati yang diperlihatkan orang tua akan menjadi contoh bagi anak ketika kelak membangun keluarganya sendiri.
Yang tidak kalah penting, Anisa mengingatkan agar ayah lebih banyak memberikan tuntunan daripada tuntutan. "Jadilah tempat yang aman bagi anak ketika ia gagal. Berikan arahan, dengarkan mimpinya, apresiasi setiap usahanya, dan cintai anak tanpa syarat. Kehadiran seperti inilah yang akan menjadi bekal terbaik bagi kesehatan mentalnya di masa depan."
Pesan tersebut selaras dengan semangat Hari Keluarga Nasional 2026. Sebab, ayah yang benar-benar hadir bukan hanya hadir secara fisik, tetapi juga mampu menciptakan rasa aman, menjadi tempat pulang, dan meninggalkan kenangan yang menguatkan, bukan luka yang terus terbawa hingga dewasa.
ECKA PRAMITA
Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

















































