CANTIKA.COM, Jakarta - Dalam pernikahan, pertengkaran dan konflik dengan pasangan adalah hal yang wajar. Bertentangan dengan apa yang kita pikirkan, konflik sebenarnya sehat karena membantu kita lebih memahami perspektif pasangan. Namun, konflik hanya sehat jika ditangani dengan cara yang sehat.
Pelatih pasangan Julia Woods membagikan beberapa kiat tentang cara menyelesaikan konflik dengan pasangan kamu
1. Mengakui Ada Konflik
Banyak pasangan justru terjebak pada fase menyangkal. Menganggap semuanya baik-baik saja, menunda pembicaraan, atau berharap masalah akan hilang dengan sendirinya. Padahal, konflik yang diabaikan cenderung menumpuk dan meledak di kemudian hari.
Mengakui bahwa ada yang tidak beres bukan berarti hubungan sedang gagal. Justru sebaliknya, itu tanda kedewasaan emosional. Dengan menyadari bahwa ada luka, ketidaknyamanan, atau perbedaan yang perlu dibahas, kamu dan pasangan sedang membuka pintu untuk perbaikan, bukan perpisahan.
2. Bersikap Jujur
Kejujuran dalam konflik bukan tentang menyalahkan, melainkan tentang keberanian untuk menggali akar masalah. Terkadang, yang terlihat di permukaan hanyalah gejala emosi marah, kecewa, atau kesal. Namun di balik itu, bisa jadi ada rasa tidak dihargai, tidak didengar, atau merasa sendirian.
Bersikap jujur berarti mau mengatakan apa yang benar-benar dirasakan tanpa drama berlebihan atau manipulasi emosi. Ini juga berarti jujur pada diri sendiri: apakah reaksi kita proporsional, atau ada luka lama yang ikut terbawa.
3. Tanggung Jawab
Dalam konflik, mudah sekali menunjuk jari. Namun hubungan bukan tentang mencari siapa yang paling salah, melainkan memahami bagaimana masing-masing berkontribusi pada situasi tersebut.
Nada bicara yang meninggi, kata-kata yang menyakitkan, atau sikap defensif adalah bagian dari tanggung jawab pribadi. Mengakui kesalahan tidak membuat kita kalah, justru memperlihatkan kedewasaan. Saat satu pihak berani mengambil tanggung jawab, biasanya energi konflik ikut melunak.
4. Fleksibel dalam Perspektif
Sering kali kita terlalu fokus pada “menang” dalam argumen, padahal yang lebih penting adalah “memahami”. Bersikap fleksibel berarti memberi ruang untuk melihat situasi dari sudut pandang pasangan.
Apa yang ia rasakan? Mengapa hal tersebut penting baginya? Dengan memperluas perspektif, kita tidak lagi melihat konflik sebagai ancaman, tetapi sebagai kesempatan untuk tumbuh bersama. Fleksibilitas juga membantu kita menentukan tujuan akhir: apakah ingin membuktikan diri benar, atau ingin memperbaiki hubungan?
5. Komunikasi Terbuka
Setelah emosi mereda, komunikasi terbuka menjadi kunci. Bicarakan kebutuhan, batasan, dan kompromi secara jujur tanpa nada menyerang. Gunakan kalimat “aku merasa” dibanding “kamu selalu”.
Hubungan yang sehat bukan berarti tanpa konflik, tetapi tentang bagaimana dua orang memilih untuk menyelesaikannya. Dengan percakapan yang terbuka, kamu dan pasangan bisa menemukan titik tengahbukan karena terpaksa, tetapi karena saling menghargai.
Pada akhirnya, konflik yang dikelola dengan baik bisa memperkuat hubungan. Bukan karena pertengkarannya menyenangkan, tetapi karena setelahnya, ada pemahaman yang lebih dalam dan koneksi yang lebih kuat.
HINDUSTAN TIMES
Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.
















































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5357081/original/011599400_1758518426-expressive-young-girl-posing.jpg)